Persimpangan

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Lalu hari ini. Entah kenapa kamu tiba – tiba bilang kalau kita salah jalan. Kita terlalu cepat memulai sesuatu. Tergesa padahal harusnya tak usah terburu – buru. “Aku sudah tak cinta…” Lirihmu. Lalu memalingkan wajah menyembunyikan genangan yang hampir saja menetes. Hingga tak sanggup berkata. Tak ingin kalah ketika kamu kuatkan hati saat bilang ingin meninggalkanku. Sementara aku hanya beku. Aliran darah bagai berhenti. Dingin. Seketika aku tersadar. Mungkin ini saatnya untuk melepaskan. Atau kehilangan. Kamu tahu apa bedanya melepaskan dan kehilangan? Melepaskan adalah ketika kamu bisa memandang tegak orang yang sangat kamu cintai tapi ia malah ingin pergi darimu. Sedang kehilangan adalah saat kamu hanya mampu menunduk sembari terus bertanya kenapa orang yang kamu cintai sanggup meninggalkanmu. Aku. Aku kini berada di ambang batas keduanya.

 

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Lalu aku ingat sebuah bangunan tua. Tempat yang telah usang termakan usia. Bahkan dindingnya sudah berubah warna. Mengelupas. Semua adalah bukti bahwa hingga kini ia masih sanggup bertahan. Bertahan dari serangan apapun itu. Dari dingin malam bahkan terik siang. Lalu kamu berkata. “Tapi kita bukan bangunan tua yang bahkan tak bernyawa….”. Kita punya hidup, katamu. Jika saja bangunan tua tak bernyawa itu bisa bertahan dari segala apapun yang hendak menghancurkannya. Mengapa kita tak bisa melakukan hal yang sama? Kamu diam.

 

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Dengan menempuh separuh perjalanan. Lalu kita temui persimpangan. Tempat dimana aku ingin ke kanan dan kamu ingin ke sisi lainnya. Bukan berarti kita salah jalan. Lalu kerikil – kerikil yang kita temui itu kamu anggap hambatan besar. Memutarbalikkan fakta bahwa kita pernah saling mencinta jauh sebelum itu. Tapi kini bagai tak berbekas.

 

…maka percuma selama ini aku menjejeri langkahmu, pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Kau tetap saja meninggalkan, dan menganggap kita salah jalan.

Advertisements

Racun Cinta..

Minggu siang..

Perempuan sintal itu menjerit-jerit di hadapanku. Aku hanya memandangnya tanpa belas kasihan. Suaranya tak bisa terdengar jelas. Sumpalan di mulutnya meredam suaranya. Ia mengakui semuanya. Benda-benda bernoda tanah menjadi saksinya. Ia mengakui perbuatannya.. mengubur benda pribadi suamiku untuk memikatnya..

 

Apakah aku harus memaafkannya?

Jumat malam, dua hari yang lalu…

Cerita Madhu

Ponsel itu berdering.. terus berdering.. dan aku hanya membiarkannya berbunyi tanpa berniat mengangkatnya.. Pada deringnya yang ke 5 ponsel itu berhenti berbunyi. Pria di sampingku hanya terdiam. Sama sepertiku, ia pun tak berniat mengangkat ponsel itu, padahal ponsel itu miliknya. Kuraih ponsel dalam genggaman priaku. Tanpa perlawanan. Dan tepat seperti dugaanku, dari perempuan itu.

Sorry sayang, malam ini dia milikku..

Kudekap erat kepala priaku penuh kemenangan. Sebuah botol mungil yang sebelumnya berisi serbuk putih itu bekerja sempurna. Dengan bantuan serbuk putihnya malam ini aku bisa memilikinya.. hanya untukku..

***

 

Sabtu pagi..

Cerita Maia

Kucoba menelpon kembali nomor itu. Nomor suamiku. Entah mengapa perasaanku tidak tenang. Mau tak mau pikiranku kembali diracuni oleh kata-kata sampah berbalut desah dari bibir merah sewarna darah.

“aku melihat suamimu dengan perempuan lain..”

 

Aaahhh..! Mengapa pula ponselnya harus mati..? Membuat kepalaku kini penuh bisikan-bisikan memuakkan itu… Kini, aku mulai terpengaruh kata-kata sampahnya..

 

Suamiku pulang, wajahnya berantakan. Mungkin dia lembur semalaman. Tapi sebuah noda gincu di kerah bajunya? Itu bukan pertanda baik. Kata-kata penuh desah itu memenuhi kepalaku lagi. Dan untuk pertama kalinya, aku meragukan kesetiaan suamiku..

 

Sabtu malam..

Suamiku berdandan.. harumnya memenuhi seluruh ruangan. Ada apa gerangan?

“aku pergi, bertemu klien..”

 

Dan aku hanya terdiam. Hampir tidak mempercayai pandanganku. Suamiku bertemu klien dengan dandanan bak anak muda sedang kasmaran. Tak semudah itu sayang.. Dan aku mengikutinya…

 

Ia menemui perempuan itu, perempuan sintal dengan baju kekurangan bahan. Lipstick merahnya menyala. Suara desahannya terdengar di udara. Kamu memang setan penggoda..! Wanita penggoda itu tak lain ternyata kamu..!

 

Tak ada kata ampun bagimu.. seharusnya kamu berpikir seribu kali sebelum membuat masalah denganku!

 

Minggu pagi.. hari ini..

Pria muda itu menunjukkan sebuah bangunan tua… Sebuah gudang kosong tak berpenghuni padaku… Seorang perempuan berbaju minim yang menutupi badan sintalnya terduduk tak berdaya dengan tangan diikat di belakang punggungnya. Wajahnya ketakutan. Ia menjerit keras saat melihatku. Namun teriakannya tak akan terdengar siapaun… Kuacungkan sebuah benda berwarna putih ke hadapannya dan menanyakan sebuah pertanyaan padanya. Ia mengakui semuanya..

 

Apakah aku harus memaafkannya?

 

Pukul 12.05. aku menyodorkan sebuah botol kecil berisi cairan merah ke hadapannya. Kuacungkan padanya.. kupaksa ia meneguknya.. Ia menolaknya.. lalu menjerit-jerit dengan air mata bercucuran. Aku meminta pria muda itu menolongku.. Membuat mulutnya tetap terbuka dan kutegukkan cairan merah itu ke dalam mulutnya. Ia jatuh tersungkur tak berdaya..

 

Aku meninggalkannya dengan sisa amarah. Jangan pernah bermain-main denganku.. kalau kau tak mau berakhir dengan cara seperti ini..!

 

Sedetik kemudian, perempuan berbadan sintal itu terduduk. Lalu mulai tertawa-tawa sendiri.. Ia menertawai semua yang ada di dekatnya. Setelah tak lagi dirasa membahayakan.. Kubiarkan pria muda itu melepaskannya..

 

Mulai saat ini, racun cintamu akan berhenti berfungsi, kamu tak bisa mengganggu kami lagi….

 

Meninggalkan dan ditinggalkan

Siang ini melirik status chatnya di jejaring sosial facebook, off.

Lalu aku beralih untuk melihat bagaimana status yahoo messangernya, bussy.

Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat untuknya, kangen. Tak ada balasan. Mungkin benar ia sedang sibuk, pikirku. Tapi pikiran-pikiran lain pun tak kalah menguasai. Entah kenapa aku bisa setakut ini jika benar ia sedang menghindariku.

Pernah berkali-kali, meskipun tak langsung terucap dari bibirnya, ia menggambarkan bahwa akulah wanita yang selama ini dicarinya. Wanita yang senang berceloteh katanya. Wanita yang meledak-ledak. Penuh dengan kejutan. Wanita yang mampu memegang kendali dalam segala situasi. Dan dia menikmatinya.

Hingga gelap hampir mengganti senja kabarnya tak kunjung kudengar. Ah, semoga setiap senja datang dia akan semakin teringat padaku. Dan bukankah senja itu yang selalu menyatukan kami?

Sudah satu minggu sejak pertemuan terakhir dengannya malam itu. Seperti biasa, diawal pertemuan ia selalu menyodorkan sebatang cokelat kesukaanku. Aku selalu tersenyum dibuatnya. Tak peduli kala itu bahkan aku tengah lelah luar biasa. Tak ingat akan beban pekerjaan yang menungguku keesokan hari. Jika tengah bersamanya, aku seperti mampu bercerita lebih lama dari biasanya. Dengan dia aku tak pernah takut dibilang wanita cerewet. Hey, bukankah memang itu salah satu hal yang dia sukai dariku? Aku yang gemar bercerita.
Sudah tiga tahun. Tepatnya, sejak aku memutuskan untuk lebih jauh mengenalnya.
Aku yang bahkan kala itu telah mempunyai seorang kekasih. Mapan. Tampan. Dan dia yang mengaku masih sendiri, tak pernah keberatan mengetahui statusku yang sebenarnya membuat hubungan kami tak seimbang. Tak adil. Tapi tetap menarik.

Sudah tiga tahun bahkan hasratku padanya masih sama seperti dulu. Tak pernah redup malah semakin menjadi.

***

Ini hari kedelapan ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi yang sangat kukenal. Satu pesan masuk, darinya.

“Bisa ketemu nanti malam di tempat biasa?”

Dan senyumku mengembang.

“Bisa”

Aku memencet tombol kirim.

Tempat yang ia maksud adalah sebuah kafe tempat pertama kali kami bertemu. Kala itu aku sedang sendirian menikmati segelas orange juice yang hanya tersisa setengah. Sementara dia, dari meja sebelahku, meskipun aku tak menatap langsung, aku tahu ia sedang mencuri pandang kearahku beberapa kali. Sambil sesekali membetulkan posisi duduk. Lalu entah bagaimana saat itu ia datang menghampiri, yang akhirnya membuat kami tertahan berada di tempat itu berjam-jam lebih lama dari seharusnya.

Malam ini aku melihatnya duduk ditemani secangkir cappuccino kesukaannya. Sekilas aku melihat sesuatu tak biasa dari tatapan pria ketika melihat aku duduk berhadapan dengannya.

“Hey kemana saja?” Aku membuka pembicaraan.

“Maaf pekerjaan menggila, aku tak sempat mengabarimu….”

Ada yang salah.

“Oh…”

“Kamu baca pesan dariku seminggu yang lalu?”

“Iya…”

Aku tahu ada yang salah.

Lalu tiba-tiba menyodorkan sesuatu. Berdiri. Melangkah. Meninggalkanku.

Apa-apaan ini, pikirku.

Sebuah undangan pernikahan, aku berbisik pada diriku sendiri.

Sekuat apakah aku mampu menahanmu disini? Kelak kau akan tahu bahwa aku tak pernah seberani itu untuk meninggalkan priaku sekarang….lalu kau memilih untuk terlebih dahulu meninggalkanku…adil, katamu.

Kesalahan yang manis: Sebuah Keputusan

Dan perlahan, seperti tak direncana, aku mendengar ada sesuatu yang sepertinya retak dan berada sangat dekat dengan diriku. Hatiku.

Aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri ketika aku merebahkan diri di kamarku lagi, sepulang dari kampus siang ini. Bayangan pak dosen idolaku sedang berjalan bersama si gadis cantik itu menari-menari di kepalaku. Idola. Ah.. benarkah ia hanya idolaku? Ataukah sebenarnya aku sudah jatuh hati padanya..?

‘Ayolah Diana.. Apa yang sebenarnya engkau rasakan? Bahkan kepadaku pun engkau tak mau jujur?’ batinku seakan berbisik.. Dan untuk pertama kalinya aku baru menyadari. Ternyata, aku bukan hanya menyukainya, tapi aku sudah mulai mencintainya..

***

Cafe Green, hari ini..

“Jadi, akhirnya engkau putuskan pulang lagi ke Yogyakarta? Setelah sepuluh tahun yang lalu engkau lari dari perjodohan kita?”suara pria berkaca mata oval itu terdengar datar. Tak ada emosi kemarahan dalam kalimatnya. Semuanya terdengar wajar. Perempuan berambut hitam legam itu hanya tersenyum, tak berkata apapun, sepertinya sedang mengatur kalimatnya untuk memberikan jawaban terbaik pada pria di hadapannya.

“Begitulah.. tapi toh kepergianku tidak menyisakan luka di hatimu khan? Jangan bilang kau menangis tujuh hari tujuh malam karena aku meninggalkanmu…..” Mayang mencoba berkelakar.

“Kau banyak berubah Mayang.. Hampir saja aku tidak mengenalimu.. sepuluh tahun menghilang dan sekarang kau datang dengan penuh kejutan..”

“Hahaha… Bisa saja kau ini..  Jangan bilang kali ini kau jatuh cinta padaku, Lutfi……!” dan keduanya pun tertawa bersama.

***

Sepuluh tahun yang lalu..

Perempuan berambut sebahu itu masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga. Ia sangat bahagia mendengar kabar bahwa ternyata segala permohonannya pada Sang Pemilik Hidup akhirnya terjawab. Betapa ia ingin berteriak untuk meluapkan perasaannya setelah mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan sejak kecil oleh kedua orang tua mereka.

“Kami telah menjodohkanmu dengan Lutfi Hidayat, putra sahabat ayahmu.. Ya Mayang, Lutfi yang juga sahabatmu itu..”

Begitu kalimat yang diucapkan sang bunda kepadanya. Dengan senyum yang tak bisa lepas dari bibir mungilnya ia berjalan menuju rumah Lutfi, berharap Lutfi akan menerima perjodohan itu dengan perasaan yang sama seperti dirinya. Baru saja ia hendak melangkah masuk pekarangan rumah megah itu, terdengar suara dari dalam rumah.

“….mana mungkin saya menikahi Mayang…? Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri.. Saya tidak pernah mencintainya….”


..dan senyum itu perlahan menghilang dari wajahnya. Tak perlu berpikir lama baginya untuk memutuskan pergi meninggalkan Yogyakarta dan meneruskan kuliahnya di kota Pahlawan. Keputusan penuh emosi yang diambilnya untuk menghindari kekecewaan yang lebih besar karena penolakan Lutfi atas cinta yang ditawarkannya.

***

Cafe Green, hari ini..

“Ada seseorang yang spesialkah di hatimu May?” tanya Lutfi.

“Dulu sempat ada. Dan aku menyerah ketika menyadari bahwa aku tak pernah ada di hatinya… Di sisi lain, ada yang mencintaiku, tapi aku belum memutuskan.. masih ada yang harus kuselesaikan… dan… bagaimana denganmu? Ada yang kau cintai..?”

“aku…? entahlah… mungkin.. haha..” Lutfi tergelak, berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan yang mulai terasa canggung.

“Hey… kalau kita masih sama-sama sendiri, apa kita lanjutkan saja perjodohan itu?” kelakar Mayang. Namun kali ini Lutfi tidak ikut tertawa, “Jika saja kau datang beberapa waktu lebih cepat, mungkin aku akan mengiyakan ajakanmu itu, Mayang… Tapi kali ini, aku tak bisa.. Ada senyum manis yang tak pernah hilang dari benakku, ada perasaan indah yang mulai bersemi.. ada sebuah nama  yang selalu terngiang dalam ingatanku..” Lutfi berkata pelan dalam hati.

“Lutfi..?.. Lutfi? Kau diam saja.. Apa karena ucapanku? Itu hanya bercanda…! Jangan kau pikirkan..” Mayang berkata untuk mencairkan suasana..

Lutfi tersenyum, mengangkat cangkirnya untuk meneguk kopi hitamnya, yang ternyata habis.. Mata coklatnya menyapu ruangan cafe, mencari seorang waitress untuk mengisi kembali cangkir kopinya yang tak bersisa. Selama sepersekian detik, mata coklat itu menangkap bayangan yang lebih menarik, gadis di sudut ruangan dengan novel Perahu Kertas di tangan kirinya. Baru saja ia hendak berdiri menghampirinya, gadis itu berbalik dan beranjak pergi. Lutfi mengurungkan niat memanggilnya karena sang gadis memegang handphone di tangan kanan, berbicara dengan seseorang di seberang sana. Entah siapa. Mayang mengikuti arah pandangannya. Lalu menatap Lutfi yang masih terdiam.

“Diakah orangnya?” tanyanya.

“Maksudmu?”

“Ayolah Lutfi.. kejar dia. Aku bisa melihatnya dari wajahmu. Kalau memang dia yang terbaik, apalagi yang kau tunggu..? Pergilah..! Hampiri ia.. Tak usah pedulikan aku.. Aku masih ingin di sini, menghabiskan sisa coklat panasku sesaat lagi….”

Mata coklat itu berbinar, senyum terkembang di wajahnya. Ia menarik jaketnya dan menyambar handphone miliknya di atas meja.. Lutfi menatap wajah Mayang,  tersenyum sekilas padanya sebelum akhirnya membalikkan tubuh mencari seraut wajah yang telah mencuri hatinya. Wajah yang selalu merona merah ketika berhadapan dengannya, bahkan sejak pertama kali ia melihatnya duduk di sudut kanan ruang kelas dengan baju berwarna merah. Warna yang serasi dengan rona merah yang menghiasi pipinya saat ia memanggil gadis itu. Gadis yang salah masuk kelas. Gadis yang membuatnya betah berlama-lama di cafe ini berharap bisa berjumpa dengannya, hanya untuk menatapnya.  Gadis yang membuatnya mulai menyukai kopi, meskipun ia tak pernah menyukai kopi sebelumnya.
Dan ia masih saja bisa tersenyum, membayangkan ekspresi wajahnya yang lucu, matanya yang bulat, juga lesung pipi di pipinya. Ia selalu bisa tersenyum ketika mengingat tentangnya. Tentang seorang Diana..

“Hey Lutfi…!”

“Ya..?”

“semoga berhasil..”

Mayang menatapnya berjalan menjauh, berusaha tetap menjaga pandangannya hingga tubuh tegap itu berbelok di ujung jalan lalu menghilang dari jangkauan matanya. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma coklat panas dalam genggamannya lalu meneguknya perlahan. Handphone-nya berbunyi. Tak perlu menunggu lama ia mengangkatnya dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.

“Ya… aku pulang malam ini.. Jangan lupa jemput aku ya..?  Tentu saja aku merindukanmu…. Tapi aku bohong…..! Hahaha… Iya.. sampai nanti….”

Baru saja ia akan menutup teleponnya, ia mengucapkan kalimat yang sesaat sebelumnya sempat tertunda….

“Oh ya, An…. tentang permintaanmu itu….

..YA.., aku bersedia.. :)”

Klik, Mayang mengakhiri teleponnya. Dua menit, delapan belas detik. Telepon diakhiri, telepon dari Andri Prasetyo, tunangannya.

***

Kesalahan yang manis: Retakan Senja

…Baru kusadari, gadis cantik itu terlihat serasi berjalan disampingnya…sedangkan aku?

Berkali kali aku sudah mengingatkan diriku sendiri, sudahlah…tak usah berharap terlalu banyak pada pria yang bahkan kau tak mengetahui banyak hal mengenai dirinya, selain dia yang seorang dosen, selain dia yang sama sama menyukai novel yang aku baca, selain dia yang sudah mempunyai seorang gadis cantik disampingnya. Gadis cantik….aku menghela napas ketika menyebutkan kata itu. Betapa kala itu jantungku seakan berhenti berfungsi ketika melihat mereka berjalan menjauh meninggalkanku. Betapa mungkin aku tak akan terlalu kecewa seperti ini jika saja dari awal aku bisa memegang kendali atas diriku sendiri. Sudahlah…

Beberapa kali dalam seminggu, setiap sore biasanya aku selalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah café yang terletak tak jauh dari kampusku. Dengan berjalan kaki beberapa meter saja aku sudah bisa menenggelamkan diri berlama lama sambil menikmati secangkir cappuccino kesukaanku. Tempat yang sangat nyaman. Aku bisa melihat suasana sore yang menyenangkan. Kadang terlihat beberapa orang yang melewati café dan mereka berpasangan. Berpegangan tangan. Sungguh aku menikmati kemesraan yang mereka tunjukkan.

Secangkir cappuccino dan novel yang berteriak minta segera diselesaikan untuk dibaca, biasanya adalah perpaduan yang membuatku mampu berkonsentrasi penuh jika dua benda itu sudah ada dihadapanku. Tapi kali ini berbeda, entah aku masih saja memikirkan mengenai gadis kemarin itu. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Dia mungkin sahabat pak dosen, mungkin saudaranya juga karena mereka terlihat begitu dekat, aku menjadi sedikit tenang jika mengingat kemungkinan itu. Tapi…tentu saja dia juga bisa sangat mungkin adalah kekasih pak dosen. Atau tunangannya? Pikiran pikiran seperti itulah yang membuat aku merasakan sakit pada sebagian kecil hatiku.

Aku berdiri dari tempatku sekarang. Berpikir tak ada gunanya aku berlama lama berada di café ini selain hanya diam memandangi cangkir dan novel yang tiba tiba menjadi benda paling tidak bersahabat bagiku.

Beberapa langkah menuju pintu keluar, setelah membayar minumanku tadi, langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk di pojok sebelah kanan café. Ya..sosok itu. Sosok yang begitu aku kenal. Sosok Pak dosen. Ah, kenapa harus bertemu dia segala sih? Aku mengumnpat dalam hati. Mudah mudahan saja kali ini dia tak melihatku. Lanjutku masih dalam hati.

Hingga ketika aku hendak melangkahkan kaki lagi, tiba tiba sebuah suara terdengar memanggilku.

“Diana….”

Deg. Seketika itu lagi lagi jantungku seakan berdegup seribu kali lebih kencang dari biasanya. Tak mungkin aku terus saja keluar tanpa menghiraukan suara tadi. Maka aku menoleh. Dan kulihat ia sedang berjalan menghampiriku.

“Kamu dari tadi disini? Kok saya ga ngeliat kamu ya…” Ujarnya ramah.

“Iya pak. Sudah dari satu jam yang lalu.”

“Oh gitu. Saya masih mau disini sebentar lagi, kalau kamu tidak sedang buru buru, mungkin kita bisa duduk sama sama?”

Hah. Duduk berdua di café ini. Iya. Hanya berdua dengannya? Aku merasa mau pingsan. Aku tak bisa menjawab ajakannya. Aku hanya terlihat mematung tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kenapa Diana? Ada yang salah?”

“Ah iya pak, Bukan. Bukannya mau menolak. Tapi saya….saya kebetulan sudah ada janji dengan teman saya. Dia sudah menunggu saya. Maaf pak.” Yah aku melewatkan kesempatan bagus yang mungkin hanya akan datang sekali dalam hidupku.

“Oh iya tidak apa apa” Dia tersenyum lalu kemudian kudengar ponselnya berdering memberitahukan ada panggilan masuk yang harus segera dijawabnya. Ketika itu pula aku berpamitan. Dan aku melihatnya membalikan badan. Melangkahkan kaki ke meja tempat semula dia duduk di pojok kanan café ini. Sayup kudengar suaranya ketika sedang berbicara dengan seseorang di ujung telephone sana

.“Iya, sebentar lagi aku pasti sampai kesana.”

Entahlah, aku begitu yakin kalo sang penelephone tadi adalah gadis yang sama, yang juga bersamanya kemarin. Dan perlahan, seperti tak direncana, aku mendengar ada sesuatu yang sepertinya retak dan berada sangat dekat dengan diriku. Hatiku.

Kesalahan yang manis: Hari Bersamanya..

“…Karena segala sesuatu berada dalam garis takdir. Dan kita akan bertemu, hanya jika garis kita kelak bersinggungan.”

***

Aku sedang membolak-balik novel dalam genggamanku tanpa bisa berkonsentrasi penuh pada apa yang aku baca. Pikiranku melayang.. membayangkan wajah manis dengan kacamata yang beberapa hari yang lalu menyapaku saat sedang membaca novel yang sama. Ya, si pria manis.. dosen Cognitive Behavioral Therapy.. Hei.. aku bahkan bisa mengingat dengan jelas nama mata kuliahnya! Yang bahkan sebelumnya aku ngga tahu ada mata kuliah tersebut di kampusku.. 😀

Mungkin terdengar sinting.. tapi sempat terlintas pikiran konyol untuk dengan sengaja mengikuti kuliahnya.. Ya, kali ini aku ingin dengan sengaja masuk kelasnya lagi hanya untuk bisa melihatnya. Dengan begitu aku tak perlu khawatir terlihat aneh dan tak juga harus pusing memikirkan banyak alasan jikalau aku memandangnya dalam waktu lama.. Bayangkan.. 2 sks penuh.. melihat si manis itu berbicara di hadapanku dengan sepuasnya! 😀

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan kekonyolan yang mungkin terjadi saat aku ketahuan.. Dalam benakku tergambar jelas pembicaraan yang mungkin terjadi..

“Lho.. kamu ngga ikut kuliah saya khan? Ini untuk semester 6.. kamu baru semester 4.. Iya khan Diana?”

“Eh.. iya pak.. Bapak tahu nama saya?” pertanyaan bodoh, tentu saja dia ingat.. khan kami pernah bertemu di kantin? Dan ia dengan jelas menyebutkan namaku!

“Atau jangan-jangan kamu salah masuk kelas lagi??”

Dan aku pun menjawab.. “emm.. sebenarnya.. nganu.. saya.. saya.. saya pengen ketemu bapak..” 😛

GUBRAKK…

Mungkin seisi kelas akan langsung jatuh dari kursinya atau si pak dosen yang pingsan.. Hey.. tapi aku justru ingin tahu bagaimana reaksinya..! Dan aku masih saja tertawa sendiri ketika aku menyadari seseorang sudah duduk di hadapanku menikmati indahnya wajahku.. PLAKK!! :mrgreen:. Sepertinya ia terheran-heran dengan kesintinganku tertawa sendiri.. 😀

Lutfi.. si ganteng berkacamata oval..

Ia menyunggingkan senyum.. Aku menoleh ke sisi kiri dan kananku.. Dan ya.. keputusan bodoh karena tak ada satupun bangku di kiri dan kananku.. :P. Tiba-tiba aku merasakan wajahku panas seketika.. Entah bagaimana rona wajahku saat ini, pasti tak jauh beda dengan kepiting rebus.. (benarkah kepiting rebus warnanya merah? :D).

Mati-matian aku menahan debar jantungku yang terasa semakin keras. Dan semakin lama aku merasa oksigen di sekelilingku semakin menipis.. Atau ini saatnya aku pingsan saja? 😛

“Diana..?”

Ouch.. ia memanggilku.. setelah aku termenung cukup lama kurasa.. Entah apa yang ada di pikirannya..

“Eh.. iya pak..?” tanyaku seakan baru saja sadar dari pingsan..

“Ada yang begitu lucu sampai kamu tertawa sendirian begitu?” ia tersenyum padaku..

“eh.. ini pak.. cerita di novel ini..” secepat kilat aku mengarang indah.. Lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan..

“Bapak ngga ada kelas?” ouch.. aku baru sadar bahwa pertanyaanku ini amat sangat tidak sopan..

“Belum, baru nanti siang.. kamu ada kelas?” tanyanya padaku..

“Ngga pak.. Cuma ada satu mata kuliah.. tapi baru saja dibatalkan, dosennya sakit..” jawabku..

“..dan kamu ngga pulang?” akupun terdiam mencari jawaban yang tepat.. Tapi kurasa ia pasti bisa melihat kalo aku tidak jujur dan kukatakan saja seadanya.. “belum pak.. sebentar lagi..”

Tanpa kuduga sebelumnya, ia kembali berkata “atau mau ikut kelas saya nanti siang?” tawarnya..

Dan aku tersenyum senang.. “Beneran, pak? Boleh?” dan aku mengangguk menyetujuinya..

***

Entah mimpi apa aku semalam, dan kali ini aku benar-benar berada di kelas ini.. Bagaikan mimpi yang terwujud, aku bahagia sekali hingga tak bisa menepiskan senyum yang tersungging di bibirku.. Ya, akhirnya aku bisa memandang wajahnya tanpa harus terlihat aneh selama 2 sks penuh..

Aku baru saja hendak melangkahkan kaki mendekatinya untuk berterima kasih karena diperbolehkan mengikuti kelasnya, ketika sesaat setelah ia menyudahi kuliahnya kulihat ia mengangkat telepon genggamnya dan berjalan terburu-buru keluar kelas.

Aku menatapnya dari tempatku berdiri, lalu berjalan tergesa berusaha untuk tetap menjaga pandanganku padanya.. dan sesaat kemudian langkahku terhenti.. Aku berharap semuanya hanya mimpi saat kulihat ia tersenyum ke arah seorang perempuan cantik tinggi semampai dan tak bisa melepaskan pandanganku saat keduanya berjalan beriringan keluar gerbang kampus..

Aku hanya bisa terdiam mematung selama sepersekian detik. Saat aku melihat keduanya berjalan dan tertawa bersama, baru kusadari, gadis cantik itu terlihat serasi berjalan di sampingnya.. sedangkan aku?

Siapalah aku ini..?


..sesaat kemudian hujan pun turun seakan mewakili perasaan yang kurasakan saat ini..

Kesalahan yang manis : Garis Takdir

“Hey, suka baca itu juga?”

Sebuah suara tiba tiba mengagetkanku. Sekilas aku menoleh. Melihat wajah sang pemilik suara tadi. Lalu aku merasa segala sesuatunya tiba tiba menjadi diluar kendali. Dia. Pria manis itu. Pria yang kemarin sempat membuat wajahku berubah warna menjadi merah merona.

“Eh iya…pak” Jawabku canggung.

“Pak? Ah saya jadi merasa tua.” Aku melihatnya tersenyum kecil.

Sudah. Berhenti. Pergilah. Jeritku dalam hati. Tapi aku melihatnya malah menarik sebuah kursi yang berada tak jauh dari mejaku sekarang. Lalu duduk disebelahku.

“Pilihan novel yang bagus” ujarnya.

“Suka sama karyanya Dee ya?” Aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Novel yang sama. Aku tersenyum.

“Saya juga punya nih.” Dia menyodorkan bukunya hendak menunjukan padaku.

“Sedang tidak ada kelas pak?”

Aduh. Basi banget ga sih pertanyaannya. Jangan sampai dia tahu kalau aku lagi mati matian menyembunyikan kegugupanku. Dan ah, kalau saja bisa aku berkaca sebentar. Aku mau melihat warna pipiku. Jangan sampai tiba tiba berubah menjadi merah saking malunya. Lalu dia melihatnya…

Ada sebentar lagi. Ini sambil nungguin. Ngeliat kamu…em Diana kan? Yang kemarin salah masuk pas mata kuliah saya?”

“Em iya pak maaf saya kemarin salah masuk kelas…”

Ah, lagian kenapa sih mesti inget itu terus. Kenapa dia ga bilang. Em….kamu Diana yang cantik itu kan? Oups well okay. Mungkin dia hanya akan mengatakan itu jika wanita didunia ini hanya tinggal aku saja.

“Ah iya sebentar lagi waktunya saya masuk kelas. Diana, senang bertemu denganmu. Senang bertemu wanita yang gemar membaca sepertimu.”

Lalu dia pun berlalu. Ah Diana. Aku mengumpat pada diriku sendiri. Ngomong apa aja sih aku. Keliatan bodoh ga sih? Dia tahu ga ya kalo aku gugup banget tadi. Ah, sudahlah. Tak akan ada hal lain yang dia ingat mengenai aku selain aku yang salah masuk kelasnya pada hari itu. Mungkin sebentar lagi dia juga akan lupa siapa namaku. Dia juga tidak akan mengingat pertemuan kami di kantin pada hari ini. Sudahlah Diana.

***

Namanya Lutfi. Dia salah satu dosen termuda yang ada dikampusku. Aku pertama kali melihatnya ketika tak sengaja aku salah masuk kelas pada waktu ia sedang mengajar di depan para mahasiswanya. Dan jantungku serasa berhenti sepersekian detik ketika melihat seseorang yang tengah berdiri didepan kelas ternyata adalah dia. Apalagi ketika dia menanyakan siapa namaku. Kalau saja aku pintar akting. Mungkin aku akan lebih memilih pingsan pada waktu itu. Lalu dia panik dan mengantarkanku pulang. Dan yah, tentu adegan itu hanya akan ada dalam sebuah film televisi yang sekarang sedang sering seringnya muncul di tv. Betapa mudahnya sebuah hubungan terjalin antara dosen dengan mahasiswinya. Andai para sutradara itu tahu bahwa kenyataannya, itu bukanlah sesuatu yang mudah seperti jika kau ingin membalikan telapak tangan saja..

Ah, ya. Aku jadi teringat sebuah kalimat dalam novel yang pernah aku baca. Aku lupa dimana.

“Setiap dari kita telah mempunyai garis takdir masing masing. Dan jika diijinkan, maka kita, satu sama lain akan saling bersinggungan”

Lutfi. Seorang yang mapan dan tampan. Pada umurnya yang hampir mendekati kepala tiga. Aku yakin dia sudah berkeluarga. Aku tidak bertanya kepada siapapun. Untuk hal hal seperti ini, aku cukup mengandalkan intuisiku saja. Seorang pria, tampan, mapan…apa lagi?

Maka aku tak pernah berharap terlalu banyak. Biarlah aku tetap mengagumi dia karena kepintarannya.Biarlah semuanya tetap seperti itu tanpa harus ada perasaan lain menyertainya. Biarlah, mungkin dia, aku, atau kita…hanyalah dua orang yang bertemu pada waktu yang tak tepat.

***

Aduh. Sudah berapa lama aku melamun tadi. Aku sampai lupa bahwa setelah ini aku masih ada satu mata kuliah lagi. Maka akupun bergegas memberekan semua buku dan segera meninggalkan kantin.

Deg. Jantungku berdegup kencang. Lagi. Ternyata aku diharuskan untuk bersinggungan dengannya. Aku memperlambat langkah. Jika dapat membalik badan. Aku tentu akan memilih hal itu. Tetapi dia terlanjur melihatku. Dan melemparkan senyum termanisnya.

“Mau masuk kelas?” Sapanya ramah

“Iya…” Aku membalas senyumnya.

“Oh buru buru ya?”

“Iya sudah agak telat”

Tapi kalau mau diajak nonton sih aku mau mengorbankan jadwal kuliahku hari ini. Plakkkkk. Selamanya kalimat itu hanya akan terucap dalam hatiku saja. Aku menahan tawa.

“Nanti kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing mengenai buku buku bagus ya. Ya sudah cepat masuk sana. Jangan sampai salah masuk kelas lagi.” Dia tertawa.

Tawa pertama yang aku dengar sejak pertama kali berbicara dengannya. Benarlah apa yang aku perkirakan. Bahwa yang dia ingat hanyalah aku yang waktu itu salah masuk kelas pada saat mata kuliahnya. Bersiap siaplah hal itu yang akan selalu ia sampaikan jika nanti kami bertemu lagi.

“Iya pak. Permisi saya duluan.” Aku mengangguk sopan. Lalu berjalan menuju kelasku.

Lima langkah kemudian aku merasa sangat ingin menoleh kebelakang. Dan ketika aku menoleh, aku melihatnya sedang membalikan badan pula. Melihatku. Dan tersenyum.

“…Karena segala sesuatu berada dalam garis takdir. Dan kita akan bertemu, hanya jika garis kita kelak bersinggungan.”