Batu Nisan

Aku terduduk di samping sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Kata mereka kamu beristirahat di sini. Tepat di bawah batu nisan ini. Aku datang terlambat. Seharusnya aku datang lebih cepat. Seharusnya aku bisa membisikkan kalimat bahwa aku mencintaimu tepat di telingamu. Bukan di atas gundukan tanah seperti ini.

Ah sayang… mengapa kau tidak menungguku?

 

Aku terdiam di atas sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Tempat peristirahatan terakhirmu. Sungguh… aku merasa sangat menyesal. Seandainya aku bisa memilih. Aku tak pernah ingin jauh darimu. Dan tetiba kenangan itu memenuhi kepalaku.

Menyusun kepingan demi kepingan memori dan membawa satu gambaran utuh tentang kami. Aku dan dia. Tentang Ratih. Ya Ratih.. Masih teringat jelas dalam ingatanku bagaimana kita dulu menghabiskan waktu berdua. Hanya kau dan aku hingga suatu hari aku harus meninggalkanmu.

 

Seandainya aku bisa memilih, aku ingin selalu berada di dekatmu. Menatapmu, dan membelai indah rambutmu. Setiap hari. Setiap aku ingini. Menggenggam jemarimu, mengecup keningmu dan menyesap kebahagiaan bersamamu.

Tapi bagaimanapun juga, aku ini suami. Sudah kewajibanku untuk menafkahimu. Dan sebagai TKI, aku tak mungkin memboyongmu ikut bersamaku. Aku hanya bisa menjanjikan kehidupan yang lebih layak padamu.

 

Suatu hari nanti, ketika tabungan kita penuh, aku akan membuka usaha di tanah air kita saja. Secepatnya sayang, aku akan bekerja giat untuk mengumpulkan modalnya. Aku akan bekerja keras supaya kita bisa secepatnya kembali berkumpul. Dalam satu atap, dalam satu rumah. Rumah kita sendiri. Maka dengan sangat berat hati, kuminta padamu untuk menungguku.

 

Tiga bulan. Hanya tiga bulan aku menyesap indahnya kesempurnaan hidup bersamamu. Karena selepasnya, aku harus pergi. Pergi ke negeri orang demi memberikan kehidupan yang lebih layak untukmu, untukku. Untuk kita.

Masih teringat jelas senyummu saat melepas kepergianku. Senyum berbalut kesedihan yang sekuat tenaga coba kau tutupi. Senyum getir. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Sementara senyum itu ternyata senyum terakhir yang kau berikan untukku.

***

 

“Dia sudah pergi, Man..” ibuku membawa kabar duka tentang Ratih.

Aku tak mampu berkata-kata ketika mendapati tak ada lagi Ratih di kamar yang membawa sejuta kenangan indahnya kebersamaan kami. Ia memilih pergi. Tanpa sempat berkata sepatah katapun padaku. Hanya menitipkan sepucuk surat pada ibuku. Lalu pergi. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan dalam benakku.

Apa salahku? Mengapa ia pergi meninggalkanku?

 

Dan di atas batu nisan ini aku menemukan jawabannya. Dengan selembar kertas terbuka dalam genggaman tanganku.

“Mas Arman, maafkan Ratih. Ratih harus pergi. Maafkan Ratih yang tak sempurna ini. Ketika surat ini sampai di tangan mas Arman, mungkin Ratih sudah nggak ada di sisi mas lagi. Ibu pasti bisa menjelaskan. Hanya satu alasan Ratih pergi. Semata karena Ratih belum siap menerima semua ini. Bukan.. bukan karena pekerjaan mas, atau kekurangan mas sebagai suami. Ini semata hanya karena ketidaksempurnaan Ratih mengemban amanah.

Ratih minta, mohon maafkan Ratih ya mas. Suatu hari nanti, mas pasti mengerti..” 

 

“Ratih masih belum bisa menerima Man. Apalagi wajahnya sangat mirip denganmu. Dia masih belum bisa menemuimu. Sabar ya le..” ibu mengusap punggungku untuk memberikan kekuatan.

 

Di atas batu nisan tanpa nama aku terduduk. Aku bahkan belum memberikan nama untuknya. Belum sempat memandang wajahnya. Wajah anakku yang katanya mirip denganku. Yang meninggal saat ia dilahirkan. Yang membuat Ratih terpukul dan pergi meninggalkanku.

Di atas batu nisan aku menangis. Di atas pusara putraku.

-selesai-

Advertisements

Kesalahan yang manis: Pertemuan..

Aku pertama kali bertemu dengannya saat aku salah masuk kelas di semester keduaku. Ah bodohnya aku, baru sadar salah masuk kelas ketika melihat daftar absensi. Ngga ada seorangpun yang kukenal, ngga ada namaku di daftar absensi dan aku baru sadar saat membaca nama mata kuliah yang tertera di daftar absensi dalam genggamanku saat aku hendak membubuhkan tanda tanganku. Cognitive Behavioral Therapy.. Pantas saja dari tadi perasaanku ngga enak.. Selain karena dosennya juga dosen yang membuat jantungku berdetak cepat ngga karuan saking groginya, juga karena ngga satupun kalimatnya yang nyanthol di kepalaku saat sang dosen menjelaskan materi kuliah untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta mata kuliah..

Selama beberapa menit aku masih selamat dari tragedi memalukan, hingga tiba-tiba pandangan tajam setajam belati yang baru diasah itu menatapku dan berkata langsung ke arahku.. Iya ke arahku, karena hanya aku satu-satunya yang berbaju merah di kelas itu..

“Ehem.. saya mau tanya sama yang baju merah..” sang dosen bertanya sambil membuka lembaran absensi miliknya..

“Nah.. itu.. yang di ujung.. Siapa namamu ?”

Aku tertunduk, dengan perasaan malu, berharap bukan aku yang ditanya olehnya. Tapi sang dosen sekarang menatapku dengan matanya yang tajam di balik kacamatanya.. terdiam, menungguku menjawab. Aku merasakan seluruh mata di ruangan ini menatapku, si gadis berbaju merah yang terdiam dengan wajah semakin memerah..

“saya.. saya.. Diana pak..” jawab saya terbata-bata..

“Diana ya.. dari tadi saya perhatikan kamu seperti orang yang kebingungan.. Kamu ada pertanyaan..? Tapi saya ngga pernah lihat kamu di kelas ini sebelumnya.. Kamu baru masuk atau bagaimana?”

JDERRR!!!

Pertanyaan yang sempat kuharapkan tidak pernah terlontar itu akhirnya keluar juga dari bibir pak dosen itu. Akhirnya, dengan segunung rasa malu yang semakin lama serasa semakin berat di pundakku, aku pun memberanikan diri berdiri.. berkata dengan suara yang tersisa dari sisa-sisa keberanianku yang semakin surut. Berkata perlahan karena grogi, tapi berusaha setenang dan sejelas mungkin..

“saya.. sepertinya saya salah kelas pak..”

Dan tak lama kemudian terdengar suara tawa serentak yang sempat tertahan dari seluruh mahasiswa di kelas tersebut.. membuat wajahku berubah menjadi ungu kehijauan.. Pak dosen berkacamata itupun ikut tersenyum, wajahnya tak lagi terlihat menakutkan.. justru terlihat lebih menyenangkan.

Ajaib. Setelah peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi sepanjang sejarah aku kuliah, aku justru merasa lebih tenang. Ibarat demam panggung yang telah berlalu, aku memberanikan diri berjalan ke depan kelas, meminta ijin kepada dosen untuk keluar kelas dan memohon maaf karena mengganggu kelasnya.. Tepat sedetik sebelum aku keluar kelas, aku menatap mata teduh itu, satu-satunya mata yang memandangku tanpa ekspresi menertawakanku.. Ia menatapku dengan senyum.. Ya.. senyum yang tulus.. bukan tawa yang menghina.

Selama sedetik aku berharap, aku ingin tetap tinggal di kelas ini agar bisa mengenalnya lebih dekat lagi..

Ahh… siapa gerangan dirimu pria manis dengan senyum yang tak kalah manis..?

Akankah Sang Pemilik Hidup mempertemukanku denganmu lagi?