Aku, Jingga dan Kenangan

May, 17, 2013

Biru menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya, menuangkan air panas ke dalamnya lalu mengaduknya pelan. Setelahnya ia menyibak tirai ruang kerjanya, membuka jendelanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi dari lantai dua rumah peristirahatannya. Dibukanya laptop biru –sesuai dengan nama dan warna favoritnya- di atas meja kerjanya dan mulai mengetikkan user name dan password pada kolom emailnya.

TRING..

Sebuah pesan masuk melalui inbox email diterimanya. Dari Jingga.

Jingga. Perempuan pencinta hujan, penikmat senja dan sekaligus pemuja kesetiaan. Masih teringat jelas wajah sendu gadis yang pernah mengisi penuh seluruh hidupnya dengan kenangan.

Jingga yang dulunya ceria, yang penuh dengan kejutan. Yang selalu mengiriminya tulisan-tulisan indah yang dengan segera akan membuatnya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Pikirannya menerawang. Teringat delapan bulan yang lalu, saat ia membuka emailnya –seperti yang dilakukannya saat ini-. Mendapati Jingga mengirimkan sebuah email kejutan untuknya.

“Aku tibatiba ingat beranda kotamu. Tempat yang menurutmu, adalah terbaik bagi siapa yang ingin menikmati senja ditemani secangkir kopi. Lalu diamdiam kubayangkan, jika pada suatu petang, aku akan mengagetkanmu yang tengah menengadah sembari menutup mata. Tanpa suara, aku akan memilih duduk di sebelahmu. Melakukan hal serupa. Menengadahkan kepala. Menutup mata. Dan abai pada semua katakata. 

Kopi di cangkirmu tersisa separuh. Uapnya masih mengepul dan pecah begitu saja ketika beradu dengan udara. Seandainya melupakan kenangan, ujarmu, semudah menyaksikan uap kopi yang hilang tanpa pernah kita pikirkan hendak menuju ke mana. Mungkin, akan kau pilih terus memutarnya tanpa pernah takut jika kesakitan tengah mengendap di belakang.


Kemarau kini masih betah menyambangi hari. Keringnya persis seperti hati, kelakarmu dengan tawa yang ditahan luka. Entah kapan hujan mau datang, lanjutmu. Lalu seperti baru saja menyebutkan permintaan, seketika Tuhan mengabulkan. Hujan turun deras, pada kemarau suatu senja.


Karena kau adalah hujan pada kemarau. Yang jatuh sedemikian rela. Sedang aku, adalah yang terlambat meneduhkan diri. Membiarkan derasmu menjatuhiku. Sungguh, aku tak punya pilihan selain melakukan itu. Sungguh, aku tak pernah berpikir apaapa selain menjatuhkan hati padamu.”

 

Tiupan angin yang membawa hawa dingin sisa hujan semalam masuk melalui kisi jendela. Menyisakan dingin yang menusuk tulang. Biru bangkit dari kursinya sebelum sempat membuka email kiriman Jingga. Ia melangkahkan kaki menuju jendela. Ditutupnya perlahan jendela ruang kerjanya namun tetap membiarkan tirainya tersibak. Dilihatnya pohon-pohon bergoyang-goyang pasrah saat angin meniupnya sedikit lebih kencang. Selama beberapa detik ia menatap pemandangan di luar sana. Pikirannya menerawang, pada gadis bermata cokelat, berpipi sedikit gembil, kedua mata berbinar cerah serta rambut yang sedikit kecokelatan.

Jingga.

Setelah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar, Jingga kembali mengiriminya pesan. Biru tak berniat mendekati laptopnya untuk segera mengetahui email apa yang akan dikirimkan Jingga padanya kali ini. Namun firasatnya mengatakan mungkin ini bukan kabar bahagia. Mungkin juga sebuah pesan yang mengantarnya pada kepedihan.

Biru tak berniat melakukannya. Terlalu pagi untuk mendengar kabar kesedihan. Maka ia memilih untuk duduk di atas sofa merahnya dan menyesap sedikit kopi hitamnya, lalu mulai memutar kembali memorinya. Mengingat seorang Jingga.

***

September, 25, 2012

“Lalu, mengapa senja di matamu begitu lekas tenggelam, Biru?”

Itu yang Jingga tanyakan, tepat di saat ia pilu menatap kedua bola mataku yang berubah menjadi kelabu.

“Karena senja memang cuma mesti singgah sebentar, Jingga. Tak seperti cinta, yang harus terus berjalan meski melalui jalan berliku itu. Bertahan. Meski malam, menggelapkan ia dalam lelapnya.”
Di sanalah kami, pada sebuah senja di pertengahan September. Ketika angin yang dikirimkan hujan sisa semalam begitu menusuk-nyerikan hati. Karena pertemuan aku dengan Jingga, sungguh, benar seperti petang yang cuma disinggahi senja. Tak lama. Hanya hadir melalui waktu yang sebentar. Tapi apa yang sesungguhnya bisa abadi dari satu perjumpaan? Mungkin cuma kenang yang akan lekat kita ingat di kemudian waktu. Selebihnya, kurasa tak ada.
Mungkin begitulah manusia sesungguhnya bisa bertahan. Karena kenang, yang justru tak pernah benarbenar meninggalkan kita sendirian. Ia hidup. Mungkin berkembang. Atau berkurang. Tapi tetap tak akan hilang. Persis seperti cinta.
Sementara senja itu, Jingga. Ia digantikan malam, diriuhi pagi dingin kesepian, lantas dikalahlan siang terik yang menjemukan.
Tak seperti cinta, bukan? Ah, pun tak seabadi kenangan.

***

Biru kembali mendekatkan bibirnya pada cangkir kopinya yang sudah mulai sedikit mendingin. Menyesapnya perlahan. Memberikan waktu agar cairan berkafein itu bekerja. Membuat tubuhnya sedikit lebih tenang. Mengingat Jingga saja seharusnya bisa membuat perasaannya tenang. Namun tidak untuk kali ini. Mengetahui bahwa Jingga kembali menghubunginya ternyata justru membuatnya merasa semakin bersalah. Email terakhir –sebelum yang diterimanya pagi ini- belum sepenuhnya menghilang dari ingatannya.

***

November, 7, 2012

TRING..

Laptop berdering satu kali. Menandakan sebuah pesan masuk melalui inbox emailnya. Dari Jingga. Biru membukanya dengan terburu. Bagaimanapun, email Jingga adalah pelipur segala penatnya selama ini. Seakan menjadi candu sekaligus obat bagi rindunya yang semakin membuatnya tersiksa.

“Di luar, malam ini, hujan turun begitu deras. Memuntahkan dingin serta kesepian yang merayap pelan-pelan merambati lantai-lantai dingin. Memunculkan sekelebatan ingatan mengenai masa lalu yang mestinya memang telah jauh tertinggal di belakang. Di antara semua itu, entah kenapa masih saja terselip kenangan tentangmu.
Tentu saja kau belum menjadi masa lalu. Terlalu dini menjadikanmu seperti itu. Atau mungkin, jauh dalam hatiku, aku selalu berharap, terus dan selamanya, kau akan menjadi kekinianku. Seseorang yang selalu mengikuti sejauh apa pun aku mengayuh langkah, mengayun hidup. Jika perlu tanpa kuminta. Seperti hujan yang turun malam ini. Yang dinginnya, kurasa akan terus menempeliku sampai besok pagi.


Tak ada yang mudah lepas begitu saja. Seperti kekangenan kita pada hujan. Meski kelak ia berhenti turun, tentu wangi udara masih akan menyebarkan segala tentang ia. Menguap hingga lalu kembali ke atas sana. Dan turun lagi menjadi hujan. Lantas aku berpikir, sebenarnya hidup cuma berputar di tempat itu itu saja. Tak pernah terputus. Mungkin, hanya pikiran kita yang selalu ingin mengambil peran. Bermain-main di dalamnya. Seperti katamu pada suatu waktu: kita selalu mempunyai pemikiran sendiri terhadap suatu hal. Beruntunglah jika benar. Bagaimana ketika salah? Maka menurutku, kita cuma akan terjebak dalam putaran edar pandang kita sendiri. 

 

Lalu aku berpikir, bagaimana jika selamanya itu sebenarnya tak pernah ada. Tak benar-benar ada. Kesemuanya hanya konsep dalam pikiran yang kita mainkan karena enggan dengan kata perpisahan. Seperti kebersamaan kita, yang ternyata, ah, kau tahu aku tak berani mengatakannya, mungkin saja tak bertahan lama. 


Malam ini aku mengenang percakapan kita. Riuh tawa dan segaris senyum yang kita urai melalui sekat ruang maya. Betapa aku kagum dengan keberanianku, ketika menceritakan banyak hal padamu. Salah satunya adalah mengenai mimpiku kelak. Mimpi, yang setelahnya kau tambahkan kata kita di belakangnya. 


Tapi mimpi, tentu tak pernah sama ketika kita menjejak kenyataan. Ternyata kita disekati banyak hal. Tak cuma batas antara maya dan nyata. Tak hanya sekat antara jarak yang enggan dilipat agar mendekat. Tapi ketidakyakinan akan sebuah mimpi yang entah bagaimana caranya bisa diwujudkan. Lalu kita hanya berputar. Mencari cara. Tanpa pernah tahu, jika mimpi, sebenarnya mempunyai kekuatan tersendiri untuk mewujudkan diri. Kita hanya harus percaya. Yakin. Berserah, lantas pasrah. 


Masihkan yakin, menjadi satu-satunya jembatanmu menuju ke arahku? 


Masihkah?”

Dan aku menutup laptop di hadapanku. Tanpa punya kuasa untuk sekedar menjawab dan mengabarkan bahwa aku telah menerima emailnya.

Mungkin, hal yang akan selalu abadi adalah kenangan. Atau harapan. Pada kenyataannya, kita memang cuma mempunyai kedua hal itu. Tidak dengan masa sekarang, apalagi hari yang akan datang.
Belakangan, entah kenapa, aku begitu rindu masa lalu. Masa kecil. Setiap masa yang terlewati. Aku berharap memiliki kemampuan memutar waktu, lalu hinggap pada saatsaat dulu. Kalau bisa, mungkin tak perlu kembali. Aku, memang berharap bisa terus hidup di dalamnya. Aku, mungkin, cuma lelaki yang tak pernah bisa melepaskan diri dari kenangan.
Dan kau tahu? Dirimulah yang paling ingin kudatangi. Lalu kita akan bercerita apa saja, seperti biasa. Tentang senja, malam, hujan, dan segala yang tak pernah selesai.
Karena aku adalah hujan yang mengetuk kelopak matamu. Sedang kau, terlanjur lelap dalam mimpi. Hingga aku pergi–sekali lagi.

***

May, 17, 2013

Hari ini.

KRING.. KRING.. KRING..

Telepon di ruang tengah membangunkan aku. Ah. Rupanya aku jatuh terlelap di atas sofa. Di belakang tubuhku samar-samar kulihat siluet jingga yang menandakan bahwa hari sudah menjelang senja.

H0n3ys p1c !1367

Kulirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 17.26 WIB. Cukup lama aku terlelap. Kuraih ponselku dan melihat 17 panggilan tak terjawab. Apakah ada sesuatu yang penting? Namun alih-alih aku mengecek dan melihat siapa sang penelepon, aku lebih tertarik untuk mengetahui email yang sedari pagi belum sempat kubuka. Email yang memaksaku membuka kenangan yang kupendam berbulan-bulan yang lalu.

Kugerakkan mouse dan menekan nama Jingga yang berpendar di bagian atas emailku. Dan dengan satu klik aku kembali bersatu dengannya.

Jingga.

“Biru, udara pagi ini begitu lembab. Sisa hujan masih menempel pada dedaunan yang rantingnya terkadang bergerak tertiup angin. Dan perlahan aku mulai menulis–maksudku mengetik surat ini. Meski jujur dalam hati, aku tak pernah berniat mengirimkan apalagi mengetahui kau membacanya. Anggaplah surat ini sebagai teman bicara paling baik yang tak akan memberi komentar apa-apa terhadap ceritaku kecuali setuju dengan semua katakata.


Biru, kesalahan pertamaku adalah datang sepagi ini ke sebuah tempat terbuka dengan mengenakan celana jeans dan kaus lengan pendek tanpa cardigan kesayanganku. Aku pikir, dingin ini bisa kuabaikan seperti biasa. Tapi ternyata, setelah kepergianmu malam itu, setiap dingin menjadi terlampau berlebihan. Hiperbola. Rasanya seperti menusuk-nusuk hingga ke bagian tubuhku yang paling dalam. Seperti angin yang berhembus barusan. Aku baru tahu, ternyata dinginnya tak kalah dengan perasaan kehilangan.


Biru, kesalahan keduaku, adalah ternyata aku memerlukan sehelai sapu tangan untuk menyeka ujung mata. Sedari dulu, kupikir tak akan pernah membutuhkan benda itu. Tapi belakangan aku merasa, punggung tanganku sudah terlampau lelah menyeka air mata. Lagipula di tempat ini, terlalu ramai orang berlalu lalang. Jadilah sesekali, kudapati sepasang mata memerhatikanku dengan tatapan heran. Seorang perempuan, menekuri laptopnya dijedai tangan yang berulang mengusap air mata. 


Baru saja aku kembali menyeka ujung mata, kudapati sepasang lakilaki dan perempuan tengah bergandengan tangan, tertawa, dan saling menebar senyum satu sama lain. Mereka tampak sangat bahagia. Kenapa aku berkata tampak? Karena aku percaya, apa yang terlihat di luar, tak selalu sama dengan yang terjadi di dalam. Tapi sebenarnya, meski mereka–atau salah satu di antaranya–mungkin tengah berpura-pura, setidaknya itu lebih baik, daripada aku yang, katamu, terlalu berlebihan menerjemahkan rasa. Sehingga kepergianmu begitu menguras air mata, yang entah bagaimana caranya, terlalu ruah untuk ditandaskan begitu saja.


Benarkah bahagia itu ada, Biru? Atau hanya sekedar akhir dari kompromi mati-matian kepada hidup? Jika pun bahagia benar ada, dengan beragam kompromi itu, mungkin akan kucoba menenangkan diriku sendiri, dengan berkata, jika kehilangan adalah siklus
paling alami dari pertemuan. Adakah pertemuan yang abadi selamanya, Biru? Kupikir, kau hanya akan menggelengkan kepala atas pertanyaanku barusan. 


Aku tengah menatap daun yang jatuh tepat di sebelah sepatuku. Entah kenapa angin malah membawanya kesitu. Mungkin sekedar mengingatkan, bahwa kita tak pernah bisa memilih hendak jatuh kemana. Hendak jatuh pada siapa. Hendak jatuh karena apa. Bahwa hidup adalah mengenai berusaha, lantas menerima. Seperti daun yang begitu rela, dan tak pernah bertanya kenapa ia yang mesti dijatuhkan. Kuharap aku pun, akan bisa serela itu. Suatu hari nanti.”

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Jingga mengabarkan kabar kepedihan. Tepat saat aku menuntaskan membaca emailnya, mentari telah tenggelam dengan sempurna. Dan tetiba semuanya menjadi gelap gulita. Hanya menyisakan siluet terang yang berasal dari layar laptopku. Selama beberapa saat aku termenung. Memantapkan diri apa yang sebaiknya aku tuliskan sebagai balasan email yang dikirimkan Jingga kali ini. Ya, kali ini kuputuskan akan menjawab email yang dikirimkannya.

Kutekan tombol reply dan mulai menulis.

“Mungkin cinta seperti hujan, yang bisa datang dan jatuh kapan saja. Semaunya. Sekehendak ia. Sesekali menunjukkan pertanda. Berkali-kali malah abai dan turun tiba-tiba. Sayangnya, kita tak bisa menentukan, pada tanah yang mana ia memilih luruh.

Jingga, kali ini aku tak akan menahannya lagi. Ya, aku memilih luruh bersamanya. Mencintaimu.”

Email sent.

senja-wailago
-selesai-

PS: Tulisan ini adalah kolaborasi antara keisengan rinibee dan capella. Kalau anda membaca tulisan puitis dan romantis, bisa dipastikan itu tulisan capella.. :mrgreen:

Lalu bagian mana yang punya rinibee? Yang bagian nulis titik dan koma.. *eh?

:))) 😆 :mrgreen:

Enjoy!

Sesaat sebelum bintang jatuh

“Seseorang yang telah mempunyai pasangan lalu menemukan ‘cinta’ lain, itu seperti sedang tersesat di padang pasir, yang kemudian menemukan sumber air tanpa pernah tahu apakah sumber air itu akan menawarkan dahaga atau malah meracuninya”

Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Awan. Hening. Nayla terdiam. Lama dan sunyi. Terlihat ia sekuat tenaga menahah agar air matanya tak menetes, mengambang dalam mata yang kala itu mengenakan lensa kontak berwarna coklat tua. Perih rasanya. Bukan….bukan matanya yang perih. Ada bagian lain yang lebih sakit. Tahukah kau bahwa ada satu ruang kecil dalam hati manusia yang menjadi tempat bermula segala rasa? Yah, tempat itu kecil saja tapi di sanalah semua berasal. Dan dari situlah rasa sakit itu muncul. Nayla menghela napas.

“Kamu tau kenapa aku menyebutnya seperti tengah berada di padang pasir?” Awan memejamkan mata. Nayla tak pernah tahu bahwa Awan pun sedang mati-matian menahan tangis. Entah, seperti ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa pria tak boleh menangis. Bahwa tangisan itu bukannya akan melegakan tapi melemahkan.

“Karena kamu berjalan sejauh itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya sudah jelas-jelas kamu dapatkan. Kamu pergi jauh hingga lelah hatimu. Gersang. Kosong. Berharap menemukan sumber air yang mampu memuaskan dahagamu tanpa pernah kau tau bahwa ia juga bisa meracunimu. Yah, karena air yang kau temui itu baru sekali saja kau lihat. Kau kalap. Merasa bahwa ialah penawar dahagamu. Kita tak pernah tau Nay. Takan pernah tau.” Suara Awan terdengar melemah.

Tak mudah pula untuk Awan merangkai kata itu. Menyeimbangkan akal dan perasaannya memilah kata demi agar wanita disampingnya ini mengerti apa yang diucapkannya. Terkadang, ketika hati sedang emosi, semua seperti terpentalkan tak sanggup diserap untuk kita pahami. Maka dengan hati hati Awan berkata. Diantara sesak yang dirasakannya. Sesak karena tangis yang ia tahan sedari tadi.

Di sinilah mereka sekarang. Duduk bersebelahan di sebuah ayunan kayu yang sudah mereka mainkan sedari kecil. Awan dan Nayla memang telah bersahabat sejak lama. Saling menjaga dan menopang satu sama lain. Bahu Awan adalah tempat ternyaman untuk menampung semua tangis Nayla. Sebaliknya, tawa Nayla ibarat obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan semua letih di hati Awan. Mereka saling melengkapi. Saling mengingatkan. Dan cinta kadang hadir tak kenal tempat. Tak peduli bahwa Nayla hanya menganggap Awan sebatas sahabat. Ia menyusup saja tanpa ampun. Menyerang hati Awan yang lemah tanpa perlawanan. Awan tak bisa mengelak selain merasakannya. Tak lebih dari sekedar merasakan tanpa bisa mengutarakanYang pertama, karena Awan begitu takut setelah mengetahuinya maka Nayla perlahan akan menjauh. Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang kita sayangi pergi menjauhi kita untuk alasan apapun.

Yang kedua adalah untuk alasan karena Nayla telah mencintai pria lain. Yah, sekitar dua tahun lalu Nayla datang sambil tersenyum riang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang lama diidam-idamkannya. Dengan ringan ia bercerita bahwa dirinya baru saja menemukan pria itu. Pria yang ia rasa adalah belahan dari jiwanya yang selama ini kosong belum terisi. Awan tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. Senyum untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba menghujamnya tepat di bagian hati yang ia jaga selama ini untuk Nayla. Perih. Awan seperti melihat mimpi-mimpi itu terbang satu per satu meninggalkannya. Hinggap di tebing yang paling tinggi. Tebing yang takan sanggup dijangkau Awan.

Pria itu bernama Bintang. Ah, mengapa juga namanya harus bintang? Awan tahu betul sedari kecil Nayla sudah tergila gila pada benda langit satu itu. Nayla percaya bahwa bintang jatuh benar dapat mengabulkan sebuah permohonan. Terpejamlah dan panjatkan doa ketika bintang itu melesat turun dari langit, maka impianmu akan terwujud. Begitu yang selalu diyakini Nayla.

Satu yang Awan tak pernah tahu, suatu malam ketika jam hampir bergerak ke angka 12 menunjukan pergantian hari, tepat tanggal 01 januari 2010, tanggal yang bukan hanya menjadi tanda pergantian tahun, tapi di tanggal itulah Nayla menggenapi usianya yang ke 18 tahun. Yah, ketika itu dia setia menatap langit. Menahan sekuat-kuatnya agar mata cantik itu tak terlalu sering berkedip. Khawatir benda itu melesat lewat begitu saja dari pandangan. Lama ia menunggu, tiba tiba ada seberkas cahaya turun dari langit kearah barat. Cepat dan Nayla pun memejamkan mata. Berdoa. Memanjatkan pinta pada bintang jatuh.

“Pertemukan aku dengan belahan jiwaku, bintang. Aku tahu ia sedang menyusuri jalannya untuk segera menemukanku. Permudahlah. Aku di sini. Setia. Menanti.” Doanya kala itu.

Persimpangan

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Lalu hari ini. Entah kenapa kamu tiba – tiba bilang kalau kita salah jalan. Kita terlalu cepat memulai sesuatu. Tergesa padahal harusnya tak usah terburu – buru. “Aku sudah tak cinta…” Lirihmu. Lalu memalingkan wajah menyembunyikan genangan yang hampir saja menetes. Hingga tak sanggup berkata. Tak ingin kalah ketika kamu kuatkan hati saat bilang ingin meninggalkanku. Sementara aku hanya beku. Aliran darah bagai berhenti. Dingin. Seketika aku tersadar. Mungkin ini saatnya untuk melepaskan. Atau kehilangan. Kamu tahu apa bedanya melepaskan dan kehilangan? Melepaskan adalah ketika kamu bisa memandang tegak orang yang sangat kamu cintai tapi ia malah ingin pergi darimu. Sedang kehilangan adalah saat kamu hanya mampu menunduk sembari terus bertanya kenapa orang yang kamu cintai sanggup meninggalkanmu. Aku. Aku kini berada di ambang batas keduanya.

 

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Lalu aku ingat sebuah bangunan tua. Tempat yang telah usang termakan usia. Bahkan dindingnya sudah berubah warna. Mengelupas. Semua adalah bukti bahwa hingga kini ia masih sanggup bertahan. Bertahan dari serangan apapun itu. Dari dingin malam bahkan terik siang. Lalu kamu berkata. “Tapi kita bukan bangunan tua yang bahkan tak bernyawa….”. Kita punya hidup, katamu. Jika saja bangunan tua tak bernyawa itu bisa bertahan dari segala apapun yang hendak menghancurkannya. Mengapa kita tak bisa melakukan hal yang sama? Kamu diam.

 

Selalu aku menjejeri langkahmu pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Pelan – pelan saja katamu. Dan tak usah terburu – buru. Kau punya begitu banyak waktu. Untuk menungguku.

 

Dengan menempuh separuh perjalanan. Lalu kita temui persimpangan. Tempat dimana aku ingin ke kanan dan kamu ingin ke sisi lainnya. Bukan berarti kita salah jalan. Lalu kerikil – kerikil yang kita temui itu kamu anggap hambatan besar. Memutarbalikkan fakta bahwa kita pernah saling mencinta jauh sebelum itu. Tapi kini bagai tak berbekas.

 

…maka percuma selama ini aku menjejeri langkahmu, pelan. Perlahan. Agar tak mendahului atau malah ketinggalan. Kau tetap saja meninggalkan, dan menganggap kita salah jalan.

Meninggalkan dan ditinggalkan

Siang ini melirik status chatnya di jejaring sosial facebook, off.

Lalu aku beralih untuk melihat bagaimana status yahoo messangernya, bussy.

Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat untuknya, kangen. Tak ada balasan. Mungkin benar ia sedang sibuk, pikirku. Tapi pikiran-pikiran lain pun tak kalah menguasai. Entah kenapa aku bisa setakut ini jika benar ia sedang menghindariku.

Pernah berkali-kali, meskipun tak langsung terucap dari bibirnya, ia menggambarkan bahwa akulah wanita yang selama ini dicarinya. Wanita yang senang berceloteh katanya. Wanita yang meledak-ledak. Penuh dengan kejutan. Wanita yang mampu memegang kendali dalam segala situasi. Dan dia menikmatinya.

Hingga gelap hampir mengganti senja kabarnya tak kunjung kudengar. Ah, semoga setiap senja datang dia akan semakin teringat padaku. Dan bukankah senja itu yang selalu menyatukan kami?

Sudah satu minggu sejak pertemuan terakhir dengannya malam itu. Seperti biasa, diawal pertemuan ia selalu menyodorkan sebatang cokelat kesukaanku. Aku selalu tersenyum dibuatnya. Tak peduli kala itu bahkan aku tengah lelah luar biasa. Tak ingat akan beban pekerjaan yang menungguku keesokan hari. Jika tengah bersamanya, aku seperti mampu bercerita lebih lama dari biasanya. Dengan dia aku tak pernah takut dibilang wanita cerewet. Hey, bukankah memang itu salah satu hal yang dia sukai dariku? Aku yang gemar bercerita.
Sudah tiga tahun. Tepatnya, sejak aku memutuskan untuk lebih jauh mengenalnya.
Aku yang bahkan kala itu telah mempunyai seorang kekasih. Mapan. Tampan. Dan dia yang mengaku masih sendiri, tak pernah keberatan mengetahui statusku yang sebenarnya membuat hubungan kami tak seimbang. Tak adil. Tapi tetap menarik.

Sudah tiga tahun bahkan hasratku padanya masih sama seperti dulu. Tak pernah redup malah semakin menjadi.

***

Ini hari kedelapan ketika tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi yang sangat kukenal. Satu pesan masuk, darinya.

“Bisa ketemu nanti malam di tempat biasa?”

Dan senyumku mengembang.

“Bisa”

Aku memencet tombol kirim.

Tempat yang ia maksud adalah sebuah kafe tempat pertama kali kami bertemu. Kala itu aku sedang sendirian menikmati segelas orange juice yang hanya tersisa setengah. Sementara dia, dari meja sebelahku, meskipun aku tak menatap langsung, aku tahu ia sedang mencuri pandang kearahku beberapa kali. Sambil sesekali membetulkan posisi duduk. Lalu entah bagaimana saat itu ia datang menghampiri, yang akhirnya membuat kami tertahan berada di tempat itu berjam-jam lebih lama dari seharusnya.

Malam ini aku melihatnya duduk ditemani secangkir cappuccino kesukaannya. Sekilas aku melihat sesuatu tak biasa dari tatapan pria ketika melihat aku duduk berhadapan dengannya.

“Hey kemana saja?” Aku membuka pembicaraan.

“Maaf pekerjaan menggila, aku tak sempat mengabarimu….”

Ada yang salah.

“Oh…”

“Kamu baca pesan dariku seminggu yang lalu?”

“Iya…”

Aku tahu ada yang salah.

Lalu tiba-tiba menyodorkan sesuatu. Berdiri. Melangkah. Meninggalkanku.

Apa-apaan ini, pikirku.

Sebuah undangan pernikahan, aku berbisik pada diriku sendiri.

Sekuat apakah aku mampu menahanmu disini? Kelak kau akan tahu bahwa aku tak pernah seberani itu untuk meninggalkan priaku sekarang….lalu kau memilih untuk terlebih dahulu meninggalkanku…adil, katamu.

Kesalahan yang manis: Retakan Senja

…Baru kusadari, gadis cantik itu terlihat serasi berjalan disampingnya…sedangkan aku?

Berkali kali aku sudah mengingatkan diriku sendiri, sudahlah…tak usah berharap terlalu banyak pada pria yang bahkan kau tak mengetahui banyak hal mengenai dirinya, selain dia yang seorang dosen, selain dia yang sama sama menyukai novel yang aku baca, selain dia yang sudah mempunyai seorang gadis cantik disampingnya. Gadis cantik….aku menghela napas ketika menyebutkan kata itu. Betapa kala itu jantungku seakan berhenti berfungsi ketika melihat mereka berjalan menjauh meninggalkanku. Betapa mungkin aku tak akan terlalu kecewa seperti ini jika saja dari awal aku bisa memegang kendali atas diriku sendiri. Sudahlah…

Beberapa kali dalam seminggu, setiap sore biasanya aku selalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah café yang terletak tak jauh dari kampusku. Dengan berjalan kaki beberapa meter saja aku sudah bisa menenggelamkan diri berlama lama sambil menikmati secangkir cappuccino kesukaanku. Tempat yang sangat nyaman. Aku bisa melihat suasana sore yang menyenangkan. Kadang terlihat beberapa orang yang melewati café dan mereka berpasangan. Berpegangan tangan. Sungguh aku menikmati kemesraan yang mereka tunjukkan.

Secangkir cappuccino dan novel yang berteriak minta segera diselesaikan untuk dibaca, biasanya adalah perpaduan yang membuatku mampu berkonsentrasi penuh jika dua benda itu sudah ada dihadapanku. Tapi kali ini berbeda, entah aku masih saja memikirkan mengenai gadis kemarin itu. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Dia mungkin sahabat pak dosen, mungkin saudaranya juga karena mereka terlihat begitu dekat, aku menjadi sedikit tenang jika mengingat kemungkinan itu. Tapi…tentu saja dia juga bisa sangat mungkin adalah kekasih pak dosen. Atau tunangannya? Pikiran pikiran seperti itulah yang membuat aku merasakan sakit pada sebagian kecil hatiku.

Aku berdiri dari tempatku sekarang. Berpikir tak ada gunanya aku berlama lama berada di café ini selain hanya diam memandangi cangkir dan novel yang tiba tiba menjadi benda paling tidak bersahabat bagiku.

Beberapa langkah menuju pintu keluar, setelah membayar minumanku tadi, langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk di pojok sebelah kanan café. Ya..sosok itu. Sosok yang begitu aku kenal. Sosok Pak dosen. Ah, kenapa harus bertemu dia segala sih? Aku mengumnpat dalam hati. Mudah mudahan saja kali ini dia tak melihatku. Lanjutku masih dalam hati.

Hingga ketika aku hendak melangkahkan kaki lagi, tiba tiba sebuah suara terdengar memanggilku.

“Diana….”

Deg. Seketika itu lagi lagi jantungku seakan berdegup seribu kali lebih kencang dari biasanya. Tak mungkin aku terus saja keluar tanpa menghiraukan suara tadi. Maka aku menoleh. Dan kulihat ia sedang berjalan menghampiriku.

“Kamu dari tadi disini? Kok saya ga ngeliat kamu ya…” Ujarnya ramah.

“Iya pak. Sudah dari satu jam yang lalu.”

“Oh gitu. Saya masih mau disini sebentar lagi, kalau kamu tidak sedang buru buru, mungkin kita bisa duduk sama sama?”

Hah. Duduk berdua di café ini. Iya. Hanya berdua dengannya? Aku merasa mau pingsan. Aku tak bisa menjawab ajakannya. Aku hanya terlihat mematung tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kenapa Diana? Ada yang salah?”

“Ah iya pak, Bukan. Bukannya mau menolak. Tapi saya….saya kebetulan sudah ada janji dengan teman saya. Dia sudah menunggu saya. Maaf pak.” Yah aku melewatkan kesempatan bagus yang mungkin hanya akan datang sekali dalam hidupku.

“Oh iya tidak apa apa” Dia tersenyum lalu kemudian kudengar ponselnya berdering memberitahukan ada panggilan masuk yang harus segera dijawabnya. Ketika itu pula aku berpamitan. Dan aku melihatnya membalikan badan. Melangkahkan kaki ke meja tempat semula dia duduk di pojok kanan café ini. Sayup kudengar suaranya ketika sedang berbicara dengan seseorang di ujung telephone sana

.“Iya, sebentar lagi aku pasti sampai kesana.”

Entahlah, aku begitu yakin kalo sang penelephone tadi adalah gadis yang sama, yang juga bersamanya kemarin. Dan perlahan, seperti tak direncana, aku mendengar ada sesuatu yang sepertinya retak dan berada sangat dekat dengan diriku. Hatiku.

Kesalahan yang manis : Garis Takdir

“Hey, suka baca itu juga?”

Sebuah suara tiba tiba mengagetkanku. Sekilas aku menoleh. Melihat wajah sang pemilik suara tadi. Lalu aku merasa segala sesuatunya tiba tiba menjadi diluar kendali. Dia. Pria manis itu. Pria yang kemarin sempat membuat wajahku berubah warna menjadi merah merona.

“Eh iya…pak” Jawabku canggung.

“Pak? Ah saya jadi merasa tua.” Aku melihatnya tersenyum kecil.

Sudah. Berhenti. Pergilah. Jeritku dalam hati. Tapi aku melihatnya malah menarik sebuah kursi yang berada tak jauh dari mejaku sekarang. Lalu duduk disebelahku.

“Pilihan novel yang bagus” ujarnya.

“Suka sama karyanya Dee ya?” Aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Novel yang sama. Aku tersenyum.

“Saya juga punya nih.” Dia menyodorkan bukunya hendak menunjukan padaku.

“Sedang tidak ada kelas pak?”

Aduh. Basi banget ga sih pertanyaannya. Jangan sampai dia tahu kalau aku lagi mati matian menyembunyikan kegugupanku. Dan ah, kalau saja bisa aku berkaca sebentar. Aku mau melihat warna pipiku. Jangan sampai tiba tiba berubah menjadi merah saking malunya. Lalu dia melihatnya…

Ada sebentar lagi. Ini sambil nungguin. Ngeliat kamu…em Diana kan? Yang kemarin salah masuk pas mata kuliah saya?”

“Em iya pak maaf saya kemarin salah masuk kelas…”

Ah, lagian kenapa sih mesti inget itu terus. Kenapa dia ga bilang. Em….kamu Diana yang cantik itu kan? Oups well okay. Mungkin dia hanya akan mengatakan itu jika wanita didunia ini hanya tinggal aku saja.

“Ah iya sebentar lagi waktunya saya masuk kelas. Diana, senang bertemu denganmu. Senang bertemu wanita yang gemar membaca sepertimu.”

Lalu dia pun berlalu. Ah Diana. Aku mengumpat pada diriku sendiri. Ngomong apa aja sih aku. Keliatan bodoh ga sih? Dia tahu ga ya kalo aku gugup banget tadi. Ah, sudahlah. Tak akan ada hal lain yang dia ingat mengenai aku selain aku yang salah masuk kelasnya pada hari itu. Mungkin sebentar lagi dia juga akan lupa siapa namaku. Dia juga tidak akan mengingat pertemuan kami di kantin pada hari ini. Sudahlah Diana.

***

Namanya Lutfi. Dia salah satu dosen termuda yang ada dikampusku. Aku pertama kali melihatnya ketika tak sengaja aku salah masuk kelas pada waktu ia sedang mengajar di depan para mahasiswanya. Dan jantungku serasa berhenti sepersekian detik ketika melihat seseorang yang tengah berdiri didepan kelas ternyata adalah dia. Apalagi ketika dia menanyakan siapa namaku. Kalau saja aku pintar akting. Mungkin aku akan lebih memilih pingsan pada waktu itu. Lalu dia panik dan mengantarkanku pulang. Dan yah, tentu adegan itu hanya akan ada dalam sebuah film televisi yang sekarang sedang sering seringnya muncul di tv. Betapa mudahnya sebuah hubungan terjalin antara dosen dengan mahasiswinya. Andai para sutradara itu tahu bahwa kenyataannya, itu bukanlah sesuatu yang mudah seperti jika kau ingin membalikan telapak tangan saja..

Ah, ya. Aku jadi teringat sebuah kalimat dalam novel yang pernah aku baca. Aku lupa dimana.

“Setiap dari kita telah mempunyai garis takdir masing masing. Dan jika diijinkan, maka kita, satu sama lain akan saling bersinggungan”

Lutfi. Seorang yang mapan dan tampan. Pada umurnya yang hampir mendekati kepala tiga. Aku yakin dia sudah berkeluarga. Aku tidak bertanya kepada siapapun. Untuk hal hal seperti ini, aku cukup mengandalkan intuisiku saja. Seorang pria, tampan, mapan…apa lagi?

Maka aku tak pernah berharap terlalu banyak. Biarlah aku tetap mengagumi dia karena kepintarannya.Biarlah semuanya tetap seperti itu tanpa harus ada perasaan lain menyertainya. Biarlah, mungkin dia, aku, atau kita…hanyalah dua orang yang bertemu pada waktu yang tak tepat.

***

Aduh. Sudah berapa lama aku melamun tadi. Aku sampai lupa bahwa setelah ini aku masih ada satu mata kuliah lagi. Maka akupun bergegas memberekan semua buku dan segera meninggalkan kantin.

Deg. Jantungku berdegup kencang. Lagi. Ternyata aku diharuskan untuk bersinggungan dengannya. Aku memperlambat langkah. Jika dapat membalik badan. Aku tentu akan memilih hal itu. Tetapi dia terlanjur melihatku. Dan melemparkan senyum termanisnya.

“Mau masuk kelas?” Sapanya ramah

“Iya…” Aku membalas senyumnya.

“Oh buru buru ya?”

“Iya sudah agak telat”

Tapi kalau mau diajak nonton sih aku mau mengorbankan jadwal kuliahku hari ini. Plakkkkk. Selamanya kalimat itu hanya akan terucap dalam hatiku saja. Aku menahan tawa.

“Nanti kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing mengenai buku buku bagus ya. Ya sudah cepat masuk sana. Jangan sampai salah masuk kelas lagi.” Dia tertawa.

Tawa pertama yang aku dengar sejak pertama kali berbicara dengannya. Benarlah apa yang aku perkirakan. Bahwa yang dia ingat hanyalah aku yang waktu itu salah masuk kelas pada saat mata kuliahnya. Bersiap siaplah hal itu yang akan selalu ia sampaikan jika nanti kami bertemu lagi.

“Iya pak. Permisi saya duluan.” Aku mengangguk sopan. Lalu berjalan menuju kelasku.

Lima langkah kemudian aku merasa sangat ingin menoleh kebelakang. Dan ketika aku menoleh, aku melihatnya sedang membalikan badan pula. Melihatku. Dan tersenyum.

“…Karena segala sesuatu berada dalam garis takdir. Dan kita akan bertemu, hanya jika garis kita kelak bersinggungan.”

Maya…

Maya seorang wanita yang mempesona. Seseorang yang tahu bagaimana cara membuat orang lain tertarik padanya.

Maya…tentu saja ia wanita yang aku cari selama ini.

Perjalananku dengannya bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan hitungan purnama. Kami sudah bersahabat sedari kecil. Saling menjalin keterikatan satu sama lain. Hingga kala itu ketika tiba tiba aku harus meninggalkan tempat kelahiranku. Pindah ke kota yang lebih besar. Berpisah dengan Maya.

Jarak yang membentang bukanlah satu alasan yang mampu merenggangkan hubungan diantara kami. Sebisa mungkin disela sela kesibukan, aku menyempatkan diri pulang untuk menemuinya. Walau hanya beberapa hari. Tapi itu lebih dari cukup untuk menawarkan rindu pada gadis satu itu. Gadis yang tak pernah luput menghadirkan paras manisnya dalam setiap mimpi mimpi malamku.

Maya, gadis itu selalu bertambah cantik setiap harinya. Aku yakin Tuhan menciptakannya dengan begitu hati hati. Hingga terciptalah ia sebagai maha karya begitu indahnya.

Maya….seseorang yang tak jarang membuatku menangis menahan cinta yang seharusnya meluap tanpa kendali. Lalu sekejap membuatku tersenyum kala ia menceritakan mimpi mimpinya. Kala aku, ternyata ada dalam salah satu mimpi penting yang ingin ia gapai kelak.

“Jika seseorang itu mampu membuatmu menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan, itu berarti ia telah mampu membuatmu jatuh cinta begitu dalam pada dirinya” Itulah yang ia katakan pada suatu hari.

Pun hari ini ketika ia membuatku menangis sejadi jadinya kala membaca sebuah pesan singkat yang masuk telephone genggamku.

“Dy…doakan aku. Minggu depan aku akan menikah….”

Seketika aku merasa keseimbanganku hilang. Seperti ada yang menarik paksa kesadaranku hingga pikiranku menerawang melintasi waktu hinggap pada saat terakhir pertemuanku dengannya.

Kala itu Maya datang dan berkata bahwa ia akan segera menikah dengan seorang pria yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu.

“Aku akan menikah Dy…” ucapnya lirih

Aku marah. Kepalaku seperti ingin meledak. Hatiku remuk menjadi potongan potongan kecil berserakan ditanah. Air mata mengalir deras. Aku hilang kendali atas diriku sendiri.

“Mengapa tak kau tunggu aku May?” Sekuat tenaga aku mengucapkan itu.

Maya diam. Hening hingga hampir tiga puluh menit.

“Kau hanya memintaku menunggu Dy. Hanya itu….”Isaknya

“Sedangkan dia? Pria itu datang kerumahku. Bertemu dengan ibuku. Hal yang tak pernah kau lakukan. Meskipun telah belasan tahun kebersamaan kita.” Maya menatapku. Tatapan benci. Lelah. Lelah menungguku yang hanya bisa memintanya menunggu.

“Apa kau mencintainya?”

Maya menggeleng.

Ini bukan hanya mengenai cinta. Ini mengenai Maya yang tak mungkin akan terus menungguku hingga waktu yang tak pasti. Ini mengenai suatu ikatan yang memang benar benar ia harapkan. Meskipun ada aku dalam mimpinya. Tapi terpaksa ia lepas mimpi itu. Menerbangkannya seringan ia pelan mengiris pedih hatiku.

“Dy…doakan aku. Minggu depan aku akan menikah….”

Pesan singkat itu terus terbayang bayang. Hingga sesak aku karenanya.

Doa? Cih, mengapa aku harus berdoa untuk kehilangan yang kudapatkan? Sadarkah Maya dengan apa yang ia ucapkan?

Tidak. Aku tidak akan menanyakan mengapa Tuhan menciptakan aku dengan segala keterbatasan untuk mencintainya. Semua telah ada dalam garis takdirnya. AKu hanya ingin bertanya, untuk alasan apa Maya bisa membuatku jatuh sedalam ini?

Detik ini aku berdiri dihadapan sebuah cermin besar. Mematung menatap ketidakberdayaanku. Melihat utuh diriku yang tak pernah pantas berharap banyak pada gadis itu. Lama hingga aku tersadar karena bunyi pesan singkat yang lagi lagi masuk. Maya. Tentu saja dari gadis itu.

“Semoga kelak…entah kapan. Sungguh aku tak pernah tahu itu kapan. Aku berharap…Tuhan bermurah hati mempertemukan kita kembali. Love you so much, Lidya…..”