Aku, Jingga dan Kenangan

May, 17, 2013

Biru menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya, menuangkan air panas ke dalamnya lalu mengaduknya pelan. Setelahnya ia menyibak tirai ruang kerjanya, membuka jendelanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi dari lantai dua rumah peristirahatannya. Dibukanya laptop biru –sesuai dengan nama dan warna favoritnya- di atas meja kerjanya dan mulai mengetikkan user name dan password pada kolom emailnya.

TRING..

Sebuah pesan masuk melalui inbox email diterimanya. Dari Jingga.

Jingga. Perempuan pencinta hujan, penikmat senja dan sekaligus pemuja kesetiaan. Masih teringat jelas wajah sendu gadis yang pernah mengisi penuh seluruh hidupnya dengan kenangan.

Jingga yang dulunya ceria, yang penuh dengan kejutan. Yang selalu mengiriminya tulisan-tulisan indah yang dengan segera akan membuatnya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Pikirannya menerawang. Teringat delapan bulan yang lalu, saat ia membuka emailnya –seperti yang dilakukannya saat ini-. Mendapati Jingga mengirimkan sebuah email kejutan untuknya.

“Aku tibatiba ingat beranda kotamu. Tempat yang menurutmu, adalah terbaik bagi siapa yang ingin menikmati senja ditemani secangkir kopi. Lalu diamdiam kubayangkan, jika pada suatu petang, aku akan mengagetkanmu yang tengah menengadah sembari menutup mata. Tanpa suara, aku akan memilih duduk di sebelahmu. Melakukan hal serupa. Menengadahkan kepala. Menutup mata. Dan abai pada semua katakata. 

Kopi di cangkirmu tersisa separuh. Uapnya masih mengepul dan pecah begitu saja ketika beradu dengan udara. Seandainya melupakan kenangan, ujarmu, semudah menyaksikan uap kopi yang hilang tanpa pernah kita pikirkan hendak menuju ke mana. Mungkin, akan kau pilih terus memutarnya tanpa pernah takut jika kesakitan tengah mengendap di belakang.


Kemarau kini masih betah menyambangi hari. Keringnya persis seperti hati, kelakarmu dengan tawa yang ditahan luka. Entah kapan hujan mau datang, lanjutmu. Lalu seperti baru saja menyebutkan permintaan, seketika Tuhan mengabulkan. Hujan turun deras, pada kemarau suatu senja.


Karena kau adalah hujan pada kemarau. Yang jatuh sedemikian rela. Sedang aku, adalah yang terlambat meneduhkan diri. Membiarkan derasmu menjatuhiku. Sungguh, aku tak punya pilihan selain melakukan itu. Sungguh, aku tak pernah berpikir apaapa selain menjatuhkan hati padamu.”

 

Tiupan angin yang membawa hawa dingin sisa hujan semalam masuk melalui kisi jendela. Menyisakan dingin yang menusuk tulang. Biru bangkit dari kursinya sebelum sempat membuka email kiriman Jingga. Ia melangkahkan kaki menuju jendela. Ditutupnya perlahan jendela ruang kerjanya namun tetap membiarkan tirainya tersibak. Dilihatnya pohon-pohon bergoyang-goyang pasrah saat angin meniupnya sedikit lebih kencang. Selama beberapa detik ia menatap pemandangan di luar sana. Pikirannya menerawang, pada gadis bermata cokelat, berpipi sedikit gembil, kedua mata berbinar cerah serta rambut yang sedikit kecokelatan.

Jingga.

Setelah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar, Jingga kembali mengiriminya pesan. Biru tak berniat mendekati laptopnya untuk segera mengetahui email apa yang akan dikirimkan Jingga padanya kali ini. Namun firasatnya mengatakan mungkin ini bukan kabar bahagia. Mungkin juga sebuah pesan yang mengantarnya pada kepedihan.

Biru tak berniat melakukannya. Terlalu pagi untuk mendengar kabar kesedihan. Maka ia memilih untuk duduk di atas sofa merahnya dan menyesap sedikit kopi hitamnya, lalu mulai memutar kembali memorinya. Mengingat seorang Jingga.

***

September, 25, 2012

“Lalu, mengapa senja di matamu begitu lekas tenggelam, Biru?”

Itu yang Jingga tanyakan, tepat di saat ia pilu menatap kedua bola mataku yang berubah menjadi kelabu.

“Karena senja memang cuma mesti singgah sebentar, Jingga. Tak seperti cinta, yang harus terus berjalan meski melalui jalan berliku itu. Bertahan. Meski malam, menggelapkan ia dalam lelapnya.”
Di sanalah kami, pada sebuah senja di pertengahan September. Ketika angin yang dikirimkan hujan sisa semalam begitu menusuk-nyerikan hati. Karena pertemuan aku dengan Jingga, sungguh, benar seperti petang yang cuma disinggahi senja. Tak lama. Hanya hadir melalui waktu yang sebentar. Tapi apa yang sesungguhnya bisa abadi dari satu perjumpaan? Mungkin cuma kenang yang akan lekat kita ingat di kemudian waktu. Selebihnya, kurasa tak ada.
Mungkin begitulah manusia sesungguhnya bisa bertahan. Karena kenang, yang justru tak pernah benarbenar meninggalkan kita sendirian. Ia hidup. Mungkin berkembang. Atau berkurang. Tapi tetap tak akan hilang. Persis seperti cinta.
Sementara senja itu, Jingga. Ia digantikan malam, diriuhi pagi dingin kesepian, lantas dikalahlan siang terik yang menjemukan.
Tak seperti cinta, bukan? Ah, pun tak seabadi kenangan.

***

Biru kembali mendekatkan bibirnya pada cangkir kopinya yang sudah mulai sedikit mendingin. Menyesapnya perlahan. Memberikan waktu agar cairan berkafein itu bekerja. Membuat tubuhnya sedikit lebih tenang. Mengingat Jingga saja seharusnya bisa membuat perasaannya tenang. Namun tidak untuk kali ini. Mengetahui bahwa Jingga kembali menghubunginya ternyata justru membuatnya merasa semakin bersalah. Email terakhir –sebelum yang diterimanya pagi ini- belum sepenuhnya menghilang dari ingatannya.

***

November, 7, 2012

TRING..

Laptop berdering satu kali. Menandakan sebuah pesan masuk melalui inbox emailnya. Dari Jingga. Biru membukanya dengan terburu. Bagaimanapun, email Jingga adalah pelipur segala penatnya selama ini. Seakan menjadi candu sekaligus obat bagi rindunya yang semakin membuatnya tersiksa.

“Di luar, malam ini, hujan turun begitu deras. Memuntahkan dingin serta kesepian yang merayap pelan-pelan merambati lantai-lantai dingin. Memunculkan sekelebatan ingatan mengenai masa lalu yang mestinya memang telah jauh tertinggal di belakang. Di antara semua itu, entah kenapa masih saja terselip kenangan tentangmu.
Tentu saja kau belum menjadi masa lalu. Terlalu dini menjadikanmu seperti itu. Atau mungkin, jauh dalam hatiku, aku selalu berharap, terus dan selamanya, kau akan menjadi kekinianku. Seseorang yang selalu mengikuti sejauh apa pun aku mengayuh langkah, mengayun hidup. Jika perlu tanpa kuminta. Seperti hujan yang turun malam ini. Yang dinginnya, kurasa akan terus menempeliku sampai besok pagi.


Tak ada yang mudah lepas begitu saja. Seperti kekangenan kita pada hujan. Meski kelak ia berhenti turun, tentu wangi udara masih akan menyebarkan segala tentang ia. Menguap hingga lalu kembali ke atas sana. Dan turun lagi menjadi hujan. Lantas aku berpikir, sebenarnya hidup cuma berputar di tempat itu itu saja. Tak pernah terputus. Mungkin, hanya pikiran kita yang selalu ingin mengambil peran. Bermain-main di dalamnya. Seperti katamu pada suatu waktu: kita selalu mempunyai pemikiran sendiri terhadap suatu hal. Beruntunglah jika benar. Bagaimana ketika salah? Maka menurutku, kita cuma akan terjebak dalam putaran edar pandang kita sendiri. 

 

Lalu aku berpikir, bagaimana jika selamanya itu sebenarnya tak pernah ada. Tak benar-benar ada. Kesemuanya hanya konsep dalam pikiran yang kita mainkan karena enggan dengan kata perpisahan. Seperti kebersamaan kita, yang ternyata, ah, kau tahu aku tak berani mengatakannya, mungkin saja tak bertahan lama. 


Malam ini aku mengenang percakapan kita. Riuh tawa dan segaris senyum yang kita urai melalui sekat ruang maya. Betapa aku kagum dengan keberanianku, ketika menceritakan banyak hal padamu. Salah satunya adalah mengenai mimpiku kelak. Mimpi, yang setelahnya kau tambahkan kata kita di belakangnya. 


Tapi mimpi, tentu tak pernah sama ketika kita menjejak kenyataan. Ternyata kita disekati banyak hal. Tak cuma batas antara maya dan nyata. Tak hanya sekat antara jarak yang enggan dilipat agar mendekat. Tapi ketidakyakinan akan sebuah mimpi yang entah bagaimana caranya bisa diwujudkan. Lalu kita hanya berputar. Mencari cara. Tanpa pernah tahu, jika mimpi, sebenarnya mempunyai kekuatan tersendiri untuk mewujudkan diri. Kita hanya harus percaya. Yakin. Berserah, lantas pasrah. 


Masihkan yakin, menjadi satu-satunya jembatanmu menuju ke arahku? 


Masihkah?”

Dan aku menutup laptop di hadapanku. Tanpa punya kuasa untuk sekedar menjawab dan mengabarkan bahwa aku telah menerima emailnya.

Mungkin, hal yang akan selalu abadi adalah kenangan. Atau harapan. Pada kenyataannya, kita memang cuma mempunyai kedua hal itu. Tidak dengan masa sekarang, apalagi hari yang akan datang.
Belakangan, entah kenapa, aku begitu rindu masa lalu. Masa kecil. Setiap masa yang terlewati. Aku berharap memiliki kemampuan memutar waktu, lalu hinggap pada saatsaat dulu. Kalau bisa, mungkin tak perlu kembali. Aku, memang berharap bisa terus hidup di dalamnya. Aku, mungkin, cuma lelaki yang tak pernah bisa melepaskan diri dari kenangan.
Dan kau tahu? Dirimulah yang paling ingin kudatangi. Lalu kita akan bercerita apa saja, seperti biasa. Tentang senja, malam, hujan, dan segala yang tak pernah selesai.
Karena aku adalah hujan yang mengetuk kelopak matamu. Sedang kau, terlanjur lelap dalam mimpi. Hingga aku pergi–sekali lagi.

***

May, 17, 2013

Hari ini.

KRING.. KRING.. KRING..

Telepon di ruang tengah membangunkan aku. Ah. Rupanya aku jatuh terlelap di atas sofa. Di belakang tubuhku samar-samar kulihat siluet jingga yang menandakan bahwa hari sudah menjelang senja.

H0n3ys p1c !1367

Kulirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 17.26 WIB. Cukup lama aku terlelap. Kuraih ponselku dan melihat 17 panggilan tak terjawab. Apakah ada sesuatu yang penting? Namun alih-alih aku mengecek dan melihat siapa sang penelepon, aku lebih tertarik untuk mengetahui email yang sedari pagi belum sempat kubuka. Email yang memaksaku membuka kenangan yang kupendam berbulan-bulan yang lalu.

Kugerakkan mouse dan menekan nama Jingga yang berpendar di bagian atas emailku. Dan dengan satu klik aku kembali bersatu dengannya.

Jingga.

“Biru, udara pagi ini begitu lembab. Sisa hujan masih menempel pada dedaunan yang rantingnya terkadang bergerak tertiup angin. Dan perlahan aku mulai menulis–maksudku mengetik surat ini. Meski jujur dalam hati, aku tak pernah berniat mengirimkan apalagi mengetahui kau membacanya. Anggaplah surat ini sebagai teman bicara paling baik yang tak akan memberi komentar apa-apa terhadap ceritaku kecuali setuju dengan semua katakata.


Biru, kesalahan pertamaku adalah datang sepagi ini ke sebuah tempat terbuka dengan mengenakan celana jeans dan kaus lengan pendek tanpa cardigan kesayanganku. Aku pikir, dingin ini bisa kuabaikan seperti biasa. Tapi ternyata, setelah kepergianmu malam itu, setiap dingin menjadi terlampau berlebihan. Hiperbola. Rasanya seperti menusuk-nusuk hingga ke bagian tubuhku yang paling dalam. Seperti angin yang berhembus barusan. Aku baru tahu, ternyata dinginnya tak kalah dengan perasaan kehilangan.


Biru, kesalahan keduaku, adalah ternyata aku memerlukan sehelai sapu tangan untuk menyeka ujung mata. Sedari dulu, kupikir tak akan pernah membutuhkan benda itu. Tapi belakangan aku merasa, punggung tanganku sudah terlampau lelah menyeka air mata. Lagipula di tempat ini, terlalu ramai orang berlalu lalang. Jadilah sesekali, kudapati sepasang mata memerhatikanku dengan tatapan heran. Seorang perempuan, menekuri laptopnya dijedai tangan yang berulang mengusap air mata. 


Baru saja aku kembali menyeka ujung mata, kudapati sepasang lakilaki dan perempuan tengah bergandengan tangan, tertawa, dan saling menebar senyum satu sama lain. Mereka tampak sangat bahagia. Kenapa aku berkata tampak? Karena aku percaya, apa yang terlihat di luar, tak selalu sama dengan yang terjadi di dalam. Tapi sebenarnya, meski mereka–atau salah satu di antaranya–mungkin tengah berpura-pura, setidaknya itu lebih baik, daripada aku yang, katamu, terlalu berlebihan menerjemahkan rasa. Sehingga kepergianmu begitu menguras air mata, yang entah bagaimana caranya, terlalu ruah untuk ditandaskan begitu saja.


Benarkah bahagia itu ada, Biru? Atau hanya sekedar akhir dari kompromi mati-matian kepada hidup? Jika pun bahagia benar ada, dengan beragam kompromi itu, mungkin akan kucoba menenangkan diriku sendiri, dengan berkata, jika kehilangan adalah siklus
paling alami dari pertemuan. Adakah pertemuan yang abadi selamanya, Biru? Kupikir, kau hanya akan menggelengkan kepala atas pertanyaanku barusan. 


Aku tengah menatap daun yang jatuh tepat di sebelah sepatuku. Entah kenapa angin malah membawanya kesitu. Mungkin sekedar mengingatkan, bahwa kita tak pernah bisa memilih hendak jatuh kemana. Hendak jatuh pada siapa. Hendak jatuh karena apa. Bahwa hidup adalah mengenai berusaha, lantas menerima. Seperti daun yang begitu rela, dan tak pernah bertanya kenapa ia yang mesti dijatuhkan. Kuharap aku pun, akan bisa serela itu. Suatu hari nanti.”

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Jingga mengabarkan kabar kepedihan. Tepat saat aku menuntaskan membaca emailnya, mentari telah tenggelam dengan sempurna. Dan tetiba semuanya menjadi gelap gulita. Hanya menyisakan siluet terang yang berasal dari layar laptopku. Selama beberapa saat aku termenung. Memantapkan diri apa yang sebaiknya aku tuliskan sebagai balasan email yang dikirimkan Jingga kali ini. Ya, kali ini kuputuskan akan menjawab email yang dikirimkannya.

Kutekan tombol reply dan mulai menulis.

“Mungkin cinta seperti hujan, yang bisa datang dan jatuh kapan saja. Semaunya. Sekehendak ia. Sesekali menunjukkan pertanda. Berkali-kali malah abai dan turun tiba-tiba. Sayangnya, kita tak bisa menentukan, pada tanah yang mana ia memilih luruh.

Jingga, kali ini aku tak akan menahannya lagi. Ya, aku memilih luruh bersamanya. Mencintaimu.”

Email sent.

senja-wailago
-selesai-

PS: Tulisan ini adalah kolaborasi antara keisengan rinibee dan capella. Kalau anda membaca tulisan puitis dan romantis, bisa dipastikan itu tulisan capella.. :mrgreen:

Lalu bagian mana yang punya rinibee? Yang bagian nulis titik dan koma.. *eh?

:))) 😆 :mrgreen:

Enjoy!

Advertisements

5 thoughts on “Aku, Jingga dan Kenangan

  1. Pingback: Update List #ALoveGiveaway | Words of 'Poetica'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s