Sesaat sebelum bintang jatuh

“Seseorang yang telah mempunyai pasangan lalu menemukan ‘cinta’ lain, itu seperti sedang tersesat di padang pasir, yang kemudian menemukan sumber air tanpa pernah tahu apakah sumber air itu akan menawarkan dahaga atau malah meracuninya”

Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Awan. Hening. Nayla terdiam. Lama dan sunyi. Terlihat ia sekuat tenaga menahah agar air matanya tak menetes, mengambang dalam mata yang kala itu mengenakan lensa kontak berwarna coklat tua. Perih rasanya. Bukan….bukan matanya yang perih. Ada bagian lain yang lebih sakit. Tahukah kau bahwa ada satu ruang kecil dalam hati manusia yang menjadi tempat bermula segala rasa? Yah, tempat itu kecil saja tapi di sanalah semua berasal. Dan dari situlah rasa sakit itu muncul. Nayla menghela napas.

“Kamu tau kenapa aku menyebutnya seperti tengah berada di padang pasir?” Awan memejamkan mata. Nayla tak pernah tahu bahwa Awan pun sedang mati-matian menahan tangis. Entah, seperti ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa pria tak boleh menangis. Bahwa tangisan itu bukannya akan melegakan tapi melemahkan.

“Karena kamu berjalan sejauh itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya sudah jelas-jelas kamu dapatkan. Kamu pergi jauh hingga lelah hatimu. Gersang. Kosong. Berharap menemukan sumber air yang mampu memuaskan dahagamu tanpa pernah kau tau bahwa ia juga bisa meracunimu. Yah, karena air yang kau temui itu baru sekali saja kau lihat. Kau kalap. Merasa bahwa ialah penawar dahagamu. Kita tak pernah tau Nay. Takan pernah tau.” Suara Awan terdengar melemah.

Tak mudah pula untuk Awan merangkai kata itu. Menyeimbangkan akal dan perasaannya memilah kata demi agar wanita disampingnya ini mengerti apa yang diucapkannya. Terkadang, ketika hati sedang emosi, semua seperti terpentalkan tak sanggup diserap untuk kita pahami. Maka dengan hati hati Awan berkata. Diantara sesak yang dirasakannya. Sesak karena tangis yang ia tahan sedari tadi.

Di sinilah mereka sekarang. Duduk bersebelahan di sebuah ayunan kayu yang sudah mereka mainkan sedari kecil. Awan dan Nayla memang telah bersahabat sejak lama. Saling menjaga dan menopang satu sama lain. Bahu Awan adalah tempat ternyaman untuk menampung semua tangis Nayla. Sebaliknya, tawa Nayla ibarat obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan semua letih di hati Awan. Mereka saling melengkapi. Saling mengingatkan. Dan cinta kadang hadir tak kenal tempat. Tak peduli bahwa Nayla hanya menganggap Awan sebatas sahabat. Ia menyusup saja tanpa ampun. Menyerang hati Awan yang lemah tanpa perlawanan. Awan tak bisa mengelak selain merasakannya. Tak lebih dari sekedar merasakan tanpa bisa mengutarakanYang pertama, karena Awan begitu takut setelah mengetahuinya maka Nayla perlahan akan menjauh. Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang kita sayangi pergi menjauhi kita untuk alasan apapun.

Yang kedua adalah untuk alasan karena Nayla telah mencintai pria lain. Yah, sekitar dua tahun lalu Nayla datang sambil tersenyum riang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang lama diidam-idamkannya. Dengan ringan ia bercerita bahwa dirinya baru saja menemukan pria itu. Pria yang ia rasa adalah belahan dari jiwanya yang selama ini kosong belum terisi. Awan tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. Senyum untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba menghujamnya tepat di bagian hati yang ia jaga selama ini untuk Nayla. Perih. Awan seperti melihat mimpi-mimpi itu terbang satu per satu meninggalkannya. Hinggap di tebing yang paling tinggi. Tebing yang takan sanggup dijangkau Awan.

Pria itu bernama Bintang. Ah, mengapa juga namanya harus bintang? Awan tahu betul sedari kecil Nayla sudah tergila gila pada benda langit satu itu. Nayla percaya bahwa bintang jatuh benar dapat mengabulkan sebuah permohonan. Terpejamlah dan panjatkan doa ketika bintang itu melesat turun dari langit, maka impianmu akan terwujud. Begitu yang selalu diyakini Nayla.

Satu yang Awan tak pernah tahu, suatu malam ketika jam hampir bergerak ke angka 12 menunjukan pergantian hari, tepat tanggal 01 januari 2010, tanggal yang bukan hanya menjadi tanda pergantian tahun, tapi di tanggal itulah Nayla menggenapi usianya yang ke 18 tahun. Yah, ketika itu dia setia menatap langit. Menahan sekuat-kuatnya agar mata cantik itu tak terlalu sering berkedip. Khawatir benda itu melesat lewat begitu saja dari pandangan. Lama ia menunggu, tiba tiba ada seberkas cahaya turun dari langit kearah barat. Cepat dan Nayla pun memejamkan mata. Berdoa. Memanjatkan pinta pada bintang jatuh.

“Pertemukan aku dengan belahan jiwaku, bintang. Aku tahu ia sedang menyusuri jalannya untuk segera menemukanku. Permudahlah. Aku di sini. Setia. Menanti.” Doanya kala itu.

Advertisements