Habis…….

Asal kamu tahu… Mati-matian aku ngorbanin semua waktuku cuma buat ngasih perhatian sama kamu.. Dan asal kamu tahu, setiap bulan aku sisihkan uang jajanku cuma buat beli hadiah ulang tahun buat kamu.. Iya, sepatu biru yang kata temen-temenmu super keren itu.. Yang jadi idamanmu dan mereka sejak dulu..

Asal kamu tahu… Aku sesuaikan jadwal kuliahku biar sejalan sama kamu supaya kita punya lebih banyak waktu buat barengan.. Bahkan harus kurelakan bahwa aku ngga bisa sekelas sama temen-temenku. Demi apa?? Demi kamu! Tapi apa hasilnya?? Apa??

 

Sekarang kamu bilang aku udah mulai mengganggu hari-harimu.. Katamu teleponku cuma bikin kamu dijauhi temen-temenmu karena mengira aku cewek posesif..

Oke, aku paham. Dan kukurangi teleponku saat kamu sedang bersama teman-temanmu..

 

Biasanya kamu ngga keberatan kalo aku ikut kamu maen basket, tapi sekarang?? Kamu bilang kamu mau jalan dulu sama temen-temenmu.. dan ngga ada seorangpun yang bawa pacarnya! Itu katamu..

Oke, aku bisa ngerti, sayang…

 

Dan tiba-tiba saja, jadwal kuliah kita ngga ada yang sama. Kamu dah ngga bisa lagi jemput aku pulang kuliah di kampusku. Lalu kamu ngga nongol lagi tiap malem minggu.. Malah ganti malem Jumat. Please deh yang.. siapa yang pacaran malam Jumat, beib?

Dan lagi-lagi aku cuma bisa bilang..

Oke sayang, aku bisa ngerti..

 

See…? Aku selalu bisa ngertiin kamu.. Aku selalu bisa nerima semua keinginan kamu.. Apa itu belom cukup sayang?

 

***

“Yang, kita putus.. Udah ngga ada kecocokan lagi di antara kita..

Aku cuma butuh waktu untuk sendiri dulu..”

 

Itu katamu padaku. Dan hubungan kita pun berakhir.. Hubungan 5 tahun! 5 tahun……!!!!!!!!! Yang ternyata ngga berarti apa-apa buat kamu.. Mulai dari pacaran backstreet saat masih berseragam putih abu-abu sampai kita berdua sama-sama duduk di bangku kuliah.. Oke, mungkin aku merasakan hal yang sama. Kebosanan dalam hubungan. Tapi sejauh ini, aku bisa nerima itu semua sayang.. Kenapa tidak denganmu?

Siyaaaaaaaaalll….!!

Dan yang lebih siyal… aku selalu teringat sama kamu.. Kamu selalu ada dimana-mana..!

Setiap aku ke kantin kampus, kamu seakan duduk nemenin aku makan bakso favorit kita. Bahkan di emperan kampus tempat jualan cilok itu, aku menangkap bayangan kamu sedang nongkrong makan cilok sembari nungguin aku keluar kelas..

 

Kenapa kamu selalu ada dimana-mana???

 

Hingga tiga bulan kemudian, aku mulai berhalusinasi. Kita harus balik lagi. Selama ini aku terlalu sering bareng kamu. Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama. Jadi…. kamu harus balik sama aku!

 

Maka, kuangkat gagang telepon rumahku dan menghubungi nomor ponselmu.. Sampai pada dering ketiga, tak ada yang menjawab. Aku diliputi rasa cemas. Kutekan tombol redial dan menunggumu mengangkat telepon di ujung sana..

“Halo..?”

 

Klik. Kututup telepon rumahku. Lalu bergegas mengambil ponselku. Kutekan kembali nomor henponmu, berharap sesaat sebelumnya aku salah menekan nomor.. Jika tidak maka…

“Halo..?”

Suara yang sama yang mengangkat teleponmu.. Dan pembicaraan pun terjadi di antara kami berdua. Sang pengangkat telepon mengabarkan bahwa dirimu sedang berganti baju setelah bermain basket, sedangkan berdasarkan pengakuannya ia adalah..

 

kekasihmu!

 

Kulajukan sepeda motorku menuju tempat yang selama 5 tahun terakhir selalu kudatangi bersamamu.. Tak membutuhkan waktu lama, karena memang gedung berlantai empat itu cukup dekat dengan rumahku. Aku belum terlambat, masih kulihat sekelebat bayanganmu berjalan menuju tempat parkir motor.. kutepikan sepeda motorku. Kuparkir begitu saja, lalu bergegas menghampirimu.

Perempuan yang kuduga mengangkat ponselmu beberapa waktu sebelumnya bergelayut manja di lengan kekarmu. Lengan kekar yang seharusnya hanya untukku.. hanya aku yang boleh bergelayut manja di sana..

 

Tanpa pikir panjang, kudekati kalian berdua. Sebelum ia sempat mendekatkan pipinya menyentuh lenganmu, kutarik lengan kanannya dengan cepat..  Penuh amarah kutampar pipinya, meninggalkan noda bersemu merah di pipi tirus pucatnya.. Ia terlihat marah, diangkatnya tangannya hendak membalas tamparanku. Namun aku lebih gesit. Kutangkap tangannya dan kukunci di belakang punggungnya.. lalu kudorong keras.. Ia jatuh terjerembab, kepalanya terbentur pembatas besi. Lalu diam tak bergerak..

 

Aku puas.. entah apa yang terjadi padanya.. Satu hal yang terngiang-ngiang di kepalaku. Kamu sudah melupakan aku.. Kamu sudah melupakan kenangan bersamaku selama 5 tahun terakhir.. kamu sudah melupakan kita..!

 

Jika aku tak dapat memilikimu, maka.. tak ada satupun yang bisa..! Tidak dia atau siapapun..

 

 

HABIS PERKARA!

Pada suatu petang..

Hai kamu..

Ya, kamu… kamu yang kini semakin sibuk dengan duniamu. Semenjak kepindahanmu ke ibukota setelah kau mendapatkan promosi dari bos barumu, aku tak lagi bisa memandangmu sepuas hatiku lagi.

 

Hai kamu..

Ya, kamu. Gadis periang dengan bola mata jernih dan bulu mata yang lentik. Apa kabarmu sekarang, sayang? Apakah kau masih mengingatku sama seperti aku mengingat semua kenangan kita? Masihkah kau mengingat kebersamaan demi kebersamaan yang tercipta di antara kita berdua?

Bagaimana kau selalu menceritakan kisah-kisahmu padaku. Tentang Arman kekasihmu yang menduakanmu, tentang Bayu laki-laki yang diam-diam kau kagumi atau tentang Arya, laki-laki playboy yang selalu mengejarmu?

Ya sayang, aku masih mengingatnya. Pun ketika kau tak menyadari bahwa aku melihatmu menangis sendirian di kamar tatkala Arman mengirmkan undangan pernikahannya dengan Sandra sahabatmu sendiri. Aku merasakannya sayang, merasakan setiap perih yang kau rasa, setiap luka yang menganga, dan setiap air mata yang menetes. Air mata yang kau sembunyikan dari bundamu, hanya karena kau tak ingin beliau mengkhawatirkanmu.

Sayang, kuharap kau baik-baik saja di sana..

 

Hai Cinta..

Ya, izinkan aku memanggilmu cinta.. Karena aku memang mencintaimu. Meski kau tak pernah tahu, karena aku tak pernah sanggup mengatakannya padamu. Aku hanya bisa mendampingimu, dekat denganmu dan selalu berada di sisimu. Tahukah kau mengapa aku melakukan itu semua?

Itu semua karena aku mencintaimu..

 

Cinta.. Entah sudah berapa purnama aku tak pernah menjejakkan kakiku kembali di tempat ini. Tempat kita menghabiskan waktu berdua.. Dimana aku bisa memandang senyum manismu yang selalu berhias lesung pipit di pipi kirimu. Tapi itu dulu saying.. sebelum kau meninggalkan kota ini, meninggalkan kota tempat kau dilahirkan dan dibesarkan.. meninggalkan aku sendirian..

Kemana dirimu, sayang…? Aku merindukanmu..

 

Hari ini aku mengunjungi rumahmu lagi. Rumah yang kini tampak lengang selepas kepergianmu. Tahukah kau cinta? Rambut kelabu mulai tumbuh menghiasi mahkota bunda.. Bunda yang menyayangi aku sama seperti engkau menyayangiku..

Beliau masih menyambutku hangat.. menyuguhkan aku dengan susu hangat seperti biasanya..  Ah cinta, seandainya engkau ada di sini…

***

 

Pagi itu aku kembali mengunjungi rumahmu. Aku tahu mungkin aku tak akan dapat melihat senyum manismu. Aku hanya ingin memastikan bahwa beliau baik-baik saja. Ya cinta, aku berjanji dalam hatiku, akan menjaga bunda selama engkau tak ada di sini.

Dan cinta, beliau baik-baik saja..

 

Hari ini aku menemani beliau lagi. Senyum manisnya menyambutku. Aku tahu, mungkin kedatanganku tak berarti banyak untuknya. Tak dapat menggantikan kerinduannya akan kehadiranmu di sisinya. Dan setiap aku datang, aku lebih banyak diam dan mendengarkannya bercerita.

Tahukah kau? Ia selalu bercerita tentangmu, tentang pekerjaan barumu dan bagaimana kau menikmatinya hari demi hari. Beliau terlihat bahagia saat bercerita tentangmu.. dan akupun ikut bahagia mendengarnya.

 

Tiba-tiba sebuah suara mobil menghentikan obrolannya tentangmu. Sebuah suara yang mengejutkan kami berdua. Bunda berdiri dari tempatnya duduk, tangan rentanya membuka perlahan pintu dapur yang juga sekaligus menjadi pintu belakang rumah mungil bernuansa hijau ini.

Seraut wajah muncul dari balik pintu, mencium hormat tangan bunda. Mendekatkan tangan renta itu pada keningnya. Sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya, lalu menyunggingkan sebuah senyum. Senyum manis berhias lesung pipit yang sangat kami rindukan. Senyumanmu..

 

Aku terdiam tak beranjak dari tempatku berdiri. Hampir tak percaya ia berada di dekatku lagi. Sesaat kemudian aku berjalan mendekatinya, dan ia memandangku.. dengan senyum merekah..

“RONAN….!!” Jeritnya..

Ia mengingatku..! Ia mengingat diriku..! Seandainya ia tahu betapa bahagianya hatiku saat ini. Ia mendekapku dalam pelukannya, dan hampir saja ia menciumku ketika seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam rumah dan perlahan ia melepas pelukannya padaku. Tangan mungilnya terarah ke lengan kekar pria di sampingnya. Mengenalkannya pada bunda sebagai ‘Dony’ kekasihnya.

Aku hanya bisa terdiam mematung. Tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tiba waktunya ia mengenalkanku dengan laki-laki yang kini telah memiliki hatinya..

“Dony, ini Ronan.. Dia sahabat baikku.. Dia manis sekali khan…?” suara Maia terdengar memperkenalkan kami berdua.

 

Manis? Jadi ia hanya menganggapku manis. Bukan gagah atau yang lain. Dan akupun hanya mampu menatap sang lelaki kekar pilihan Maia.. Bagaimanapun aku harus bisa menerimanya. Kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga. Maka akupun menyunggingkan senyum termanisku dan menatap sang pria, lalu berkata..

 

 

 

 

“meeeooonnngg…”