Aku, Jingga dan Kenangan

May, 17, 2013

Biru menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya, menuangkan air panas ke dalamnya lalu mengaduknya pelan. Setelahnya ia menyibak tirai ruang kerjanya, membuka jendelanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi dari lantai dua rumah peristirahatannya. Dibukanya laptop biru –sesuai dengan nama dan warna favoritnya- di atas meja kerjanya dan mulai mengetikkan user name dan password pada kolom emailnya.

TRING..

Sebuah pesan masuk melalui inbox email diterimanya. Dari Jingga.

Jingga. Perempuan pencinta hujan, penikmat senja dan sekaligus pemuja kesetiaan. Masih teringat jelas wajah sendu gadis yang pernah mengisi penuh seluruh hidupnya dengan kenangan.

Jingga yang dulunya ceria, yang penuh dengan kejutan. Yang selalu mengiriminya tulisan-tulisan indah yang dengan segera akan membuatnya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Pikirannya menerawang. Teringat delapan bulan yang lalu, saat ia membuka emailnya –seperti yang dilakukannya saat ini-. Mendapati Jingga mengirimkan sebuah email kejutan untuknya.

“Aku tibatiba ingat beranda kotamu. Tempat yang menurutmu, adalah terbaik bagi siapa yang ingin menikmati senja ditemani secangkir kopi. Lalu diamdiam kubayangkan, jika pada suatu petang, aku akan mengagetkanmu yang tengah menengadah sembari menutup mata. Tanpa suara, aku akan memilih duduk di sebelahmu. Melakukan hal serupa. Menengadahkan kepala. Menutup mata. Dan abai pada semua katakata. 

Kopi di cangkirmu tersisa separuh. Uapnya masih mengepul dan pecah begitu saja ketika beradu dengan udara. Seandainya melupakan kenangan, ujarmu, semudah menyaksikan uap kopi yang hilang tanpa pernah kita pikirkan hendak menuju ke mana. Mungkin, akan kau pilih terus memutarnya tanpa pernah takut jika kesakitan tengah mengendap di belakang.


Kemarau kini masih betah menyambangi hari. Keringnya persis seperti hati, kelakarmu dengan tawa yang ditahan luka. Entah kapan hujan mau datang, lanjutmu. Lalu seperti baru saja menyebutkan permintaan, seketika Tuhan mengabulkan. Hujan turun deras, pada kemarau suatu senja.


Karena kau adalah hujan pada kemarau. Yang jatuh sedemikian rela. Sedang aku, adalah yang terlambat meneduhkan diri. Membiarkan derasmu menjatuhiku. Sungguh, aku tak punya pilihan selain melakukan itu. Sungguh, aku tak pernah berpikir apaapa selain menjatuhkan hati padamu.”

 

Tiupan angin yang membawa hawa dingin sisa hujan semalam masuk melalui kisi jendela. Menyisakan dingin yang menusuk tulang. Biru bangkit dari kursinya sebelum sempat membuka email kiriman Jingga. Ia melangkahkan kaki menuju jendela. Ditutupnya perlahan jendela ruang kerjanya namun tetap membiarkan tirainya tersibak. Dilihatnya pohon-pohon bergoyang-goyang pasrah saat angin meniupnya sedikit lebih kencang. Selama beberapa detik ia menatap pemandangan di luar sana. Pikirannya menerawang, pada gadis bermata cokelat, berpipi sedikit gembil, kedua mata berbinar cerah serta rambut yang sedikit kecokelatan.

Jingga.

Setelah berbulan-bulan menghilang tanpa kabar, Jingga kembali mengiriminya pesan. Biru tak berniat mendekati laptopnya untuk segera mengetahui email apa yang akan dikirimkan Jingga padanya kali ini. Namun firasatnya mengatakan mungkin ini bukan kabar bahagia. Mungkin juga sebuah pesan yang mengantarnya pada kepedihan.

Biru tak berniat melakukannya. Terlalu pagi untuk mendengar kabar kesedihan. Maka ia memilih untuk duduk di atas sofa merahnya dan menyesap sedikit kopi hitamnya, lalu mulai memutar kembali memorinya. Mengingat seorang Jingga.

***

September, 25, 2012

“Lalu, mengapa senja di matamu begitu lekas tenggelam, Biru?”

Itu yang Jingga tanyakan, tepat di saat ia pilu menatap kedua bola mataku yang berubah menjadi kelabu.

“Karena senja memang cuma mesti singgah sebentar, Jingga. Tak seperti cinta, yang harus terus berjalan meski melalui jalan berliku itu. Bertahan. Meski malam, menggelapkan ia dalam lelapnya.”
Di sanalah kami, pada sebuah senja di pertengahan September. Ketika angin yang dikirimkan hujan sisa semalam begitu menusuk-nyerikan hati. Karena pertemuan aku dengan Jingga, sungguh, benar seperti petang yang cuma disinggahi senja. Tak lama. Hanya hadir melalui waktu yang sebentar. Tapi apa yang sesungguhnya bisa abadi dari satu perjumpaan? Mungkin cuma kenang yang akan lekat kita ingat di kemudian waktu. Selebihnya, kurasa tak ada.
Mungkin begitulah manusia sesungguhnya bisa bertahan. Karena kenang, yang justru tak pernah benarbenar meninggalkan kita sendirian. Ia hidup. Mungkin berkembang. Atau berkurang. Tapi tetap tak akan hilang. Persis seperti cinta.
Sementara senja itu, Jingga. Ia digantikan malam, diriuhi pagi dingin kesepian, lantas dikalahlan siang terik yang menjemukan.
Tak seperti cinta, bukan? Ah, pun tak seabadi kenangan.

***

Biru kembali mendekatkan bibirnya pada cangkir kopinya yang sudah mulai sedikit mendingin. Menyesapnya perlahan. Memberikan waktu agar cairan berkafein itu bekerja. Membuat tubuhnya sedikit lebih tenang. Mengingat Jingga saja seharusnya bisa membuat perasaannya tenang. Namun tidak untuk kali ini. Mengetahui bahwa Jingga kembali menghubunginya ternyata justru membuatnya merasa semakin bersalah. Email terakhir –sebelum yang diterimanya pagi ini- belum sepenuhnya menghilang dari ingatannya.

***

November, 7, 2012

TRING..

Laptop berdering satu kali. Menandakan sebuah pesan masuk melalui inbox emailnya. Dari Jingga. Biru membukanya dengan terburu. Bagaimanapun, email Jingga adalah pelipur segala penatnya selama ini. Seakan menjadi candu sekaligus obat bagi rindunya yang semakin membuatnya tersiksa.

“Di luar, malam ini, hujan turun begitu deras. Memuntahkan dingin serta kesepian yang merayap pelan-pelan merambati lantai-lantai dingin. Memunculkan sekelebatan ingatan mengenai masa lalu yang mestinya memang telah jauh tertinggal di belakang. Di antara semua itu, entah kenapa masih saja terselip kenangan tentangmu.
Tentu saja kau belum menjadi masa lalu. Terlalu dini menjadikanmu seperti itu. Atau mungkin, jauh dalam hatiku, aku selalu berharap, terus dan selamanya, kau akan menjadi kekinianku. Seseorang yang selalu mengikuti sejauh apa pun aku mengayuh langkah, mengayun hidup. Jika perlu tanpa kuminta. Seperti hujan yang turun malam ini. Yang dinginnya, kurasa akan terus menempeliku sampai besok pagi.


Tak ada yang mudah lepas begitu saja. Seperti kekangenan kita pada hujan. Meski kelak ia berhenti turun, tentu wangi udara masih akan menyebarkan segala tentang ia. Menguap hingga lalu kembali ke atas sana. Dan turun lagi menjadi hujan. Lantas aku berpikir, sebenarnya hidup cuma berputar di tempat itu itu saja. Tak pernah terputus. Mungkin, hanya pikiran kita yang selalu ingin mengambil peran. Bermain-main di dalamnya. Seperti katamu pada suatu waktu: kita selalu mempunyai pemikiran sendiri terhadap suatu hal. Beruntunglah jika benar. Bagaimana ketika salah? Maka menurutku, kita cuma akan terjebak dalam putaran edar pandang kita sendiri. 

 

Lalu aku berpikir, bagaimana jika selamanya itu sebenarnya tak pernah ada. Tak benar-benar ada. Kesemuanya hanya konsep dalam pikiran yang kita mainkan karena enggan dengan kata perpisahan. Seperti kebersamaan kita, yang ternyata, ah, kau tahu aku tak berani mengatakannya, mungkin saja tak bertahan lama. 


Malam ini aku mengenang percakapan kita. Riuh tawa dan segaris senyum yang kita urai melalui sekat ruang maya. Betapa aku kagum dengan keberanianku, ketika menceritakan banyak hal padamu. Salah satunya adalah mengenai mimpiku kelak. Mimpi, yang setelahnya kau tambahkan kata kita di belakangnya. 


Tapi mimpi, tentu tak pernah sama ketika kita menjejak kenyataan. Ternyata kita disekati banyak hal. Tak cuma batas antara maya dan nyata. Tak hanya sekat antara jarak yang enggan dilipat agar mendekat. Tapi ketidakyakinan akan sebuah mimpi yang entah bagaimana caranya bisa diwujudkan. Lalu kita hanya berputar. Mencari cara. Tanpa pernah tahu, jika mimpi, sebenarnya mempunyai kekuatan tersendiri untuk mewujudkan diri. Kita hanya harus percaya. Yakin. Berserah, lantas pasrah. 


Masihkan yakin, menjadi satu-satunya jembatanmu menuju ke arahku? 


Masihkah?”

Dan aku menutup laptop di hadapanku. Tanpa punya kuasa untuk sekedar menjawab dan mengabarkan bahwa aku telah menerima emailnya.

Mungkin, hal yang akan selalu abadi adalah kenangan. Atau harapan. Pada kenyataannya, kita memang cuma mempunyai kedua hal itu. Tidak dengan masa sekarang, apalagi hari yang akan datang.
Belakangan, entah kenapa, aku begitu rindu masa lalu. Masa kecil. Setiap masa yang terlewati. Aku berharap memiliki kemampuan memutar waktu, lalu hinggap pada saatsaat dulu. Kalau bisa, mungkin tak perlu kembali. Aku, memang berharap bisa terus hidup di dalamnya. Aku, mungkin, cuma lelaki yang tak pernah bisa melepaskan diri dari kenangan.
Dan kau tahu? Dirimulah yang paling ingin kudatangi. Lalu kita akan bercerita apa saja, seperti biasa. Tentang senja, malam, hujan, dan segala yang tak pernah selesai.
Karena aku adalah hujan yang mengetuk kelopak matamu. Sedang kau, terlanjur lelap dalam mimpi. Hingga aku pergi–sekali lagi.

***

May, 17, 2013

Hari ini.

KRING.. KRING.. KRING..

Telepon di ruang tengah membangunkan aku. Ah. Rupanya aku jatuh terlelap di atas sofa. Di belakang tubuhku samar-samar kulihat siluet jingga yang menandakan bahwa hari sudah menjelang senja.

H0n3ys p1c !1367

Kulirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 17.26 WIB. Cukup lama aku terlelap. Kuraih ponselku dan melihat 17 panggilan tak terjawab. Apakah ada sesuatu yang penting? Namun alih-alih aku mengecek dan melihat siapa sang penelepon, aku lebih tertarik untuk mengetahui email yang sedari pagi belum sempat kubuka. Email yang memaksaku membuka kenangan yang kupendam berbulan-bulan yang lalu.

Kugerakkan mouse dan menekan nama Jingga yang berpendar di bagian atas emailku. Dan dengan satu klik aku kembali bersatu dengannya.

Jingga.

“Biru, udara pagi ini begitu lembab. Sisa hujan masih menempel pada dedaunan yang rantingnya terkadang bergerak tertiup angin. Dan perlahan aku mulai menulis–maksudku mengetik surat ini. Meski jujur dalam hati, aku tak pernah berniat mengirimkan apalagi mengetahui kau membacanya. Anggaplah surat ini sebagai teman bicara paling baik yang tak akan memberi komentar apa-apa terhadap ceritaku kecuali setuju dengan semua katakata.


Biru, kesalahan pertamaku adalah datang sepagi ini ke sebuah tempat terbuka dengan mengenakan celana jeans dan kaus lengan pendek tanpa cardigan kesayanganku. Aku pikir, dingin ini bisa kuabaikan seperti biasa. Tapi ternyata, setelah kepergianmu malam itu, setiap dingin menjadi terlampau berlebihan. Hiperbola. Rasanya seperti menusuk-nusuk hingga ke bagian tubuhku yang paling dalam. Seperti angin yang berhembus barusan. Aku baru tahu, ternyata dinginnya tak kalah dengan perasaan kehilangan.


Biru, kesalahan keduaku, adalah ternyata aku memerlukan sehelai sapu tangan untuk menyeka ujung mata. Sedari dulu, kupikir tak akan pernah membutuhkan benda itu. Tapi belakangan aku merasa, punggung tanganku sudah terlampau lelah menyeka air mata. Lagipula di tempat ini, terlalu ramai orang berlalu lalang. Jadilah sesekali, kudapati sepasang mata memerhatikanku dengan tatapan heran. Seorang perempuan, menekuri laptopnya dijedai tangan yang berulang mengusap air mata. 


Baru saja aku kembali menyeka ujung mata, kudapati sepasang lakilaki dan perempuan tengah bergandengan tangan, tertawa, dan saling menebar senyum satu sama lain. Mereka tampak sangat bahagia. Kenapa aku berkata tampak? Karena aku percaya, apa yang terlihat di luar, tak selalu sama dengan yang terjadi di dalam. Tapi sebenarnya, meski mereka–atau salah satu di antaranya–mungkin tengah berpura-pura, setidaknya itu lebih baik, daripada aku yang, katamu, terlalu berlebihan menerjemahkan rasa. Sehingga kepergianmu begitu menguras air mata, yang entah bagaimana caranya, terlalu ruah untuk ditandaskan begitu saja.


Benarkah bahagia itu ada, Biru? Atau hanya sekedar akhir dari kompromi mati-matian kepada hidup? Jika pun bahagia benar ada, dengan beragam kompromi itu, mungkin akan kucoba menenangkan diriku sendiri, dengan berkata, jika kehilangan adalah siklus
paling alami dari pertemuan. Adakah pertemuan yang abadi selamanya, Biru? Kupikir, kau hanya akan menggelengkan kepala atas pertanyaanku barusan. 


Aku tengah menatap daun yang jatuh tepat di sebelah sepatuku. Entah kenapa angin malah membawanya kesitu. Mungkin sekedar mengingatkan, bahwa kita tak pernah bisa memilih hendak jatuh kemana. Hendak jatuh pada siapa. Hendak jatuh karena apa. Bahwa hidup adalah mengenai berusaha, lantas menerima. Seperti daun yang begitu rela, dan tak pernah bertanya kenapa ia yang mesti dijatuhkan. Kuharap aku pun, akan bisa serela itu. Suatu hari nanti.”

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Jingga mengabarkan kabar kepedihan. Tepat saat aku menuntaskan membaca emailnya, mentari telah tenggelam dengan sempurna. Dan tetiba semuanya menjadi gelap gulita. Hanya menyisakan siluet terang yang berasal dari layar laptopku. Selama beberapa saat aku termenung. Memantapkan diri apa yang sebaiknya aku tuliskan sebagai balasan email yang dikirimkan Jingga kali ini. Ya, kali ini kuputuskan akan menjawab email yang dikirimkannya.

Kutekan tombol reply dan mulai menulis.

“Mungkin cinta seperti hujan, yang bisa datang dan jatuh kapan saja. Semaunya. Sekehendak ia. Sesekali menunjukkan pertanda. Berkali-kali malah abai dan turun tiba-tiba. Sayangnya, kita tak bisa menentukan, pada tanah yang mana ia memilih luruh.

Jingga, kali ini aku tak akan menahannya lagi. Ya, aku memilih luruh bersamanya. Mencintaimu.”

Email sent.

senja-wailago
-selesai-

PS: Tulisan ini adalah kolaborasi antara keisengan rinibee dan capella. Kalau anda membaca tulisan puitis dan romantis, bisa dipastikan itu tulisan capella.. :mrgreen:

Lalu bagian mana yang punya rinibee? Yang bagian nulis titik dan koma.. *eh?

:))) 😆 :mrgreen:

Enjoy!

Advertisements

Batu Nisan

Aku terduduk di samping sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Kata mereka kamu beristirahat di sini. Tepat di bawah batu nisan ini. Aku datang terlambat. Seharusnya aku datang lebih cepat. Seharusnya aku bisa membisikkan kalimat bahwa aku mencintaimu tepat di telingamu. Bukan di atas gundukan tanah seperti ini.

Ah sayang… mengapa kau tidak menungguku?

 

Aku terdiam di atas sebuah batu nisan. Batu nisan tanpa nama. Tempat peristirahatan terakhirmu. Sungguh… aku merasa sangat menyesal. Seandainya aku bisa memilih. Aku tak pernah ingin jauh darimu. Dan tetiba kenangan itu memenuhi kepalaku.

Menyusun kepingan demi kepingan memori dan membawa satu gambaran utuh tentang kami. Aku dan dia. Tentang Ratih. Ya Ratih.. Masih teringat jelas dalam ingatanku bagaimana kita dulu menghabiskan waktu berdua. Hanya kau dan aku hingga suatu hari aku harus meninggalkanmu.

 

Seandainya aku bisa memilih, aku ingin selalu berada di dekatmu. Menatapmu, dan membelai indah rambutmu. Setiap hari. Setiap aku ingini. Menggenggam jemarimu, mengecup keningmu dan menyesap kebahagiaan bersamamu.

Tapi bagaimanapun juga, aku ini suami. Sudah kewajibanku untuk menafkahimu. Dan sebagai TKI, aku tak mungkin memboyongmu ikut bersamaku. Aku hanya bisa menjanjikan kehidupan yang lebih layak padamu.

 

Suatu hari nanti, ketika tabungan kita penuh, aku akan membuka usaha di tanah air kita saja. Secepatnya sayang, aku akan bekerja giat untuk mengumpulkan modalnya. Aku akan bekerja keras supaya kita bisa secepatnya kembali berkumpul. Dalam satu atap, dalam satu rumah. Rumah kita sendiri. Maka dengan sangat berat hati, kuminta padamu untuk menungguku.

 

Tiga bulan. Hanya tiga bulan aku menyesap indahnya kesempurnaan hidup bersamamu. Karena selepasnya, aku harus pergi. Pergi ke negeri orang demi memberikan kehidupan yang lebih layak untukmu, untukku. Untuk kita.

Masih teringat jelas senyummu saat melepas kepergianku. Senyum berbalut kesedihan yang sekuat tenaga coba kau tutupi. Senyum getir. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Sementara senyum itu ternyata senyum terakhir yang kau berikan untukku.

***

 

“Dia sudah pergi, Man..” ibuku membawa kabar duka tentang Ratih.

Aku tak mampu berkata-kata ketika mendapati tak ada lagi Ratih di kamar yang membawa sejuta kenangan indahnya kebersamaan kami. Ia memilih pergi. Tanpa sempat berkata sepatah katapun padaku. Hanya menitipkan sepucuk surat pada ibuku. Lalu pergi. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan dalam benakku.

Apa salahku? Mengapa ia pergi meninggalkanku?

 

Dan di atas batu nisan ini aku menemukan jawabannya. Dengan selembar kertas terbuka dalam genggaman tanganku.

“Mas Arman, maafkan Ratih. Ratih harus pergi. Maafkan Ratih yang tak sempurna ini. Ketika surat ini sampai di tangan mas Arman, mungkin Ratih sudah nggak ada di sisi mas lagi. Ibu pasti bisa menjelaskan. Hanya satu alasan Ratih pergi. Semata karena Ratih belum siap menerima semua ini. Bukan.. bukan karena pekerjaan mas, atau kekurangan mas sebagai suami. Ini semata hanya karena ketidaksempurnaan Ratih mengemban amanah.

Ratih minta, mohon maafkan Ratih ya mas. Suatu hari nanti, mas pasti mengerti..” 

 

“Ratih masih belum bisa menerima Man. Apalagi wajahnya sangat mirip denganmu. Dia masih belum bisa menemuimu. Sabar ya le..” ibu mengusap punggungku untuk memberikan kekuatan.

 

Di atas batu nisan tanpa nama aku terduduk. Aku bahkan belum memberikan nama untuknya. Belum sempat memandang wajahnya. Wajah anakku yang katanya mirip denganku. Yang meninggal saat ia dilahirkan. Yang membuat Ratih terpukul dan pergi meninggalkanku.

Di atas batu nisan aku menangis. Di atas pusara putraku.

-selesai-

Habis…….

Asal kamu tahu… Mati-matian aku ngorbanin semua waktuku cuma buat ngasih perhatian sama kamu.. Dan asal kamu tahu, setiap bulan aku sisihkan uang jajanku cuma buat beli hadiah ulang tahun buat kamu.. Iya, sepatu biru yang kata temen-temenmu super keren itu.. Yang jadi idamanmu dan mereka sejak dulu..

Asal kamu tahu… Aku sesuaikan jadwal kuliahku biar sejalan sama kamu supaya kita punya lebih banyak waktu buat barengan.. Bahkan harus kurelakan bahwa aku ngga bisa sekelas sama temen-temenku. Demi apa?? Demi kamu! Tapi apa hasilnya?? Apa??

 

Sekarang kamu bilang aku udah mulai mengganggu hari-harimu.. Katamu teleponku cuma bikin kamu dijauhi temen-temenmu karena mengira aku cewek posesif..

Oke, aku paham. Dan kukurangi teleponku saat kamu sedang bersama teman-temanmu..

 

Biasanya kamu ngga keberatan kalo aku ikut kamu maen basket, tapi sekarang?? Kamu bilang kamu mau jalan dulu sama temen-temenmu.. dan ngga ada seorangpun yang bawa pacarnya! Itu katamu..

Oke, aku bisa ngerti, sayang…

 

Dan tiba-tiba saja, jadwal kuliah kita ngga ada yang sama. Kamu dah ngga bisa lagi jemput aku pulang kuliah di kampusku. Lalu kamu ngga nongol lagi tiap malem minggu.. Malah ganti malem Jumat. Please deh yang.. siapa yang pacaran malam Jumat, beib?

Dan lagi-lagi aku cuma bisa bilang..

Oke sayang, aku bisa ngerti..

 

See…? Aku selalu bisa ngertiin kamu.. Aku selalu bisa nerima semua keinginan kamu.. Apa itu belom cukup sayang?

 

***

“Yang, kita putus.. Udah ngga ada kecocokan lagi di antara kita..

Aku cuma butuh waktu untuk sendiri dulu..”

 

Itu katamu padaku. Dan hubungan kita pun berakhir.. Hubungan 5 tahun! 5 tahun……!!!!!!!!! Yang ternyata ngga berarti apa-apa buat kamu.. Mulai dari pacaran backstreet saat masih berseragam putih abu-abu sampai kita berdua sama-sama duduk di bangku kuliah.. Oke, mungkin aku merasakan hal yang sama. Kebosanan dalam hubungan. Tapi sejauh ini, aku bisa nerima itu semua sayang.. Kenapa tidak denganmu?

Siyaaaaaaaaalll….!!

Dan yang lebih siyal… aku selalu teringat sama kamu.. Kamu selalu ada dimana-mana..!

Setiap aku ke kantin kampus, kamu seakan duduk nemenin aku makan bakso favorit kita. Bahkan di emperan kampus tempat jualan cilok itu, aku menangkap bayangan kamu sedang nongkrong makan cilok sembari nungguin aku keluar kelas..

 

Kenapa kamu selalu ada dimana-mana???

 

Hingga tiga bulan kemudian, aku mulai berhalusinasi. Kita harus balik lagi. Selama ini aku terlalu sering bareng kamu. Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama. Jadi…. kamu harus balik sama aku!

 

Maka, kuangkat gagang telepon rumahku dan menghubungi nomor ponselmu.. Sampai pada dering ketiga, tak ada yang menjawab. Aku diliputi rasa cemas. Kutekan tombol redial dan menunggumu mengangkat telepon di ujung sana..

“Halo..?”

 

Klik. Kututup telepon rumahku. Lalu bergegas mengambil ponselku. Kutekan kembali nomor henponmu, berharap sesaat sebelumnya aku salah menekan nomor.. Jika tidak maka…

“Halo..?”

Suara yang sama yang mengangkat teleponmu.. Dan pembicaraan pun terjadi di antara kami berdua. Sang pengangkat telepon mengabarkan bahwa dirimu sedang berganti baju setelah bermain basket, sedangkan berdasarkan pengakuannya ia adalah..

 

kekasihmu!

 

Kulajukan sepeda motorku menuju tempat yang selama 5 tahun terakhir selalu kudatangi bersamamu.. Tak membutuhkan waktu lama, karena memang gedung berlantai empat itu cukup dekat dengan rumahku. Aku belum terlambat, masih kulihat sekelebat bayanganmu berjalan menuju tempat parkir motor.. kutepikan sepeda motorku. Kuparkir begitu saja, lalu bergegas menghampirimu.

Perempuan yang kuduga mengangkat ponselmu beberapa waktu sebelumnya bergelayut manja di lengan kekarmu. Lengan kekar yang seharusnya hanya untukku.. hanya aku yang boleh bergelayut manja di sana..

 

Tanpa pikir panjang, kudekati kalian berdua. Sebelum ia sempat mendekatkan pipinya menyentuh lenganmu, kutarik lengan kanannya dengan cepat..  Penuh amarah kutampar pipinya, meninggalkan noda bersemu merah di pipi tirus pucatnya.. Ia terlihat marah, diangkatnya tangannya hendak membalas tamparanku. Namun aku lebih gesit. Kutangkap tangannya dan kukunci di belakang punggungnya.. lalu kudorong keras.. Ia jatuh terjerembab, kepalanya terbentur pembatas besi. Lalu diam tak bergerak..

 

Aku puas.. entah apa yang terjadi padanya.. Satu hal yang terngiang-ngiang di kepalaku. Kamu sudah melupakan aku.. Kamu sudah melupakan kenangan bersamaku selama 5 tahun terakhir.. kamu sudah melupakan kita..!

 

Jika aku tak dapat memilikimu, maka.. tak ada satupun yang bisa..! Tidak dia atau siapapun..

 

 

HABIS PERKARA!

Pada suatu petang..

Hai kamu..

Ya, kamu… kamu yang kini semakin sibuk dengan duniamu. Semenjak kepindahanmu ke ibukota setelah kau mendapatkan promosi dari bos barumu, aku tak lagi bisa memandangmu sepuas hatiku lagi.

 

Hai kamu..

Ya, kamu. Gadis periang dengan bola mata jernih dan bulu mata yang lentik. Apa kabarmu sekarang, sayang? Apakah kau masih mengingatku sama seperti aku mengingat semua kenangan kita? Masihkah kau mengingat kebersamaan demi kebersamaan yang tercipta di antara kita berdua?

Bagaimana kau selalu menceritakan kisah-kisahmu padaku. Tentang Arman kekasihmu yang menduakanmu, tentang Bayu laki-laki yang diam-diam kau kagumi atau tentang Arya, laki-laki playboy yang selalu mengejarmu?

Ya sayang, aku masih mengingatnya. Pun ketika kau tak menyadari bahwa aku melihatmu menangis sendirian di kamar tatkala Arman mengirmkan undangan pernikahannya dengan Sandra sahabatmu sendiri. Aku merasakannya sayang, merasakan setiap perih yang kau rasa, setiap luka yang menganga, dan setiap air mata yang menetes. Air mata yang kau sembunyikan dari bundamu, hanya karena kau tak ingin beliau mengkhawatirkanmu.

Sayang, kuharap kau baik-baik saja di sana..

 

Hai Cinta..

Ya, izinkan aku memanggilmu cinta.. Karena aku memang mencintaimu. Meski kau tak pernah tahu, karena aku tak pernah sanggup mengatakannya padamu. Aku hanya bisa mendampingimu, dekat denganmu dan selalu berada di sisimu. Tahukah kau mengapa aku melakukan itu semua?

Itu semua karena aku mencintaimu..

 

Cinta.. Entah sudah berapa purnama aku tak pernah menjejakkan kakiku kembali di tempat ini. Tempat kita menghabiskan waktu berdua.. Dimana aku bisa memandang senyum manismu yang selalu berhias lesung pipit di pipi kirimu. Tapi itu dulu saying.. sebelum kau meninggalkan kota ini, meninggalkan kota tempat kau dilahirkan dan dibesarkan.. meninggalkan aku sendirian..

Kemana dirimu, sayang…? Aku merindukanmu..

 

Hari ini aku mengunjungi rumahmu lagi. Rumah yang kini tampak lengang selepas kepergianmu. Tahukah kau cinta? Rambut kelabu mulai tumbuh menghiasi mahkota bunda.. Bunda yang menyayangi aku sama seperti engkau menyayangiku..

Beliau masih menyambutku hangat.. menyuguhkan aku dengan susu hangat seperti biasanya..  Ah cinta, seandainya engkau ada di sini…

***

 

Pagi itu aku kembali mengunjungi rumahmu. Aku tahu mungkin aku tak akan dapat melihat senyum manismu. Aku hanya ingin memastikan bahwa beliau baik-baik saja. Ya cinta, aku berjanji dalam hatiku, akan menjaga bunda selama engkau tak ada di sini.

Dan cinta, beliau baik-baik saja..

 

Hari ini aku menemani beliau lagi. Senyum manisnya menyambutku. Aku tahu, mungkin kedatanganku tak berarti banyak untuknya. Tak dapat menggantikan kerinduannya akan kehadiranmu di sisinya. Dan setiap aku datang, aku lebih banyak diam dan mendengarkannya bercerita.

Tahukah kau? Ia selalu bercerita tentangmu, tentang pekerjaan barumu dan bagaimana kau menikmatinya hari demi hari. Beliau terlihat bahagia saat bercerita tentangmu.. dan akupun ikut bahagia mendengarnya.

 

Tiba-tiba sebuah suara mobil menghentikan obrolannya tentangmu. Sebuah suara yang mengejutkan kami berdua. Bunda berdiri dari tempatnya duduk, tangan rentanya membuka perlahan pintu dapur yang juga sekaligus menjadi pintu belakang rumah mungil bernuansa hijau ini.

Seraut wajah muncul dari balik pintu, mencium hormat tangan bunda. Mendekatkan tangan renta itu pada keningnya. Sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya, lalu menyunggingkan sebuah senyum. Senyum manis berhias lesung pipit yang sangat kami rindukan. Senyumanmu..

 

Aku terdiam tak beranjak dari tempatku berdiri. Hampir tak percaya ia berada di dekatku lagi. Sesaat kemudian aku berjalan mendekatinya, dan ia memandangku.. dengan senyum merekah..

“RONAN….!!” Jeritnya..

Ia mengingatku..! Ia mengingat diriku..! Seandainya ia tahu betapa bahagianya hatiku saat ini. Ia mendekapku dalam pelukannya, dan hampir saja ia menciumku ketika seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam rumah dan perlahan ia melepas pelukannya padaku. Tangan mungilnya terarah ke lengan kekar pria di sampingnya. Mengenalkannya pada bunda sebagai ‘Dony’ kekasihnya.

Aku hanya bisa terdiam mematung. Tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tiba waktunya ia mengenalkanku dengan laki-laki yang kini telah memiliki hatinya..

“Dony, ini Ronan.. Dia sahabat baikku.. Dia manis sekali khan…?” suara Maia terdengar memperkenalkan kami berdua.

 

Manis? Jadi ia hanya menganggapku manis. Bukan gagah atau yang lain. Dan akupun hanya mampu menatap sang lelaki kekar pilihan Maia.. Bagaimanapun aku harus bisa menerimanya. Kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga. Maka akupun menyunggingkan senyum termanisku dan menatap sang pria, lalu berkata..

 

 

 

 

“meeeooonnngg…”

Sesaat sebelum bintang jatuh

“Seseorang yang telah mempunyai pasangan lalu menemukan ‘cinta’ lain, itu seperti sedang tersesat di padang pasir, yang kemudian menemukan sumber air tanpa pernah tahu apakah sumber air itu akan menawarkan dahaga atau malah meracuninya”

Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Awan. Hening. Nayla terdiam. Lama dan sunyi. Terlihat ia sekuat tenaga menahah agar air matanya tak menetes, mengambang dalam mata yang kala itu mengenakan lensa kontak berwarna coklat tua. Perih rasanya. Bukan….bukan matanya yang perih. Ada bagian lain yang lebih sakit. Tahukah kau bahwa ada satu ruang kecil dalam hati manusia yang menjadi tempat bermula segala rasa? Yah, tempat itu kecil saja tapi di sanalah semua berasal. Dan dari situlah rasa sakit itu muncul. Nayla menghela napas.

“Kamu tau kenapa aku menyebutnya seperti tengah berada di padang pasir?” Awan memejamkan mata. Nayla tak pernah tahu bahwa Awan pun sedang mati-matian menahan tangis. Entah, seperti ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa pria tak boleh menangis. Bahwa tangisan itu bukannya akan melegakan tapi melemahkan.

“Karena kamu berjalan sejauh itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya sudah jelas-jelas kamu dapatkan. Kamu pergi jauh hingga lelah hatimu. Gersang. Kosong. Berharap menemukan sumber air yang mampu memuaskan dahagamu tanpa pernah kau tau bahwa ia juga bisa meracunimu. Yah, karena air yang kau temui itu baru sekali saja kau lihat. Kau kalap. Merasa bahwa ialah penawar dahagamu. Kita tak pernah tau Nay. Takan pernah tau.” Suara Awan terdengar melemah.

Tak mudah pula untuk Awan merangkai kata itu. Menyeimbangkan akal dan perasaannya memilah kata demi agar wanita disampingnya ini mengerti apa yang diucapkannya. Terkadang, ketika hati sedang emosi, semua seperti terpentalkan tak sanggup diserap untuk kita pahami. Maka dengan hati hati Awan berkata. Diantara sesak yang dirasakannya. Sesak karena tangis yang ia tahan sedari tadi.

Di sinilah mereka sekarang. Duduk bersebelahan di sebuah ayunan kayu yang sudah mereka mainkan sedari kecil. Awan dan Nayla memang telah bersahabat sejak lama. Saling menjaga dan menopang satu sama lain. Bahu Awan adalah tempat ternyaman untuk menampung semua tangis Nayla. Sebaliknya, tawa Nayla ibarat obat paling mujarab yang bisa menyembuhkan semua letih di hati Awan. Mereka saling melengkapi. Saling mengingatkan. Dan cinta kadang hadir tak kenal tempat. Tak peduli bahwa Nayla hanya menganggap Awan sebatas sahabat. Ia menyusup saja tanpa ampun. Menyerang hati Awan yang lemah tanpa perlawanan. Awan tak bisa mengelak selain merasakannya. Tak lebih dari sekedar merasakan tanpa bisa mengutarakanYang pertama, karena Awan begitu takut setelah mengetahuinya maka Nayla perlahan akan menjauh. Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang kita sayangi pergi menjauhi kita untuk alasan apapun.

Yang kedua adalah untuk alasan karena Nayla telah mencintai pria lain. Yah, sekitar dua tahun lalu Nayla datang sambil tersenyum riang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang lama diidam-idamkannya. Dengan ringan ia bercerita bahwa dirinya baru saja menemukan pria itu. Pria yang ia rasa adalah belahan dari jiwanya yang selama ini kosong belum terisi. Awan tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. Senyum untuk menutupi rasa sakit yang tiba-tiba menghujamnya tepat di bagian hati yang ia jaga selama ini untuk Nayla. Perih. Awan seperti melihat mimpi-mimpi itu terbang satu per satu meninggalkannya. Hinggap di tebing yang paling tinggi. Tebing yang takan sanggup dijangkau Awan.

Pria itu bernama Bintang. Ah, mengapa juga namanya harus bintang? Awan tahu betul sedari kecil Nayla sudah tergila gila pada benda langit satu itu. Nayla percaya bahwa bintang jatuh benar dapat mengabulkan sebuah permohonan. Terpejamlah dan panjatkan doa ketika bintang itu melesat turun dari langit, maka impianmu akan terwujud. Begitu yang selalu diyakini Nayla.

Satu yang Awan tak pernah tahu, suatu malam ketika jam hampir bergerak ke angka 12 menunjukan pergantian hari, tepat tanggal 01 januari 2010, tanggal yang bukan hanya menjadi tanda pergantian tahun, tapi di tanggal itulah Nayla menggenapi usianya yang ke 18 tahun. Yah, ketika itu dia setia menatap langit. Menahan sekuat-kuatnya agar mata cantik itu tak terlalu sering berkedip. Khawatir benda itu melesat lewat begitu saja dari pandangan. Lama ia menunggu, tiba tiba ada seberkas cahaya turun dari langit kearah barat. Cepat dan Nayla pun memejamkan mata. Berdoa. Memanjatkan pinta pada bintang jatuh.

“Pertemukan aku dengan belahan jiwaku, bintang. Aku tahu ia sedang menyusuri jalannya untuk segera menemukanku. Permudahlah. Aku di sini. Setia. Menanti.” Doanya kala itu.

Sedih yang tak berujung…

Kamu satu – satunya yang mampu melambungkan angan lebih tinggi dari semestinya. Yang membutuhkan kesadaran lebih agarku mampu tetap berpijak pada tempat seharusnya. Memantul – mantulkan asa pada dinding – dinding harapan. Dan sanggup mengukir senyum lebih indah dari biasanya. Seperti itulah—-kamu. Bagiku.

Lalu aku, katamu. Adalah napas yang membuat kamu sanggup mempertahankan hidup lebih lama. Bagai udara dalam ruang – ruang hampamu. Menyelinap menggenapi mimpi kosongmu. Aku adalah impian. Impian yang begitu tinggi namun tetap mampu kamu raih. Karena bagaimanapun tangan kita selalu terpaut. Meski itu dalam sebuah ruang bernama “jarak”.

Lihat betapa kita saling melengkapi satu sama lain. Selalu kelebihan cinta tapi tetap dapat menikmatinya. Hingga lalu kita sadar. Betapa tak ada yang benar – benar abadi di dunia ini. Tidak aku, kamu, pun sesuatu diantara kita. Ada satu titik dimana kita tak hanya harus melepaskan apa yang selama ini terikat erat. Tapi lebih kepada keberanian untuk merelakan satu sama lain. Dan aku ataupun kamu. Jelas tak pernah punya keberanian itu.

Selama ini kita terlalu sibuk mencintai. Selalu berusaha menunjukkan sebesar apa cinta yang kita punya. Tanpa kita sadari bahwa waktu yang berjalan sedang mengintai melihat kapan kita akan lengah. Lalu menelusup dan menggerogoti apa yang telah kita bangun. Hingga salah satu dari kita pun lalu kehilangan keseimbangan. Kamu, tiba – tiba tak mampu berdiri setegap dulu. Untuk mengatakan kalau kamu mencintaiku.

Kamu ataupun aku, dulu sama – sama tahu kalau kita tak mampu berjauhan satu sama lain. Mereka yang iri bilang kita sakit. Ketergantungan tidak hanya secara emosional. Tapi terlebih pada kehadiran fisik masing – masing. Aku pun kamu tak lagi sanggup berjauhan. Meski hanya sejengkal. Seperi terpisah jurang, katamu. Lalu setelah itu kamu akan memelukku erat. Aku yang sebenarnya terlalu sesak masih sanggup meyakinkanmu, bahwa semua akan baik – baik saja.

Semua memang baik – baik  saja. Hingga perlahan aku merasa kamu mulai berjarak. Aku tak lagi menjadi napasmu seperti biasa. Kamu bisa leluasa menghirup udara meski tanpaku. Dan kabar yang paling mengejutkan adalah ketika tiba – tiba kamu bilang bahwa kamu akan—-menikah?

Pria itu tiba – tiba hadir. Aku bahkan tak pernah mengenal ia sebelumnya. Pria yang katamu terlalu serius. Kurang bisa diajak bersenang  – senang. Pria yang katanya juga kurang mampu menyeimbangi imajinasimu terlampau tinggi. Tapi ia pria yang katanya sangat tepat untukmu. Dan kamu berjanji akan bahagia.

Entah kamu merasa atau tidak. Betapa sulit melepaskan diri dari kamu. Sama sulitnya seperti saat kita selalu berusaha saling mengikatkan diri satu sama lain. Jika pada kenyatannya ternyata kamu mampu melepas ikatan itu. Mungkin kamu sudah punya apa yang kita sebut keberanian. Lalu kamu meninggalkan aku. Berserakan bersama angan – angan yang sempat lama melambung tinggi.

***

Ini hari pernikahanmu. Hari dimana kamu akan mengenakan gaun terbaik dan pasti akan terlihat sangat cantik. Lalu pria itu akan terus mengukir senyum dan menjadi orang paling bahagia karena mampu meyakinkanmu untuk meninggalkanku lalu memilih bersanding dengannya. Tak peduli aku yang berteriak – teriak kesakitan karena luka itu tepat kamu toreh memanjang pada hatiku. Sakit.

***

Jelas kudengar suara langkah kaki mendekat. Samar kulihat kamu datang dan memandang iba padaku. Kamu benar – benar cantik.

Lalu aku melihatmu memalingkan muka. Kamu tersenyum. Meski matamu tak pernah sangup menyembunyikan kesedihan. Sesaat kamu membalikkan badan. Kemudian menjauh. Berlalu.

 

 

Saat menjelang hari-hari bahagiamu

Aku memilih tuk diam dalam sepiku

Saat mereka tertawa di atas perihku

Tentang cintaku yang telah pergi tinggalkanku…

(Glen Fredly – Kisah tak berujung)

Pertemuan..

Aku terbangun dengan nafas memburu.. Mimpi yang sama.. Sebuah pertemuan. Aku dan kau. Masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatmu.. Dengan lesung pipit di pipi kirimu, kau tersenyum padaku.. Tanpa kata yang terucap.. Ketika kita sudah saling berhadapan dan aku baru saja hendak mengucapkan sebuah kata.. kau menghilang..

Ya, kau menghilang.. tanpa kata.. tanpa ucapan selamat tinggal..

Ini sudah yang ketiga kalinya selama 3 hari berturut-berturut. Ada apa denganmu Rio? Mengapa harus sekarang..? Mungkinkah ini sebuah pertanda? Entahlah.. aku hanya merasa tak memiliki keistimewaan tentang indra keenam atau hal semacam itu. Ya, aku tak bisa membaca pertanda. Apalagi hanya melalui sebuah mimpi.

Yang pernah kudengar, mimpi itu hanyalah ungkapan pikiran dari alam bawah sadar yang di-repress hingga muncul ke alam mimpi. Benarkah demikian? Benarkah bahwa sebenarnya di alam bawah sadarku aku memikirkanmu? Entahlah Rio.. tapi sejujurnya.. aku memang perlu membicarakan sesuatu denganmu..

***

“..nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda..”

Ah Rio.. aku lelah mencarimu.. lelah menunggumu.. Dan kali ini kuputuskan.. sudah saatnya aku melepasmu..

***

Aku menatap wajah haru ibu dan ayahku, wajah bahagia orang-orang yang kucintai.. Wajah penuh keteduhan pria bermata coklat yang kini menyematkan cincin berlapis emas putih pada jari manisku. Dan aku mencium hormat tangannya. Hari ini, ia resmi menjadi imamku..

***

Seorang pria berjalan perlahan.. langkahnya terhenti saat ia memandang takjub gadis cantik di hadapannya..

Lirih suaranya terdengar..

“..kamu cantik sekali hari ini Nadia, kamu sungguh memukau….


Pria berlesung pipit itu berjalan gontai memasuki sebuah gedung pernikahan.. sebuah nama terukir pada sebuah souvenir cantik dalam genggaman tangannya.. Pernikahan Nadia dan Bayu.. 27 Nopember 2010..

 

..akhirnya kau datang Rio.. Ya.. setelah 2,5 tahun aku menunggumu… Tahukah kau, betapa selama 2,5 tahun itu aku selalu berharap kau akan datang untuk menemuiku dan mengatakan bahwa kau masih mencintaiku..

Maapkan aku Rio.. tapi untuk kali ini..

 


kau datang terlambat..

 

 

…dan ia sangat beruntung memilikimu, Nadia..”