Kesalahan yang manis : Garis Takdir

“Hey, suka baca itu juga?”

Sebuah suara tiba tiba mengagetkanku. Sekilas aku menoleh. Melihat wajah sang pemilik suara tadi. Lalu aku merasa segala sesuatunya tiba tiba menjadi diluar kendali. Dia. Pria manis itu. Pria yang kemarin sempat membuat wajahku berubah warna menjadi merah merona.

“Eh iya…pak” Jawabku canggung.

“Pak? Ah saya jadi merasa tua.” Aku melihatnya tersenyum kecil.

Sudah. Berhenti. Pergilah. Jeritku dalam hati. Tapi aku melihatnya malah menarik sebuah kursi yang berada tak jauh dari mejaku sekarang. Lalu duduk disebelahku.

“Pilihan novel yang bagus” ujarnya.

“Suka sama karyanya Dee ya?” Aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Novel yang sama. Aku tersenyum.

“Saya juga punya nih.” Dia menyodorkan bukunya hendak menunjukan padaku.

“Sedang tidak ada kelas pak?”

Aduh. Basi banget ga sih pertanyaannya. Jangan sampai dia tahu kalau aku lagi mati matian menyembunyikan kegugupanku. Dan ah, kalau saja bisa aku berkaca sebentar. Aku mau melihat warna pipiku. Jangan sampai tiba tiba berubah menjadi merah saking malunya. Lalu dia melihatnya…

Ada sebentar lagi. Ini sambil nungguin. Ngeliat kamu…em Diana kan? Yang kemarin salah masuk pas mata kuliah saya?”

“Em iya pak maaf saya kemarin salah masuk kelas…”

Ah, lagian kenapa sih mesti inget itu terus. Kenapa dia ga bilang. Em….kamu Diana yang cantik itu kan? Oups well okay. Mungkin dia hanya akan mengatakan itu jika wanita didunia ini hanya tinggal aku saja.

“Ah iya sebentar lagi waktunya saya masuk kelas. Diana, senang bertemu denganmu. Senang bertemu wanita yang gemar membaca sepertimu.”

Lalu dia pun berlalu. Ah Diana. Aku mengumpat pada diriku sendiri. Ngomong apa aja sih aku. Keliatan bodoh ga sih? Dia tahu ga ya kalo aku gugup banget tadi. Ah, sudahlah. Tak akan ada hal lain yang dia ingat mengenai aku selain aku yang salah masuk kelasnya pada hari itu. Mungkin sebentar lagi dia juga akan lupa siapa namaku. Dia juga tidak akan mengingat pertemuan kami di kantin pada hari ini. Sudahlah Diana.

***

Namanya Lutfi. Dia salah satu dosen termuda yang ada dikampusku. Aku pertama kali melihatnya ketika tak sengaja aku salah masuk kelas pada waktu ia sedang mengajar di depan para mahasiswanya. Dan jantungku serasa berhenti sepersekian detik ketika melihat seseorang yang tengah berdiri didepan kelas ternyata adalah dia. Apalagi ketika dia menanyakan siapa namaku. Kalau saja aku pintar akting. Mungkin aku akan lebih memilih pingsan pada waktu itu. Lalu dia panik dan mengantarkanku pulang. Dan yah, tentu adegan itu hanya akan ada dalam sebuah film televisi yang sekarang sedang sering seringnya muncul di tv. Betapa mudahnya sebuah hubungan terjalin antara dosen dengan mahasiswinya. Andai para sutradara itu tahu bahwa kenyataannya, itu bukanlah sesuatu yang mudah seperti jika kau ingin membalikan telapak tangan saja..

Ah, ya. Aku jadi teringat sebuah kalimat dalam novel yang pernah aku baca. Aku lupa dimana.

“Setiap dari kita telah mempunyai garis takdir masing masing. Dan jika diijinkan, maka kita, satu sama lain akan saling bersinggungan”

Lutfi. Seorang yang mapan dan tampan. Pada umurnya yang hampir mendekati kepala tiga. Aku yakin dia sudah berkeluarga. Aku tidak bertanya kepada siapapun. Untuk hal hal seperti ini, aku cukup mengandalkan intuisiku saja. Seorang pria, tampan, mapan…apa lagi?

Maka aku tak pernah berharap terlalu banyak. Biarlah aku tetap mengagumi dia karena kepintarannya.Biarlah semuanya tetap seperti itu tanpa harus ada perasaan lain menyertainya. Biarlah, mungkin dia, aku, atau kita…hanyalah dua orang yang bertemu pada waktu yang tak tepat.

***

Aduh. Sudah berapa lama aku melamun tadi. Aku sampai lupa bahwa setelah ini aku masih ada satu mata kuliah lagi. Maka akupun bergegas memberekan semua buku dan segera meninggalkan kantin.

Deg. Jantungku berdegup kencang. Lagi. Ternyata aku diharuskan untuk bersinggungan dengannya. Aku memperlambat langkah. Jika dapat membalik badan. Aku tentu akan memilih hal itu. Tetapi dia terlanjur melihatku. Dan melemparkan senyum termanisnya.

“Mau masuk kelas?” Sapanya ramah

“Iya…” Aku membalas senyumnya.

“Oh buru buru ya?”

“Iya sudah agak telat”

Tapi kalau mau diajak nonton sih aku mau mengorbankan jadwal kuliahku hari ini. Plakkkkk. Selamanya kalimat itu hanya akan terucap dalam hatiku saja. Aku menahan tawa.

“Nanti kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing mengenai buku buku bagus ya. Ya sudah cepat masuk sana. Jangan sampai salah masuk kelas lagi.” Dia tertawa.

Tawa pertama yang aku dengar sejak pertama kali berbicara dengannya. Benarlah apa yang aku perkirakan. Bahwa yang dia ingat hanyalah aku yang waktu itu salah masuk kelas pada saat mata kuliahnya. Bersiap siaplah hal itu yang akan selalu ia sampaikan jika nanti kami bertemu lagi.

“Iya pak. Permisi saya duluan.” Aku mengangguk sopan. Lalu berjalan menuju kelasku.

Lima langkah kemudian aku merasa sangat ingin menoleh kebelakang. Dan ketika aku menoleh, aku melihatnya sedang membalikan badan pula. Melihatku. Dan tersenyum.

“…Karena segala sesuatu berada dalam garis takdir. Dan kita akan bertemu, hanya jika garis kita kelak bersinggungan.”

Kesalahan yang manis: Pertemuan..

Aku pertama kali bertemu dengannya saat aku salah masuk kelas di semester keduaku. Ah bodohnya aku, baru sadar salah masuk kelas ketika melihat daftar absensi. Ngga ada seorangpun yang kukenal, ngga ada namaku di daftar absensi dan aku baru sadar saat membaca nama mata kuliah yang tertera di daftar absensi dalam genggamanku saat aku hendak membubuhkan tanda tanganku. Cognitive Behavioral Therapy.. Pantas saja dari tadi perasaanku ngga enak.. Selain karena dosennya juga dosen yang membuat jantungku berdetak cepat ngga karuan saking groginya, juga karena ngga satupun kalimatnya yang nyanthol di kepalaku saat sang dosen menjelaskan materi kuliah untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta mata kuliah..

Selama beberapa menit aku masih selamat dari tragedi memalukan, hingga tiba-tiba pandangan tajam setajam belati yang baru diasah itu menatapku dan berkata langsung ke arahku.. Iya ke arahku, karena hanya aku satu-satunya yang berbaju merah di kelas itu..

“Ehem.. saya mau tanya sama yang baju merah..” sang dosen bertanya sambil membuka lembaran absensi miliknya..

“Nah.. itu.. yang di ujung.. Siapa namamu ?”

Aku tertunduk, dengan perasaan malu, berharap bukan aku yang ditanya olehnya. Tapi sang dosen sekarang menatapku dengan matanya yang tajam di balik kacamatanya.. terdiam, menungguku menjawab. Aku merasakan seluruh mata di ruangan ini menatapku, si gadis berbaju merah yang terdiam dengan wajah semakin memerah..

“saya.. saya.. Diana pak..” jawab saya terbata-bata..

“Diana ya.. dari tadi saya perhatikan kamu seperti orang yang kebingungan.. Kamu ada pertanyaan..? Tapi saya ngga pernah lihat kamu di kelas ini sebelumnya.. Kamu baru masuk atau bagaimana?”

JDERRR!!!

Pertanyaan yang sempat kuharapkan tidak pernah terlontar itu akhirnya keluar juga dari bibir pak dosen itu. Akhirnya, dengan segunung rasa malu yang semakin lama serasa semakin berat di pundakku, aku pun memberanikan diri berdiri.. berkata dengan suara yang tersisa dari sisa-sisa keberanianku yang semakin surut. Berkata perlahan karena grogi, tapi berusaha setenang dan sejelas mungkin..

“saya.. sepertinya saya salah kelas pak..”

Dan tak lama kemudian terdengar suara tawa serentak yang sempat tertahan dari seluruh mahasiswa di kelas tersebut.. membuat wajahku berubah menjadi ungu kehijauan.. Pak dosen berkacamata itupun ikut tersenyum, wajahnya tak lagi terlihat menakutkan.. justru terlihat lebih menyenangkan.

Ajaib. Setelah peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi sepanjang sejarah aku kuliah, aku justru merasa lebih tenang. Ibarat demam panggung yang telah berlalu, aku memberanikan diri berjalan ke depan kelas, meminta ijin kepada dosen untuk keluar kelas dan memohon maaf karena mengganggu kelasnya.. Tepat sedetik sebelum aku keluar kelas, aku menatap mata teduh itu, satu-satunya mata yang memandangku tanpa ekspresi menertawakanku.. Ia menatapku dengan senyum.. Ya.. senyum yang tulus.. bukan tawa yang menghina.

Selama sedetik aku berharap, aku ingin tetap tinggal di kelas ini agar bisa mengenalnya lebih dekat lagi..

Ahh… siapa gerangan dirimu pria manis dengan senyum yang tak kalah manis..?

Akankah Sang Pemilik Hidup mempertemukanku denganmu lagi?

Maya…

Maya seorang wanita yang mempesona. Seseorang yang tahu bagaimana cara membuat orang lain tertarik padanya.

Maya…tentu saja ia wanita yang aku cari selama ini.

Perjalananku dengannya bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan hitungan purnama. Kami sudah bersahabat sedari kecil. Saling menjalin keterikatan satu sama lain. Hingga kala itu ketika tiba tiba aku harus meninggalkan tempat kelahiranku. Pindah ke kota yang lebih besar. Berpisah dengan Maya.

Jarak yang membentang bukanlah satu alasan yang mampu merenggangkan hubungan diantara kami. Sebisa mungkin disela sela kesibukan, aku menyempatkan diri pulang untuk menemuinya. Walau hanya beberapa hari. Tapi itu lebih dari cukup untuk menawarkan rindu pada gadis satu itu. Gadis yang tak pernah luput menghadirkan paras manisnya dalam setiap mimpi mimpi malamku.

Maya, gadis itu selalu bertambah cantik setiap harinya. Aku yakin Tuhan menciptakannya dengan begitu hati hati. Hingga terciptalah ia sebagai maha karya begitu indahnya.

Maya….seseorang yang tak jarang membuatku menangis menahan cinta yang seharusnya meluap tanpa kendali. Lalu sekejap membuatku tersenyum kala ia menceritakan mimpi mimpinya. Kala aku, ternyata ada dalam salah satu mimpi penting yang ingin ia gapai kelak.

“Jika seseorang itu mampu membuatmu menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan, itu berarti ia telah mampu membuatmu jatuh cinta begitu dalam pada dirinya” Itulah yang ia katakan pada suatu hari.

Pun hari ini ketika ia membuatku menangis sejadi jadinya kala membaca sebuah pesan singkat yang masuk telephone genggamku.

“Dy…doakan aku. Minggu depan aku akan menikah….”

Seketika aku merasa keseimbanganku hilang. Seperti ada yang menarik paksa kesadaranku hingga pikiranku menerawang melintasi waktu hinggap pada saat terakhir pertemuanku dengannya.

Kala itu Maya datang dan berkata bahwa ia akan segera menikah dengan seorang pria yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu.

“Aku akan menikah Dy…” ucapnya lirih

Aku marah. Kepalaku seperti ingin meledak. Hatiku remuk menjadi potongan potongan kecil berserakan ditanah. Air mata mengalir deras. Aku hilang kendali atas diriku sendiri.

“Mengapa tak kau tunggu aku May?” Sekuat tenaga aku mengucapkan itu.

Maya diam. Hening hingga hampir tiga puluh menit.

“Kau hanya memintaku menunggu Dy. Hanya itu….”Isaknya

“Sedangkan dia? Pria itu datang kerumahku. Bertemu dengan ibuku. Hal yang tak pernah kau lakukan. Meskipun telah belasan tahun kebersamaan kita.” Maya menatapku. Tatapan benci. Lelah. Lelah menungguku yang hanya bisa memintanya menunggu.

“Apa kau mencintainya?”

Maya menggeleng.

Ini bukan hanya mengenai cinta. Ini mengenai Maya yang tak mungkin akan terus menungguku hingga waktu yang tak pasti. Ini mengenai suatu ikatan yang memang benar benar ia harapkan. Meskipun ada aku dalam mimpinya. Tapi terpaksa ia lepas mimpi itu. Menerbangkannya seringan ia pelan mengiris pedih hatiku.

“Dy…doakan aku. Minggu depan aku akan menikah….”

Pesan singkat itu terus terbayang bayang. Hingga sesak aku karenanya.

Doa? Cih, mengapa aku harus berdoa untuk kehilangan yang kudapatkan? Sadarkah Maya dengan apa yang ia ucapkan?

Tidak. Aku tidak akan menanyakan mengapa Tuhan menciptakan aku dengan segala keterbatasan untuk mencintainya. Semua telah ada dalam garis takdirnya. AKu hanya ingin bertanya, untuk alasan apa Maya bisa membuatku jatuh sedalam ini?

Detik ini aku berdiri dihadapan sebuah cermin besar. Mematung menatap ketidakberdayaanku. Melihat utuh diriku yang tak pernah pantas berharap banyak pada gadis itu. Lama hingga aku tersadar karena bunyi pesan singkat yang lagi lagi masuk. Maya. Tentu saja dari gadis itu.

“Semoga kelak…entah kapan. Sungguh aku tak pernah tahu itu kapan. Aku berharap…Tuhan bermurah hati mempertemukan kita kembali. Love you so much, Lidya…..”

Orang-orang yang penyabar..

Rumah bercat putih itu nampak lengang.. Tak terdengar suara dari balik pintu kayunya.. pukul 9 pagi.. Anak-anak pasti sedang di sekolah, kecuali si bungsu yang sekarang terbaring lemah di tempat tidurnya.. di sisi kirinya bunda terlihat memegang handuk basah lalu meletakkannya di atas keningnya.. tersenyum lembut yang sedikit dipaksakan menutupi galau hatinya..

Sepasang mata lelah menatap keduanya dengan hati sedih.. Tangan rentanya diusapkan pada wajahnya.. Selama sedetik tangan renta itu menutup wajah yang tampak lelah.. Tak lama ia melangkah pergi.. Jam menunjukkan pukul 9 pagi.. Koran di atas meja menunjukkan tanggal 12..

Pikirannya menerawang.. Bingung apa yang harus dilakukan.. Sebuah sentuhan lembut di pundaknya menyadarkan lamunannya.. Sang belahan jiwa tersenyum lembut di sampingnya.. dari wajah lelahnya, terlihat gambaran kesedihan..

“adik masih panas bu?”

Sang istri mengangguk.. Kembali tangan renta itu mengusap wajahnya.. Kali ini dengan kedua tangannya.. Lalu berhenti di keningnya.. dan kepalanya menunduk.. Sikunya ditopang pada kedua pahanya.. menyembunyikan wajah sedihnya dari belahan jiwanya..

Sang istri seperti memahami kesulitan kekasihnya.. hanya terdiam.. menatap sendu pada lelakinya.. selama beberapa detik mereka terdiam.. Lalu lelaki itu beranjak dari tempatnya duduk.. memakai sendalnya lalu berjalan menuju pagar rumahnya.. Sebelum melangkahkan kaki ia menatap istrinya.. berpamitan.. Sang istri mencium tangan suaminya dengan hormat.. melepas kepergiannya..

***

Lelaki itu tiba di depan sebuah bangunan berwarna coklat muda.. Ia berhenti sesaat.. duduk di sebuah batu besar di bawah pohon di dekatnya.. Terngiang suara anak-anaknya..

“Ayah.. bu guru bilang uang sekolahnya harus dibayar paling lambat hari Jumat besok ayah.. Jangan sampai lupa ya..” kata si sulung..

“Ayah.. sepatuku sudah bolong di depannya.. masih bisa dipakai siiihh.. Tapi kata bu guru harus pakai yang baru untuk upacara hari Senin.. aku khan jadi pemimpin upacara..” kali ini si tengah yang bicara..

Lelaki itu hanya mampu terdiam.. Hatinya bagai teriris-iris.. Teringat kedua buah hatinya yang tersenyum saat menatapnya sesaat sebelum mereka berangkat sekolah pagi ini.. Si bungsu tergolek lemah, demamnya tak kunjung turun.. Dan ia hanya mampu duduk di sini.. Ragu-ragu memutuskan untuk masuk ke bangunan ini atau tetap duduk di sini..

Sebuah sapaan di pundak membuyarkan lamunannya..

“menunggu siapa pak?” kata sang juru parkir.. Lelaki itu tersentak lalu tersenyum.. Sapaan itu mengingatkannya kembali pada tujuan awalnya datang ke tempat ini. Segera ia bangkit berdiri.. melangkahkan kakinya memasuki bangunan bercat coklat itu..

***

Seorang pria berseragam berkata perlahan padanya..

“Pak, uangnya belum cair.. Sekarang baru tanggal 12.. Mungkin 3 hari lagi pak.. Khan biasanya juga tanggal segitu..” petugas kantor pos tempatnya biasa mengambil pensiun berkata padanya dengan sangat hati-hati..

Pria itu hanya mampu menatap nanar kartu tanda penduduknya yang dikembalikan tanpa amplop uang seperti yang diharapkannya.. Hatinya sangat sediiih.. Entah apa yang harus dikatakannya pada sang istri dan apa yang harus dia sampaikan pada kedua bola mata bundar yang menatapnya lirih saat mereka menyerahkan kartu uang pembayaran sekolah yang harus segera dilunasi nanti sore serta bola mata bundar yang lain yang menunjukkan sepatu bolongnya ke hadapannya…

Hening sejenak.. tak seorang pun mengatakan apa-apa.. Sedetik kemudian pria itu segera mengangkat kepalanya.. Menatap sang petugas kantor pos dengan senyum yang menghias bibirnya.. Berkata perlahan tapi kali ini dengan semangat..

“Ya sudah pak.. Tidak apa-apa.. Terima kasih banyak atas bantuannya..” mereka berdua sama-sama tersenyum..

Pria itu keluar dari bangunan bercat coklat itu dengan perasaan lega, meskipun ia tidak memiliki uang sepeserpun di dalam sakunya.. Berjalan perlahan menuju ke rumah sambil tak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya..

“Ya Allah, jika memang ini yang terbaik bagi keluarga kami.. Mudahkanlah kami melewati ujian-Mu.. Mungkin kami memang harus lebih banyak bersabar.. Sembuhkanlah putri kami ya Allah.. Engkaulah Maha Pemberi Kesembuhan.. Jadikanlah kami sekeluarga orang-orang yang penyabar..”