Sedih yang tak berujung…

Kamu satu – satunya yang mampu melambungkan angan lebih tinggi dari semestinya. Yang membutuhkan kesadaran lebih agarku mampu tetap berpijak pada tempat seharusnya. Memantul – mantulkan asa pada dinding – dinding harapan. Dan sanggup mengukir senyum lebih indah dari biasanya. Seperti itulah—-kamu. Bagiku.

Lalu aku, katamu. Adalah napas yang membuat kamu sanggup mempertahankan hidup lebih lama. Bagai udara dalam ruang – ruang hampamu. Menyelinap menggenapi mimpi kosongmu. Aku adalah impian. Impian yang begitu tinggi namun tetap mampu kamu raih. Karena bagaimanapun tangan kita selalu terpaut. Meski itu dalam sebuah ruang bernama “jarak”.

Lihat betapa kita saling melengkapi satu sama lain. Selalu kelebihan cinta tapi tetap dapat menikmatinya. Hingga lalu kita sadar. Betapa tak ada yang benar – benar abadi di dunia ini. Tidak aku, kamu, pun sesuatu diantara kita. Ada satu titik dimana kita tak hanya harus melepaskan apa yang selama ini terikat erat. Tapi lebih kepada keberanian untuk merelakan satu sama lain. Dan aku ataupun kamu. Jelas tak pernah punya keberanian itu.

Selama ini kita terlalu sibuk mencintai. Selalu berusaha menunjukkan sebesar apa cinta yang kita punya. Tanpa kita sadari bahwa waktu yang berjalan sedang mengintai melihat kapan kita akan lengah. Lalu menelusup dan menggerogoti apa yang telah kita bangun. Hingga salah satu dari kita pun lalu kehilangan keseimbangan. Kamu, tiba – tiba tak mampu berdiri setegap dulu. Untuk mengatakan kalau kamu mencintaiku.

Kamu ataupun aku, dulu sama – sama tahu kalau kita tak mampu berjauhan satu sama lain. Mereka yang iri bilang kita sakit. Ketergantungan tidak hanya secara emosional. Tapi terlebih pada kehadiran fisik masing – masing. Aku pun kamu tak lagi sanggup berjauhan. Meski hanya sejengkal. Seperi terpisah jurang, katamu. Lalu setelah itu kamu akan memelukku erat. Aku yang sebenarnya terlalu sesak masih sanggup meyakinkanmu, bahwa semua akan baik – baik saja.

Semua memang baik – baik  saja. Hingga perlahan aku merasa kamu mulai berjarak. Aku tak lagi menjadi napasmu seperti biasa. Kamu bisa leluasa menghirup udara meski tanpaku. Dan kabar yang paling mengejutkan adalah ketika tiba – tiba kamu bilang bahwa kamu akan—-menikah?

Pria itu tiba – tiba hadir. Aku bahkan tak pernah mengenal ia sebelumnya. Pria yang katamu terlalu serius. Kurang bisa diajak bersenang  – senang. Pria yang katanya juga kurang mampu menyeimbangi imajinasimu terlampau tinggi. Tapi ia pria yang katanya sangat tepat untukmu. Dan kamu berjanji akan bahagia.

Entah kamu merasa atau tidak. Betapa sulit melepaskan diri dari kamu. Sama sulitnya seperti saat kita selalu berusaha saling mengikatkan diri satu sama lain. Jika pada kenyatannya ternyata kamu mampu melepas ikatan itu. Mungkin kamu sudah punya apa yang kita sebut keberanian. Lalu kamu meninggalkan aku. Berserakan bersama angan – angan yang sempat lama melambung tinggi.

***

Ini hari pernikahanmu. Hari dimana kamu akan mengenakan gaun terbaik dan pasti akan terlihat sangat cantik. Lalu pria itu akan terus mengukir senyum dan menjadi orang paling bahagia karena mampu meyakinkanmu untuk meninggalkanku lalu memilih bersanding dengannya. Tak peduli aku yang berteriak – teriak kesakitan karena luka itu tepat kamu toreh memanjang pada hatiku. Sakit.

***

Jelas kudengar suara langkah kaki mendekat. Samar kulihat kamu datang dan memandang iba padaku. Kamu benar – benar cantik.

Lalu aku melihatmu memalingkan muka. Kamu tersenyum. Meski matamu tak pernah sangup menyembunyikan kesedihan. Sesaat kamu membalikkan badan. Kemudian menjauh. Berlalu.

 

 

Saat menjelang hari-hari bahagiamu

Aku memilih tuk diam dalam sepiku

Saat mereka tertawa di atas perihku

Tentang cintaku yang telah pergi tinggalkanku…

(Glen Fredly – Kisah tak berujung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s