Kesalahan yang manis: Sebuah Keputusan

Dan perlahan, seperti tak direncana, aku mendengar ada sesuatu yang sepertinya retak dan berada sangat dekat dengan diriku. Hatiku.

Aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri ketika aku merebahkan diri di kamarku lagi, sepulang dari kampus siang ini. Bayangan pak dosen idolaku sedang berjalan bersama si gadis cantik itu menari-menari di kepalaku. Idola. Ah.. benarkah ia hanya idolaku? Ataukah sebenarnya aku sudah jatuh hati padanya..?

‘Ayolah Diana.. Apa yang sebenarnya engkau rasakan? Bahkan kepadaku pun engkau tak mau jujur?’ batinku seakan berbisik.. Dan untuk pertama kalinya aku baru menyadari. Ternyata, aku bukan hanya menyukainya, tapi aku sudah mulai mencintainya..

***

Cafe Green, hari ini..

“Jadi, akhirnya engkau putuskan pulang lagi ke Yogyakarta? Setelah sepuluh tahun yang lalu engkau lari dari perjodohan kita?”suara pria berkaca mata oval itu terdengar datar. Tak ada emosi kemarahan dalam kalimatnya. Semuanya terdengar wajar. Perempuan berambut hitam legam itu hanya tersenyum, tak berkata apapun, sepertinya sedang mengatur kalimatnya untuk memberikan jawaban terbaik pada pria di hadapannya.

“Begitulah.. tapi toh kepergianku tidak menyisakan luka di hatimu khan? Jangan bilang kau menangis tujuh hari tujuh malam karena aku meninggalkanmu…..” Mayang mencoba berkelakar.

“Kau banyak berubah Mayang.. Hampir saja aku tidak mengenalimu.. sepuluh tahun menghilang dan sekarang kau datang dengan penuh kejutan..”

“Hahaha… Bisa saja kau ini..  Jangan bilang kali ini kau jatuh cinta padaku, Lutfi……!” dan keduanya pun tertawa bersama.

***

Sepuluh tahun yang lalu..

Perempuan berambut sebahu itu masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga. Ia sangat bahagia mendengar kabar bahwa ternyata segala permohonannya pada Sang Pemilik Hidup akhirnya terjawab. Betapa ia ingin berteriak untuk meluapkan perasaannya setelah mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan sejak kecil oleh kedua orang tua mereka.

“Kami telah menjodohkanmu dengan Lutfi Hidayat, putra sahabat ayahmu.. Ya Mayang, Lutfi yang juga sahabatmu itu..”

Begitu kalimat yang diucapkan sang bunda kepadanya. Dengan senyum yang tak bisa lepas dari bibir mungilnya ia berjalan menuju rumah Lutfi, berharap Lutfi akan menerima perjodohan itu dengan perasaan yang sama seperti dirinya. Baru saja ia hendak melangkah masuk pekarangan rumah megah itu, terdengar suara dari dalam rumah.

“….mana mungkin saya menikahi Mayang…? Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri.. Saya tidak pernah mencintainya….”


..dan senyum itu perlahan menghilang dari wajahnya. Tak perlu berpikir lama baginya untuk memutuskan pergi meninggalkan Yogyakarta dan meneruskan kuliahnya di kota Pahlawan. Keputusan penuh emosi yang diambilnya untuk menghindari kekecewaan yang lebih besar karena penolakan Lutfi atas cinta yang ditawarkannya.

***

Cafe Green, hari ini..

“Ada seseorang yang spesialkah di hatimu May?” tanya Lutfi.

“Dulu sempat ada. Dan aku menyerah ketika menyadari bahwa aku tak pernah ada di hatinya… Di sisi lain, ada yang mencintaiku, tapi aku belum memutuskan.. masih ada yang harus kuselesaikan… dan… bagaimana denganmu? Ada yang kau cintai..?”

“aku…? entahlah… mungkin.. haha..” Lutfi tergelak, berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan yang mulai terasa canggung.

“Hey… kalau kita masih sama-sama sendiri, apa kita lanjutkan saja perjodohan itu?” kelakar Mayang. Namun kali ini Lutfi tidak ikut tertawa, “Jika saja kau datang beberapa waktu lebih cepat, mungkin aku akan mengiyakan ajakanmu itu, Mayang… Tapi kali ini, aku tak bisa.. Ada senyum manis yang tak pernah hilang dari benakku, ada perasaan indah yang mulai bersemi.. ada sebuah nama  yang selalu terngiang dalam ingatanku..” Lutfi berkata pelan dalam hati.

“Lutfi..?.. Lutfi? Kau diam saja.. Apa karena ucapanku? Itu hanya bercanda…! Jangan kau pikirkan..” Mayang berkata untuk mencairkan suasana..

Lutfi tersenyum, mengangkat cangkirnya untuk meneguk kopi hitamnya, yang ternyata habis.. Mata coklatnya menyapu ruangan cafe, mencari seorang waitress untuk mengisi kembali cangkir kopinya yang tak bersisa. Selama sepersekian detik, mata coklat itu menangkap bayangan yang lebih menarik, gadis di sudut ruangan dengan novel Perahu Kertas di tangan kirinya. Baru saja ia hendak berdiri menghampirinya, gadis itu berbalik dan beranjak pergi. Lutfi mengurungkan niat memanggilnya karena sang gadis memegang handphone di tangan kanan, berbicara dengan seseorang di seberang sana. Entah siapa. Mayang mengikuti arah pandangannya. Lalu menatap Lutfi yang masih terdiam.

“Diakah orangnya?” tanyanya.

“Maksudmu?”

“Ayolah Lutfi.. kejar dia. Aku bisa melihatnya dari wajahmu. Kalau memang dia yang terbaik, apalagi yang kau tunggu..? Pergilah..! Hampiri ia.. Tak usah pedulikan aku.. Aku masih ingin di sini, menghabiskan sisa coklat panasku sesaat lagi….”

Mata coklat itu berbinar, senyum terkembang di wajahnya. Ia menarik jaketnya dan menyambar handphone miliknya di atas meja.. Lutfi menatap wajah Mayang,  tersenyum sekilas padanya sebelum akhirnya membalikkan tubuh mencari seraut wajah yang telah mencuri hatinya. Wajah yang selalu merona merah ketika berhadapan dengannya, bahkan sejak pertama kali ia melihatnya duduk di sudut kanan ruang kelas dengan baju berwarna merah. Warna yang serasi dengan rona merah yang menghiasi pipinya saat ia memanggil gadis itu. Gadis yang salah masuk kelas. Gadis yang membuatnya betah berlama-lama di cafe ini berharap bisa berjumpa dengannya, hanya untuk menatapnya.  Gadis yang membuatnya mulai menyukai kopi, meskipun ia tak pernah menyukai kopi sebelumnya.
Dan ia masih saja bisa tersenyum, membayangkan ekspresi wajahnya yang lucu, matanya yang bulat, juga lesung pipi di pipinya. Ia selalu bisa tersenyum ketika mengingat tentangnya. Tentang seorang Diana..

“Hey Lutfi…!”

“Ya..?”

“semoga berhasil..”

Mayang menatapnya berjalan menjauh, berusaha tetap menjaga pandangannya hingga tubuh tegap itu berbelok di ujung jalan lalu menghilang dari jangkauan matanya. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma coklat panas dalam genggamannya lalu meneguknya perlahan. Handphone-nya berbunyi. Tak perlu menunggu lama ia mengangkatnya dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.

“Ya… aku pulang malam ini.. Jangan lupa jemput aku ya..?  Tentu saja aku merindukanmu…. Tapi aku bohong…..! Hahaha… Iya.. sampai nanti….”

Baru saja ia akan menutup teleponnya, ia mengucapkan kalimat yang sesaat sebelumnya sempat tertunda….

“Oh ya, An…. tentang permintaanmu itu….

..YA.., aku bersedia.. :)”

Klik, Mayang mengakhiri teleponnya. Dua menit, delapan belas detik. Telepon diakhiri, telepon dari Andri Prasetyo, tunangannya.

***

Kesalahan yang manis: Retakan Senja

…Baru kusadari, gadis cantik itu terlihat serasi berjalan disampingnya…sedangkan aku?

Berkali kali aku sudah mengingatkan diriku sendiri, sudahlah…tak usah berharap terlalu banyak pada pria yang bahkan kau tak mengetahui banyak hal mengenai dirinya, selain dia yang seorang dosen, selain dia yang sama sama menyukai novel yang aku baca, selain dia yang sudah mempunyai seorang gadis cantik disampingnya. Gadis cantik….aku menghela napas ketika menyebutkan kata itu. Betapa kala itu jantungku seakan berhenti berfungsi ketika melihat mereka berjalan menjauh meninggalkanku. Betapa mungkin aku tak akan terlalu kecewa seperti ini jika saja dari awal aku bisa memegang kendali atas diriku sendiri. Sudahlah…

Beberapa kali dalam seminggu, setiap sore biasanya aku selalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah café yang terletak tak jauh dari kampusku. Dengan berjalan kaki beberapa meter saja aku sudah bisa menenggelamkan diri berlama lama sambil menikmati secangkir cappuccino kesukaanku. Tempat yang sangat nyaman. Aku bisa melihat suasana sore yang menyenangkan. Kadang terlihat beberapa orang yang melewati café dan mereka berpasangan. Berpegangan tangan. Sungguh aku menikmati kemesraan yang mereka tunjukkan.

Secangkir cappuccino dan novel yang berteriak minta segera diselesaikan untuk dibaca, biasanya adalah perpaduan yang membuatku mampu berkonsentrasi penuh jika dua benda itu sudah ada dihadapanku. Tapi kali ini berbeda, entah aku masih saja memikirkan mengenai gadis kemarin itu. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Dia mungkin sahabat pak dosen, mungkin saudaranya juga karena mereka terlihat begitu dekat, aku menjadi sedikit tenang jika mengingat kemungkinan itu. Tapi…tentu saja dia juga bisa sangat mungkin adalah kekasih pak dosen. Atau tunangannya? Pikiran pikiran seperti itulah yang membuat aku merasakan sakit pada sebagian kecil hatiku.

Aku berdiri dari tempatku sekarang. Berpikir tak ada gunanya aku berlama lama berada di café ini selain hanya diam memandangi cangkir dan novel yang tiba tiba menjadi benda paling tidak bersahabat bagiku.

Beberapa langkah menuju pintu keluar, setelah membayar minumanku tadi, langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk di pojok sebelah kanan café. Ya..sosok itu. Sosok yang begitu aku kenal. Sosok Pak dosen. Ah, kenapa harus bertemu dia segala sih? Aku mengumnpat dalam hati. Mudah mudahan saja kali ini dia tak melihatku. Lanjutku masih dalam hati.

Hingga ketika aku hendak melangkahkan kaki lagi, tiba tiba sebuah suara terdengar memanggilku.

“Diana….”

Deg. Seketika itu lagi lagi jantungku seakan berdegup seribu kali lebih kencang dari biasanya. Tak mungkin aku terus saja keluar tanpa menghiraukan suara tadi. Maka aku menoleh. Dan kulihat ia sedang berjalan menghampiriku.

“Kamu dari tadi disini? Kok saya ga ngeliat kamu ya…” Ujarnya ramah.

“Iya pak. Sudah dari satu jam yang lalu.”

“Oh gitu. Saya masih mau disini sebentar lagi, kalau kamu tidak sedang buru buru, mungkin kita bisa duduk sama sama?”

Hah. Duduk berdua di café ini. Iya. Hanya berdua dengannya? Aku merasa mau pingsan. Aku tak bisa menjawab ajakannya. Aku hanya terlihat mematung tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kenapa Diana? Ada yang salah?”

“Ah iya pak, Bukan. Bukannya mau menolak. Tapi saya….saya kebetulan sudah ada janji dengan teman saya. Dia sudah menunggu saya. Maaf pak.” Yah aku melewatkan kesempatan bagus yang mungkin hanya akan datang sekali dalam hidupku.

“Oh iya tidak apa apa” Dia tersenyum lalu kemudian kudengar ponselnya berdering memberitahukan ada panggilan masuk yang harus segera dijawabnya. Ketika itu pula aku berpamitan. Dan aku melihatnya membalikan badan. Melangkahkan kaki ke meja tempat semula dia duduk di pojok kanan café ini. Sayup kudengar suaranya ketika sedang berbicara dengan seseorang di ujung telephone sana

.“Iya, sebentar lagi aku pasti sampai kesana.”

Entahlah, aku begitu yakin kalo sang penelephone tadi adalah gadis yang sama, yang juga bersamanya kemarin. Dan perlahan, seperti tak direncana, aku mendengar ada sesuatu yang sepertinya retak dan berada sangat dekat dengan diriku. Hatiku.