Kesalahan yang manis: Hari Bersamanya..

“…Karena segala sesuatu berada dalam garis takdir. Dan kita akan bertemu, hanya jika garis kita kelak bersinggungan.”

***

Aku sedang membolak-balik novel dalam genggamanku tanpa bisa berkonsentrasi penuh pada apa yang aku baca. Pikiranku melayang.. membayangkan wajah manis dengan kacamata yang beberapa hari yang lalu menyapaku saat sedang membaca novel yang sama. Ya, si pria manis.. dosen Cognitive Behavioral Therapy.. Hei.. aku bahkan bisa mengingat dengan jelas nama mata kuliahnya! Yang bahkan sebelumnya aku ngga tahu ada mata kuliah tersebut di kampusku.. 😀

Mungkin terdengar sinting.. tapi sempat terlintas pikiran konyol untuk dengan sengaja mengikuti kuliahnya.. Ya, kali ini aku ingin dengan sengaja masuk kelasnya lagi hanya untuk bisa melihatnya. Dengan begitu aku tak perlu khawatir terlihat aneh dan tak juga harus pusing memikirkan banyak alasan jikalau aku memandangnya dalam waktu lama.. Bayangkan.. 2 sks penuh.. melihat si manis itu berbicara di hadapanku dengan sepuasnya! 😀

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan kekonyolan yang mungkin terjadi saat aku ketahuan.. Dalam benakku tergambar jelas pembicaraan yang mungkin terjadi..

“Lho.. kamu ngga ikut kuliah saya khan? Ini untuk semester 6.. kamu baru semester 4.. Iya khan Diana?”

“Eh.. iya pak.. Bapak tahu nama saya?” pertanyaan bodoh, tentu saja dia ingat.. khan kami pernah bertemu di kantin? Dan ia dengan jelas menyebutkan namaku!

“Atau jangan-jangan kamu salah masuk kelas lagi??”

Dan aku pun menjawab.. “emm.. sebenarnya.. nganu.. saya.. saya.. saya pengen ketemu bapak..” 😛

GUBRAKK…

Mungkin seisi kelas akan langsung jatuh dari kursinya atau si pak dosen yang pingsan.. Hey.. tapi aku justru ingin tahu bagaimana reaksinya..! Dan aku masih saja tertawa sendiri ketika aku menyadari seseorang sudah duduk di hadapanku menikmati indahnya wajahku.. PLAKK!! :mrgreen:. Sepertinya ia terheran-heran dengan kesintinganku tertawa sendiri.. 😀

Lutfi.. si ganteng berkacamata oval..

Ia menyunggingkan senyum.. Aku menoleh ke sisi kiri dan kananku.. Dan ya.. keputusan bodoh karena tak ada satupun bangku di kiri dan kananku.. :P. Tiba-tiba aku merasakan wajahku panas seketika.. Entah bagaimana rona wajahku saat ini, pasti tak jauh beda dengan kepiting rebus.. (benarkah kepiting rebus warnanya merah? :D).

Mati-matian aku menahan debar jantungku yang terasa semakin keras. Dan semakin lama aku merasa oksigen di sekelilingku semakin menipis.. Atau ini saatnya aku pingsan saja? 😛

“Diana..?”

Ouch.. ia memanggilku.. setelah aku termenung cukup lama kurasa.. Entah apa yang ada di pikirannya..

“Eh.. iya pak..?” tanyaku seakan baru saja sadar dari pingsan..

“Ada yang begitu lucu sampai kamu tertawa sendirian begitu?” ia tersenyum padaku..

“eh.. ini pak.. cerita di novel ini..” secepat kilat aku mengarang indah.. Lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan..

“Bapak ngga ada kelas?” ouch.. aku baru sadar bahwa pertanyaanku ini amat sangat tidak sopan..

“Belum, baru nanti siang.. kamu ada kelas?” tanyanya padaku..

“Ngga pak.. Cuma ada satu mata kuliah.. tapi baru saja dibatalkan, dosennya sakit..” jawabku..

“..dan kamu ngga pulang?” akupun terdiam mencari jawaban yang tepat.. Tapi kurasa ia pasti bisa melihat kalo aku tidak jujur dan kukatakan saja seadanya.. “belum pak.. sebentar lagi..”

Tanpa kuduga sebelumnya, ia kembali berkata “atau mau ikut kelas saya nanti siang?” tawarnya..

Dan aku tersenyum senang.. “Beneran, pak? Boleh?” dan aku mengangguk menyetujuinya..

***

Entah mimpi apa aku semalam, dan kali ini aku benar-benar berada di kelas ini.. Bagaikan mimpi yang terwujud, aku bahagia sekali hingga tak bisa menepiskan senyum yang tersungging di bibirku.. Ya, akhirnya aku bisa memandang wajahnya tanpa harus terlihat aneh selama 2 sks penuh..

Aku baru saja hendak melangkahkan kaki mendekatinya untuk berterima kasih karena diperbolehkan mengikuti kelasnya, ketika sesaat setelah ia menyudahi kuliahnya kulihat ia mengangkat telepon genggamnya dan berjalan terburu-buru keluar kelas.

Aku menatapnya dari tempatku berdiri, lalu berjalan tergesa berusaha untuk tetap menjaga pandanganku padanya.. dan sesaat kemudian langkahku terhenti.. Aku berharap semuanya hanya mimpi saat kulihat ia tersenyum ke arah seorang perempuan cantik tinggi semampai dan tak bisa melepaskan pandanganku saat keduanya berjalan beriringan keluar gerbang kampus..

Aku hanya bisa terdiam mematung selama sepersekian detik. Saat aku melihat keduanya berjalan dan tertawa bersama, baru kusadari, gadis cantik itu terlihat serasi berjalan di sampingnya.. sedangkan aku?

Siapalah aku ini..?


..sesaat kemudian hujan pun turun seakan mewakili perasaan yang kurasakan saat ini..