Pada suatu petang..

Hai kamu..

Ya, kamu… kamu yang kini semakin sibuk dengan duniamu. Semenjak kepindahanmu ke ibukota setelah kau mendapatkan promosi dari bos barumu, aku tak lagi bisa memandangmu sepuas hatiku lagi.

 

Hai kamu..

Ya, kamu. Gadis periang dengan bola mata jernih dan bulu mata yang lentik. Apa kabarmu sekarang, sayang? Apakah kau masih mengingatku sama seperti aku mengingat semua kenangan kita? Masihkah kau mengingat kebersamaan demi kebersamaan yang tercipta di antara kita berdua?

Bagaimana kau selalu menceritakan kisah-kisahmu padaku. Tentang Arman kekasihmu yang menduakanmu, tentang Bayu laki-laki yang diam-diam kau kagumi atau tentang Arya, laki-laki playboy yang selalu mengejarmu?

Ya sayang, aku masih mengingatnya. Pun ketika kau tak menyadari bahwa aku melihatmu menangis sendirian di kamar tatkala Arman mengirmkan undangan pernikahannya dengan Sandra sahabatmu sendiri. Aku merasakannya sayang, merasakan setiap perih yang kau rasa, setiap luka yang menganga, dan setiap air mata yang menetes. Air mata yang kau sembunyikan dari bundamu, hanya karena kau tak ingin beliau mengkhawatirkanmu.

Sayang, kuharap kau baik-baik saja di sana..

 

Hai Cinta..

Ya, izinkan aku memanggilmu cinta.. Karena aku memang mencintaimu. Meski kau tak pernah tahu, karena aku tak pernah sanggup mengatakannya padamu. Aku hanya bisa mendampingimu, dekat denganmu dan selalu berada di sisimu. Tahukah kau mengapa aku melakukan itu semua?

Itu semua karena aku mencintaimu..

 

Cinta.. Entah sudah berapa purnama aku tak pernah menjejakkan kakiku kembali di tempat ini. Tempat kita menghabiskan waktu berdua.. Dimana aku bisa memandang senyum manismu yang selalu berhias lesung pipit di pipi kirimu. Tapi itu dulu saying.. sebelum kau meninggalkan kota ini, meninggalkan kota tempat kau dilahirkan dan dibesarkan.. meninggalkan aku sendirian..

Kemana dirimu, sayang…? Aku merindukanmu..

 

Hari ini aku mengunjungi rumahmu lagi. Rumah yang kini tampak lengang selepas kepergianmu. Tahukah kau cinta? Rambut kelabu mulai tumbuh menghiasi mahkota bunda.. Bunda yang menyayangi aku sama seperti engkau menyayangiku..

Beliau masih menyambutku hangat.. menyuguhkan aku dengan susu hangat seperti biasanya..  Ah cinta, seandainya engkau ada di sini…

***

 

Pagi itu aku kembali mengunjungi rumahmu. Aku tahu mungkin aku tak akan dapat melihat senyum manismu. Aku hanya ingin memastikan bahwa beliau baik-baik saja. Ya cinta, aku berjanji dalam hatiku, akan menjaga bunda selama engkau tak ada di sini.

Dan cinta, beliau baik-baik saja..

 

Hari ini aku menemani beliau lagi. Senyum manisnya menyambutku. Aku tahu, mungkin kedatanganku tak berarti banyak untuknya. Tak dapat menggantikan kerinduannya akan kehadiranmu di sisinya. Dan setiap aku datang, aku lebih banyak diam dan mendengarkannya bercerita.

Tahukah kau? Ia selalu bercerita tentangmu, tentang pekerjaan barumu dan bagaimana kau menikmatinya hari demi hari. Beliau terlihat bahagia saat bercerita tentangmu.. dan akupun ikut bahagia mendengarnya.

 

Tiba-tiba sebuah suara mobil menghentikan obrolannya tentangmu. Sebuah suara yang mengejutkan kami berdua. Bunda berdiri dari tempatnya duduk, tangan rentanya membuka perlahan pintu dapur yang juga sekaligus menjadi pintu belakang rumah mungil bernuansa hijau ini.

Seraut wajah muncul dari balik pintu, mencium hormat tangan bunda. Mendekatkan tangan renta itu pada keningnya. Sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya, lalu menyunggingkan sebuah senyum. Senyum manis berhias lesung pipit yang sangat kami rindukan. Senyumanmu..

 

Aku terdiam tak beranjak dari tempatku berdiri. Hampir tak percaya ia berada di dekatku lagi. Sesaat kemudian aku berjalan mendekatinya, dan ia memandangku.. dengan senyum merekah..

“RONAN….!!” Jeritnya..

Ia mengingatku..! Ia mengingat diriku..! Seandainya ia tahu betapa bahagianya hatiku saat ini. Ia mendekapku dalam pelukannya, dan hampir saja ia menciumku ketika seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam rumah dan perlahan ia melepas pelukannya padaku. Tangan mungilnya terarah ke lengan kekar pria di sampingnya. Mengenalkannya pada bunda sebagai ‘Dony’ kekasihnya.

Aku hanya bisa terdiam mematung. Tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tiba waktunya ia mengenalkanku dengan laki-laki yang kini telah memiliki hatinya..

“Dony, ini Ronan.. Dia sahabat baikku.. Dia manis sekali khan…?” suara Maia terdengar memperkenalkan kami berdua.

 

Manis? Jadi ia hanya menganggapku manis. Bukan gagah atau yang lain. Dan akupun hanya mampu menatap sang lelaki kekar pilihan Maia.. Bagaimanapun aku harus bisa menerimanya. Kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga. Maka akupun menyunggingkan senyum termanisku dan menatap sang pria, lalu berkata..

 

 

 

 

“meeeooonnngg…”

Advertisements

2 thoughts on “Pada suatu petang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s